
"Tapi Mas aku–
"Aku tahu kamu tidak mencintaiku Sela, karena hati tidak bisa di paksakan, tapi aku akan memperjuangkan cintaku ini, aku tidak ingin kamu terus bersama Harza yang hanya akan melukai hatimu," sambung Hendri memotong perkataan Sela. "Dan untuk Risa, dari dulu aku tidak sama sekali mencintainya, kamu tahu sendiri kami menikah karena perjodohan dan aku akan menceraikan dia,"
"Dasar breng sek tidak mencintainya tapi bisa memiliki anak, ba ji ngan kamu Hendri," gumam Sela lalu beranjak dari duduknya dan melepas tangannya yang masih di genggam oleh Hendri. "Kalau bukan demi balas dendam pasti aku sudah menyiram wajahmu dengan air keras Hendri! Kamu dan Harza sama-sama ba ji ngan, dan aku berjanji tidak lama lagi kalian akan akan membayar apa yang telah kalian lakukan," gumam Sela lagi dan melangkahkan kakinya ingin keluar dari kafe tersebut saat emosinya tidak bisa di kontrol.
Tapi dengan segera Hendri mencekal tangan Sela dan memeluknya dari belakang, Sela yang merasa jijik di sentuh oleh Hendri langsung melepas pelukannya.
"Maaf Sela, aku–
"Tidak masalah Mas, aku ingin pulang ini sudah malam, pasti Mas Harza sudah menunggu,"
"Nanti dulu Sela, aku ingin bertanya padamu,"
"Silahkan Mas,"
"Kamu tidak akan melarang ku untuk mendekati mu dan membuktikan betapa besarnya cintaku padamu kan?"
Sela menggelengkan kepalanya, membuat Hendri begitu bahagia, lalu mempersilahkan Sela untuk keluar kafe terlebih dahulu.
"Akhirnya, aku bisa mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku adikku tercinta," batin Hendri.
*
*
__ADS_1
*
Tepat pukul delapan malam Hendri memarkirkan mobilnya di halaman rumah Sela, dan Hendri turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu mobil di mana Sela duduk.
Harza yang kebetulan keluar dari rumah saat mendengar sebuah mobil di halaman rumahnya, menaikan kedua alisnya menatap sang istri turun dari mobil sambil menggenggam tangan Hendri.
Lalu Harza melangkahkan kakinya menuju halaman rumah di mana mobil Hendri terparkir, saat dirinya merasa tidak suka dengan pemandangan yang di lihatnya. Harza segara menarik tangan Sela saat sudah mendekati keduanya.
"Sela, apa yang kamu lakukan?"
"Aku tidak melakukan apa pun Mas, memang aku melakukan apa?"
"Kenapa kamu menggenggam tangan Hendri?"
"Sela masuk!"
Sela yang mendengar perintah Harza, lalu melepas pelukan tangganya.
"Terima kasih Mas Hendri untuk hari ini," senyum mengembang dari kedua sudut bibir Sela lalu meninggalkan kedua kakak beradik tersebut.
"Dan kehancuran kalian di mulai dari sekarang," gumam Sela ketika sudah berada di depan pintu saat menatap Harza yang begitu emosi.
"Adik kenapa kamu terlihat kesal begitu? Santai saja, bagus bukan kalau aku dekat dengan istrimu, jadi kamu bisa leluasa dengan selingkuh kamu?"
Plak!
__ADS_1
Harza menampar pipi Hendri dengan kencang, tapi Hendri hanya membalasnya dengan senyum.
"Jaga bicaramu Hendri, atas dasar apa kamu menuduh ku berselingkuh, mana buktinya?"
Tanpa berbicara Hendri mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam kantong celananya dan membuka ponsel tersebut, tapi Hendri langsung menautkan kedua alisnya saat jari jarinya terus menggeser galeri foto tapi tidak menemukan foto Harza dan juga selingkuhannya yang tersimpan di galerinya, yang belum lama dirinya ambil di sebuah restoran saat Harza dan selingkuhan nya sedang makan siang dengan begitu romantis.
"Apa kamu yang menghapusnya?"
"Menghapus apa? Karena aku tidak pernah selingkuh seperti apa yang kamu tuduhkan Hendri!"
"Jangan pura-pura,"
"Untuk apa aku–
Plak
Hendri menampar pipi Harza dengan kencang sebelum Harza menyelesaikan ucapannya.
"Meskipun tanpa bukti, tapi aku yakin kamu akan terlempar ke jalanan, karena sebentar lagi Sela akan jatuh ke dalam pelukanku ingat itu!"
"Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"
Senyum terus terukir dari kedua sudut bibir Sela saat dirinya mengintip keduanya dari balik tirai kamarnya, dan mengingat kembali jika dirinya lah yang menghapus foto suaminya dan juga selingkuhannya dari ponsel Hendri.
Bersambung.................
__ADS_1