
"Sial!" umpat Kai penuh dengan kekesalan saat berada di dalam mobil anak buah Bima, pasalnya mobil yang di kendarai anak buah Bima tidak dapat mengejar mobil yang membawa Sela pergi. "Aku kecewa pada kalian, kalian di bayaran untuk menjaga Sela, tapi kalian malah teledor seperti ini, dan membahayakan nyawanya! Aku tidak ingin tahu, cepat cari keberadaan sela!"
"Maaf Tuan, tapi Tuan tenang saja, kami sudah berpencar dan mobil satunya pasti sudah mengetahui keberadaan nona," jelas salah satu anak buah Bima, untuk menenangkan Kai yang terlihat begitu cemas.
"Coba kamu hubungi mereka!"
Tanpa berfikir lagi salah satu anak buah Bima menghubungi rekannya.
"Bagaimana? Di mana Sela?"
"Maaf Tuan. Meraka tidak bisa di hubungi,"
Bugh!
Kai yang duduk tepat di belakang bangku pengemudi, menendang bangku di depannya dengan kencang.
"Bima!!!!!!!"
*
*
*
Sela terus memberontak saat dua orang yang di samping kanan dan kirinya membawa paksa untuk masuk ke sebuah rumah kosong yang terletak di tengah hutan jauh dari perkotaan.
"Lepaskan!" teriak Sela, tapi tidak di hiraukan oleh kedua orang tersebut, yang mengikuti perintah bos nya yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah kosong.
__ADS_1
Plak!
Tamparan mendarat di pipi kanan Sela, saat Sela sudah di dudukkan di sebuah kursi dengan tangan di ikat kebelakang sandaran kursi yang di duduki nya.
Sela yang mendapat tamparan langsung menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya dan menatap seseorang yang berdiri di hadapannya sambil bertolak pinggang.
"Mama Nisa yang sangat cantik, tampar lah aku, pukul juga tidak masalah, atau Mama ingin membunuhku? Silahkan saja. Tapi asal mama ingat Mama tidak akan mendapatkan apa pun yang Mama incar dari ku. Ingat itu baik-baik Mama Nisa tercinta," ujar Sela tahu apa yang Mama Nisa inginkan darinya.
Dan Sela yang sudah mengira ini akan terjadi padanya, saat Mama Nisa benar-benar di tendang oleh papa doni dari rumah tanpa mendapat sepeser hartanya, hanya bisa tersenyum pada wanita paruh baya yang ada di hadapannya.
Plak!
Tamparan kembali mendarat di pipi Sela yang di layangkan oleh mama Nisa.
"Sebelum aku membunuhmu, lebih baik baku menyiksamu, menantuku tercinta," ucap mama Nisa yang mendekat ke arah Sela, lalu menarik rambutnya dengan kencang.
"Jangan banyak bicara! Ini semua juga karena mu sialan! Dan sebelum kamu menyatu dengan tanah kamu harus memberikan perusahaan itu padaku,"
"Ambil saja," ucap Sela dengan entengnya.
"Bagus, jika kamu sadar kalau perusahaan itu bukan hak mu!"
Mama Nisa mengeluarkan selembaran kertas dari tas yang di bawanya lalu berjongkok di hadapan Sela, yang masih berada di atas lantai.
Bugh!
Sela menendang tubuh mama Nisa dengan kencang menggunakan kakinya hingga mana Nisa jatuh terjengkang.
__ADS_1
Anak buah mana Nisa yang melihat kejadian itu, dengan segera membantu mama Nisa untuk berdiri.
"Ikat kaki dia!" perintah mama Nisa pada anak buahnya untuk mengikat kaki Sela.
Plak!
"Kurang ajar kamu ya," ucap mama Nisa setelah menampar Sela, saat Sela sudah di dudukkan kembali di kursi dengan kaki yang sudah di ikat. "Apa kamu ingin cepat menemui ajal mu? Tidak semudah itu Arsela Maharani!"
"Aku tahu apa yang mama inginkan. Mama ingin aku menandatangani kertas yang ada di tangan mama bukan?"
"Owh ternyata kamu peka juga, bagus itu, dan sekarang tanda tangani ini!" perintah mama Nisa dan menyodorkan kertas yang ada di tangannya ke hadapan Sela.
"Aduh Mama Nisa ini yah, bagaimana aku menandatangani kertas itu, kalau tangan aku ini masih di ikat di belakang begini, lepaskan tanganku dan aku akan menandatangani itu,"
Tanpa pikir panjang mama Nisa menyuruh anak buahnya untuk melepas ikatan di tangan Sela.
"Kakinya juga dong," ucap Sela.
"Bos?"
"Lepas saja,"
"Baik bos,"
Anak buah mama Nisa dengan segera melepas ikatan yang ada di kaki Sela. Sela yang sudah terbebas langsung beranjak dari duduknya lalu menendang tubuh mama Nisa yang ada di hadapannya hingga jatuh tersungkur, kemudian segera berlari menuju ke arah pintu.
Dor! Dor!
__ADS_1
Bersambung...............