BALAS DENDAM Terindah

BALAS DENDAM Terindah
98. Ayah Sekaligus Ibu


__ADS_3

Suara deheman yang keluar dari mulut Anton menghentikan langkah Risa yang ingin keluar dari ruang kerja Anton. Lalu Risa membalik tubuhnya untuk menatap Anton atasannya tersebut dan melangkahkan kakinya mendekat kembali ke meja kerjanya.


"Ada yang bisa aku bantu lagi pak? Apa laporan yang aku berikan ada yang salah?" tanya Risa untuk memastikan jika laporan yang baru saja dirinya berikan pada Anton, sudah sesuai dengan permintaanya.


"Sekarang jam berapa?" tanya balik Anton tanpa menjawab pertanyaan Risa.


Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Risa, dan tatapan matanya langsung tertuju pada jam dinding yang ada di belakang tubuh Anton yang terus menatapnya, membuat Risa begitu risih.


"Sekarang pukul dua belas kurang sepuluh menit,"


"Bagus, sekarang kamu ikut aku makan siang,"


"Maaf Pak, aku tidak bisa,"


"Kenapa?" tanya Anton dan beranjak dari duduknya.


"Aku ada janji dengan orang lain,"


"Siapa?"


"Maaf pak itu masalah pribadi,"


"Oke aku tahu," sambung Anton penuh dengan kekecewaan, pasalnya selama hampir tiga bulan Risa menjadi sekretarisnya, jangankan untuk makan siang bersama, sekedar bercakap cakap saja tidak pernah, kecuali dalam pekerjaannya.


"Baiklah sekarang aku pergi dulu pak,"


"Nanti dulu," sambung Anton mengurungkan niat Risa yang akan meninggalkan ruang kerja Anton.


"Iya ada apa?"

__ADS_1


"Tolong jangan panggil pak, aku sudah berulang kali mengatakan padamu panggil saja Mas,"


"Maaf aku–


"Siap mas, siomay nya dua porsi ya mas," sambung seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja Anton, dan memotong perkataan Risa.


Dan Risa yang tidak asing lagi dengan suara tersebut langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Bima, sedang apa kamu di sini?"


"Tentu saja ingin mengajakmu makan siang," jawab Bima dan mendekati Risa.


Mendengar jawaban Bima, membuat Anton menautkan kedua alisnya sambil menatap Risa dan juga Bima bergantian. "Apa yang di katakan Risa jika dia sudah ada janji dengan orang lain, orangnya adalah Bima? Ya Tuhan kenapa aku tidak ikhlas jika Risa lebih memilih Bima di banding aku," gumam Anton.


Risa menoleh pada Bima yang berdiri di sampingnya, dan senyum terukir dari ke dua sudut bibirnya. Membuat Bima balas tersenyum, dan hatinya yakin, jika hari ini Risa tidak akan menolak lagi untuk makan siang bersama, mengingat kembali jika dirinya selalu datang ke kantor di mana Risa bekerja dan selalu mengajaknya untuk makan siang bersama, tapi Risa selalu menolak untuk makan siang bersama dengan berbagai alasan.


"Maaf Bima, aku sudah ada janji dengan orang lain, dan maaf aku permisi," ujar Risa lalu dengan segera keluar dari ruang kerja Anton.


"Sabar, Risa hanya di takdirnya untukku,"


"Jangan sok pede, aku tahu Risa juga tidak pernah makan siang bersamamu, ngaku saja,"


"Kenapa kamu tahu?"


"Sudahlah, aku ingin tahu Risa ada janji dengan siapa," ujar Bima dan keluar dari ruang kerja Anton.


"Aku juga penasaran," sambung Anton dan langsung mengikuti Bima dari belakang.


*

__ADS_1


*


*


Risa menghabiskan makan siang dengan lahapnya, tidak menyadari jika pria yang mengajaknya makan siang yang sekarang sedang duduk di hadapannya, terus menatap Risa.


"Bagaimana keadaan Nana, apa batuknya sudah sembuh,"


"Syukurlah semua sudah kembali normal, ngomong-ngomong terima kasih karena kamu sudah mengajakku untuk makan siang, dan aku terhindar dari ke dua pria itu,"


"Risa, Risa mereka tulus mencintaimu, kamu tinggal pilih salah satu, sudah kan beres, jangan terus menghindar seperti ini,'


"Tapi aku tidak ingin memilih di antara keduanya, karena aku tidak ada rasa sedikitpun pada mereka,"


"Rasa nanti akan tumbuh dengan sendirinya dengan berjalannya waktu, yang terpenting kamu tahu sendiri betapa besar cintanya mereka padamu, atau jangan-jangan kamu masih berharap pada Hendri mantan suami kamu?"


"Kenapa kamu berkata seperti itu kita sudah mengenal lama, kamu tahu aku tidak mudah menerima seseorang dalam hidupku,"


"Iya aku tahu, tapi Nana membutuhkan seorang ayah di sampingnya, apa kamu tidak kasihan dengan putrimu?"


"Aku bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuk Nana, jadi Nana tidak akan kekurangan kasih sayang,"


"Itu tidak sama Risa,"


"Bagiku sama, sudah titik jangan di bahasa lagi!" ujar Risa pada pria yang ada di hadapannya, pria yang sudah menjadi sahabatnya sejak lama saat keduanya masih duduk di bangku sekolah menengah atas, dan keduanya baru bertemu lagi saat keduanya tidak sengaja bertemu di rumah sakit.


"Kalau aku yang jadi ayah Nana bagaimana?"


"David!!!!!"

__ADS_1


"Iya maaf, aku hanya bercanda Risa."


Bersambung...............


__ADS_2