
"Sayang kamu belum tidur? Dan kenapa kamu berada di ruang tamu?" tanya mama Leni saat dirinya baru keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum. Kemudian melihat sang putra yang sedang mondar mandir diruang tamu.
"Mama juga belum tidur,"
"Siapa bilang?"
"Buktinya mama ada di sini sekarang bersamaku kan?"
"Bisa saja anak mama satu ini," ujar mama Leni ketika sudah menghampiri Kai dan memukul bahunya. "Ada apa sayang? Kamu terlihat cemas begitu?"
"Entahlah Ma, malam ini perasaanku tidak enak, entah kenapa," jawab Kai dan duduk di samping sang mama yang sudah duduk di sofa.
"Jangan bilang kamu memikirkan Sela lagi, kamu dosa dengan memikirkan istri orang lain sayang,"
"Aku akan lebih berdosa melihat wanita dikhianati oleh suaminya sendiri Ma, dan aku tidak ingin melihat Sela bersedih,"
"Terus, apa yang akan kamu lakukan sayang,"
"Entahlah Ma, aku bingung. Mama tahu sendiri seminggu lagi aku harus pergi ke Jerman untuk mengurus perusahaan yang berada di sana. Apa aku boleh minta bantuan mama?"
"Bantuan apa sayang?"
"Jaga Sela untukku Ma, mungkin ini salah, tapi entah mengapa ada firasat buruk yang akan menimpa Sela, saat aku tidak berada di sini,"
"Kamu berpikir terlalu jauh sayang,"
"Aku tidak bercanda Ma," Kai menatap sang mama dengan raut wajah yang begitu kuatir.
__ADS_1
"Baik sayang, mama akan menjaga Sela untukku, dan buang pikiran negatifmu jauh-jauh," ujar mama Leni sambil menepuk punggung Kai.
"Terima kasih Ma,"
"Sama-sama sayang."
*
*
*
Sela langsung beranjak dari tempatnya dengan antusias saat dirinya yakin sang suami pasti kembali, Sela lalu mengerutkan kedua alisnya pasalnya mobil yang terparkir di halaman rumahnya bukanlah mobil sang suami, melainkan mobil kakak iparnya Hendri.
"Mas Hendri,"
"Berhenti Mas!"
"Kenapa Sela?"
"Pulanglah. Mas Hendri!" teriak Sela saat Hendri menarik tangannya.
"Aku tahu kamu sedang bersedih adikku, dan aku datang kemari untuk menghiburmu," ujar Hendri.
"Mas Hendri lepaskan!" Sela sekuat tenaga melepas genggaman tangan Hendri, tapi dirinya kalah kuat. "Mas apa yang Mas Hendri lakukan, aku mohon lepaskan tanganku," pinta Sela saat Hendri menarik Sela masuk ke dalam rumah.
"Aku sudah bilang padamu, aku akan menghiburmu Sela. Percuma kamu menangisi Harza, yang jelas-jelas sudah meninggalkan kamu seperti ini. Lebih baik kita membuat kesenangan kita sendiri. Asal kamu tahu, Harza diluar sana juga sedang bersenang senang dengan wanita lain,"
__ADS_1
Plak
Sela menampar pipi Hendri dengan kencang menggunakan tangan kirinya, saat tangan kanannya masih di cekal oleh Hendri.
"Jaga bicara kamu Mas, itu tidak akan pernah terjadi,"
"Ya ampun Sela. Aku harus menjelaskan dengan cara apalagi agar kamu percaya, Harza itu–
" Aku tidak ingin mendengar kebohongan dari mulutmu mas," sahut Sela memotong perkataan Hendri.
"Bohong kamu bilang, kalau aku bohong tidak mungkin dia meninggalkan kamu dengan keadaan seperti ini,"
"Kita hanya sedang salah paham," ujar Sela dan Hendri langsung tertawa kencang.
"Sela, Sela, aku suka kepolosan kamu ini, apalagi kepolosan kamu saat di atas ranjang, yang selalu Harza ceritakan padaku,"
"Mas Hendri!"
"Kenapa," jawab Hendri dan menahan tangan kiri Sela yang akan menampar dirinya kembali. "Sudahlah Sela, kamu lupakan saja Harza setidaknya untuk malam ini saja, dan bersenang senanglah denganku,"
"Lepaskan aku mas!" teriak Sela sambil memberontak saat tiba-tiba Hendri memeluk tubuhnya. Tapi semakin Sela memberontak semakin erat pula Hendri memeluk tubuh adik iparnya tersebut. Dan Hendri langsung mendorong tubuh Sela hingga Sela terjatuh di atas sofa ruang tamunya.
"Dan kita mulai kesenangan kita sayang," ujar Hendri dengan tersenyum puas kemudian mendorong tubuh Sela kembali, saat Sela ingin beranjak dari sofa. "Ayolah sayang,"
Bugh
Sela menendang tubuh Hendri dan langsung beranjak dari sofa, tapi saat dirinya akan pergi Hendri memeluknya dari belakang, dan bertepatan dengan pintu dibuka seseorang dari luar rumah.
__ADS_1
Bersambung....................