
Menangis, itu yang bisa di lakukan oleh Risa, saat dirinya sudah berada di dalam kamar sang anak, kata-kata yang sudah di susun untuk melawan ibu mertuanya, seakan terkunci saat ada papa Doni. Yang sudah di anggap seperti papa nya sendiri, lalu Risa berjalan menghampiri sang anak berada di atas ranjang.
Risa menatap pintu kamar yang di buka dengan kencang oleh Hendri di ikuti mama Nisa dari belakang.
Hendri berjalan mendekat ke arah Risa begitu pun dengan mama Nisa.
Plak! Plak!
Tamparan mendarat di kedua pipi Risa yang di layangkan oleh Hendri.
"Mas apa–
Belum juga Risa menyelesaikan ucapannya, mama Nisa sudah menarik rambutnya dengan kencang.
"Aku tahu kamu sengaja menjatuhkan nampan dan mengenai ku,"
"Kalau iya kenapa memangnya?"
"Tuh kan Hendri, kamu dengar sendiri apa yang dikatakan wanita kampung ini," ucap mana Nisa dan tangannya masih menarik rambut Risa.
"Baik Ma, lepaskan tangan Mama, dan tinggalkan kami, aku tahu pelajaran apa yang harus aku berikan padanya," perintah Hendri, dan mama Nisa pun segara mengikuti perintah putranya tersebut lalu keluar dari kamar.
Hendri mengeratkan rahangnya dan tatapan tajamnya tertuju ke arah sang istri.
__ADS_1
"Pertama, kamu sudah membohongiku, kedua kamu sudah berbuat kasar kepada mama, kamu tahu apa hukumannya bukan?"
Risa yang tahu jika suami sendang marah, dan tahu apa yang akan dirinya terima, memundurkan langkahnya dan berhenti saat tubuhnya membentur ranjang anaknya yang sedang tertidur.
Hendri menarik tangan Risa dengan kasar lalu menariknya ke arah sofa yang berada di ruangan tersebut dan mendorong tubuh istrinya hingga terjatuh di atas sofa.
Tangan Hendri melepas ikat pinggang yang di kenakannya.
"Lepas pakaianmu!"
"Tidak mau Mas,"
"Lepas!"
"Risa!" bentak Hendri lagi, lalu memukul kedua paha Risa bergantian menggunakan ikat pinggang yang berada di tangan kanannya. Kemudian Hendri berjalan mendekati sang istri yang sedang menangis sambil memegangi kedua pahanya.
Hendri memegang dagu istrinya dan mengangkat nya untuk menghadap ke arahnya.
"Sekali lagi menolak bukan lagi paha kamu yang akan mendapat pukulan dari ikat pinggang ku, tapi juga ini!" bentak Hendri dan satu tangannya meremas gunung kembar istrinya dan menekannya dengan kencang, membuat Risa langsung memejamkan matanya untuk menahan sakit. "Sekarang lepas pakaian mu!"
Risa membuka matanya lalu menampik tangan Hendri yang masih mencengkam dagunya.
"Aku tidak mau, cukup sudah kamu menjadikan aku budak naf sumu Hendri!"
__ADS_1
"Oh oh oh berani sekali dirimu, membentak ku, apa kamu lupa kamu siapa?"
"Tidak, aku tidak pernah lupa, ayahku hanya lah supir dari keluargamu, dan ibuku juga hanya seorang asisten rumah tangga di sini di rumahmu, sebelum mereka meninggal dunia, dan aku di besarkan di pemukiman kumuh, sebelum papa Doni membawaku ke sini menjadikan aku sebagai menantunya, aku tahu persis siapa aku Hendri!"
"Bagus kalau kamu sadar, sekarang lepas pakaian mu, atau aku akan mengirim mu ke mana tempat kamu berasal,"
"Kirim saja, aku tidak peduli, aku bosan hidup dalam ke pura puraan, dan selalu menunjukkan kebahagian palsu di depan papa, dan aku jengah atas perilakumu pada ku, aku bukan bintang Hendri! Aku manusia biasa yang ingin di cintai dan juga di sayangi oleh pasangan, bukan hanya di jadikan pelampiasan naf sumu saja!"
Mendengar perkataan Risa, Hendri menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya, lalu menarik paksa pakaian yang di gunakan istrinya hingga robek. Dan sebisa mungkin Risa melawan suaminya tersebut.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Risa, yang di layangkan Hendri yang sekarang sudah mengungkungnya.
"Oh berani melawan, pintar sekali, siapa yang mengajarimu!"
Tanpa merespon perkataan suaminya, Risa mendorong tubuh Hendri dengan sekuat tenaga, membuat Hendri jatuh terjengkang, dan Risa segara beranjak dari tempatnya.
Tapi Hendri segera beranjak dari tempatnya dan menarik tangan Risa dan mendorongnya hingga membentur tembok.
"Aku suka mendapat perlawanan seperti ini Risa! Dan aku lebih bergairah," ucap Hendri dengan tersenyum sinis. "Apa ada yang ingin kamu katakan sebelum aku memulai oleh raga pagi ku?"
"Ada Hendri!" teriak Risa, lalu menendang junior Hendri dengan kencang menggunakan lututnya, hingga Hendri yang merasakan sakit luar biasa menjatuhkan lututnya dan mengerang kesakitan sambil memegangi juniornya. "Jangan lagi menyentuhku!" tegas Risa lalu berjalan menghampiri putrinya dan menggendong nya kemudian menoleh ke arah suaminya sebelum meninggalkannya.
__ADS_1
Bersambung........................