BALAS DENDAM Terindah

BALAS DENDAM Terindah
50. Mencontoh


__ADS_3

"Doni, apa kamu sudah gila! Bisa bisanya kamu memberikan dengan percuma perusahaan pada menantu mandul mu itu, aku yakin dia mengarang cerita jika Harza telah Berselingkuh, agar kamu kasihan kepada anak sahabatmu itu dan memberikan satu satunya aset yang kamu miliki. Doni, Doni aku tidak habis pikir, bagaiman dengan nasib kedua putra mu, aku yakin kamu benar-benar gila!" ucap mama Nisa menyindir sang suami, ketika keduanya sedang menyantap sarapan di meja makan.


Papa Doni menghentikan sarapannya, lalu menaruh sendok dan juga garpu yang ada di tangan nya dengan kasar hingga beradu dengan piring yang ada di hadapannya, kemudian papa Doni menoleh ke sebelah kanan di mana istri sedang duduk.


"Sudah belum bicaranya?"


"Don–


"Diam dan jangan bicara lagi, karena aku memang sudah gila karena telah menikahi mu, dan aku baru tahu apa yang telah kamu lakukan kepada Risa!" ujar papa Doni lalu beranjak dari duduknya dan ingin meninggalkan meja makan sebelum mama Nisa menghentikan langkahnya.


"Apa yang kamu katakan?"


Mendengar perkataan sang istri, papa Doni membalik tumbuhnya dan menatap istrinya.


"Kamu masih bertanya setelah apa yang kamu lakukan kepada Risa, aku sudah menyuruh kamu untuk mendidik putra mu, tapi apa tidak ada satu pun putra mu yang dapat di banggakan,"


"Meraka juga putra mu Doni,"


"Apa kamu tidak salah mengatakan itu?"


"Oke, Hendri memang bukan anak kandung mu, tapi Harza anak kandung mu Doni, dan kamu tega pada anak kandung mu sendiri tanpa memberikan apa pun padanya?"


Papa Doni tidak menjawab pertanyaan sang istri, karena dirinya langsung membalik badannya dan berjalan menjauh dari istrinya yang begitu kesal.

__ADS_1


"Sial! Percuma aku menikahi mu bila sepeser pun aku tidak dapat menikmati kekayaanmu, awas saja apa yang akan aku lakukan," gumam mama Nisa sambil menatap sang suami yang sudah jauh meninggalkan dirinya, dan tatapan matanya langsung beralih menatap pintu rumah yang di buka dengan kencang oleh seseorang.


"Ma, di mana papa?" tanya Harza yang baru saja datang dengan terburu buru tepat di depan pintu.


"Sayang–


"Ma, nanti saja kita bicara aku ingin bertemu dengan papa,"


"Percuma kamu mencari papa mu, dia akan tetap dengan pendiriannya, kamu tahu istrimu itu menantu kesayangannya, tidak akan bisa membujuknya, mending kita bicara empat mata dan buat rencana dengan mama,"


Tapi Harza tidak memperdulikan apa yang di katakan oleh mama Nisa, karena dirinya langsung berlari menuju kamar papa Doni.


Setelah sampai di depan kamar papa Doni, Harza membuka pintu dengan kencang, dan papa Doni yang sedang duduk di ruang kerjanya tersenyum sinis, karena dirinya sudah yakin pasti Harza akan secepat mungkin mendatanginya.


"Pa," panggil Harza saat sudah di depan meja kerja papa Doni.


Papa Doni beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati sang putra.


Plak! Plak!


Tamparan mendarat di kedua pipi Harza yang di layangkan oleh papa Doni.


"Pa, apa yang papa lakukan, harusnya papa lakukan ini kepada menantu kesayangan papa, yang sudah jelas-jelas menghabiskan malam dengan pria lain,"

__ADS_1


Plak!


Tamparan mendaratkan di pipi Harza kembali dan membuatnya langsung memegangi pipi nya.


"Kenapa memang jika dia menghabiskan malam dengan pria lain? Apa dia salah? Tentu saja tidak, dia mencontoh apa yang di ajarkan oleh suaminya,"


"Apa yang papa katakan, apa–


"Diam kamu Harza! Sejak kapan kau mengkhianati Sela?" tanya papa Doni memotong perkataan putranya.


"Apa yang pa–


Plak!


Lagi-lagi papa Doni menampar pipi Harza dan tamparan yang baru saja dirinya layangkan adalah tamparan terkeras dari sebelumnya.


"Mbok Ijah yang sekarang sedang terbaring di rumah sakit atas ulah kamu dan juga wanita selingkuhan mu yang coba meracuninya, seperti kalian meracuni Hendri sudah menceritakan semuanya, kamera CCTV yang papa pasang di rumah kamu dan juga orang suruhan papa, sudah membuktikan jika kamu benar-benar telah mempermainkan Sela dan mengkhianatinya, jadi wajar jika istrimu meniru apa yang kamu lakukan,"


Mendengar perkataan papa Doni membuat Harza benar-benar tidak ada pilihan lain, karena papa Doni sudah mengetahui semuanya.


Dan tanpa pikir panjang Harza langsung bersimpuh di depan papa Doni dan langsung memeluk kakinya.


"Pa, maafkan aku, aku khilaf dan aku–

__ADS_1


Belum juga Harza meneruskan perkataannya, papa Doni menendang bahu Harza hingga jatuh terjengkang, bertepatan dengan mama Nisa yang baru masuk dan langsung menolong putranya.


Bersambung........................


__ADS_2