
Hembusan kasar keluar dari bibir Sela, saat mbok Ijah mengatakan jika papa Doni lah yang datang mengunjungi nya, entah mengapa Sela selalu menjauh dari papa Doni setelah mengetahui kebenaran tentang kematian ke dua orang tuanya, dan dirinya merasa kecewa dengan papa Doni, dan merasa papa Doni menyayanginya bukan dengan tulus, melainkan hanya kasihan.
Sela terakhir bertemu dengan papa Doni dua minggu lalu saat mengadakan rapat di perusahaannya. Itu pun Sela langsung pergi meninggalkan papa Doni, yang ingin menghampiri nya.
Kai menepuk bahu Sela saat keduanya masih berada di dapur.
"Temui lah papa Doni, bagaimana pun dia sangat menyayangimu terlepas dari semua ini,"
"Tapi kai–
"Tidak ada kata tapi Sela, mungkin papa Doni tidak menceritakan dari awal, karena dia tidak ingin kamu bersedih, dan juga punya alasan lain, yang kamu tidak tahu," sambung Kai memotong perkataan Sela, untuk menasehati nya saat Kai tahu apa yang Sela rasakan, karena Sela sudah memberi tahu semuanya apa yang terjadi pada Kai, dan kekecewaannya pada papa Doni.
"Baiklah," ucap singkat Sela lalu berjalan menuju ruang tamu di mana papa Doni susah duduk di sofa dan tersenyum ke arah nya.
Kemudian papa Doni beranjak dari duduknya, dan berjalan menghampiri Sela lalu memeluknya dengan erat, bagaikan seorang ayah yang sangat merindukan putrinya.
"Nak, apa kabarmu, kenapa setiap papa menghubungimu, kamu tidak pernah mengangkat telepon dari papa, papa sangat merindukanmu sayang," ucap papa Doni setelah melepas pelukannya beralih memegang kedua bahu Sela.
__ADS_1
"Ada apa papa ke sini?" tanya Sela tidak menghiraukan pertanyaan papa Doni. Dan papa Doni yang mendengar perkataan Sela, melepas tangannya dan kembali duduk di tempatnya semula, saat merasa kecewa dengan perubahan sikap Sela yang berbeda seratus delapan puluh derajat.
"Papa hanya ingin mengunjungi cucu papa, apa Nana sudah tidur?"
Akhirnya pertanyaan itu yang keluar dari dari bibir pria paruh baya dengan perasaan sesak, padahal dirinya sangat merindukan Sela dan ingin bertemu dengannya.
"Baiklah, aku akan memanggil Risa dan juga Nana," sambung Sela lalu pergi meninggalkan ruang tamu menuju di mana kamar Risa berada.
Kai yang sedari tadi berdiri di samping Sela, menunjukkan senyum ke arah papa Doni setelah Sela meninggalkan ke duanya. Lalu Kai berjalan menuju arah papa Doni dan duduk di sampingnya.
"Maaf Om, atas sikap Sela. Dia masih belum bisa menerima kenyataan yang sebenarnya tentang kematian ke dua orang tuanya,"
"Aku tahu itu Om,"
Mendengar perkataan Kai, papa Doni menoleh ke arah Kai yang duduk di samping nya lalu menepuk bahunya.
"Terima kasih nak, karena sudah menjaga Sela," senyum terukir dari kedua sudut bibir papa Doni.
__ADS_1
"Om tidak perlu mengatakan itu, aku akan menjaga Sela sampai aku tidak bisa lagi bernafas,"
"Sungguh besar cintamu pada Sela, tidak seperti anak papa yang hanya bisa menyakitinya,"
Kai menatap papa Doni sambil menautkan ke dua alisnya mendengar apa yang di katakan nya.
"Papa tahu kamu sangat mencintai Sela, dan papa berdoa semoga Sela segera menyadari betapa besarnya cintamu padanya, dan setelah itu papa berdoa agar kalian segera menikah," ujar papa Doni, lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri Risa dan juga Nana yang datang menghampirinya, tapi tidak dengan Sela yang langsung kembali ke dapur.
Papa Doni begitu bahagia, karena untuk pertama kalinya bisa makan malam bersama di rumah Sela, meskipun Sela begitu dingin padanya. Dan itu tidak masalah baginya, yang terpenting bisa melihat lagi tawa lepas dari Sela, yang sedang bercanda bersama dengan Kai dan juga Risa setelah semuanya selesai menyantap makan malam, tawa yang sangat papa Doni rindukan.
"Sela,"
Semua yang masih berada di meja makan langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Non Sela maaf, Tuan Harza memaksa masuk ke dalam," ucap mbok Ijah merasa tidak enak, karena Harza sekarang sudah berada di ruang makan.
"Usir dia!"
__ADS_1
Bersambung..................