
"Jess, apa Sela masih terlihat kesal?" tanya Kai pada Jessica yang sedang berdansa dengannya, yang tak lain dan tak bukan adalah sahabat Kai sejak lama, saat dirinya menetap di Jerman.
"Memang apa yang kamu lakukan padanya? Kamu tinggal nyatakan cintamu padanya beres bukan, jangan seperti ini, macam anak kecil saja,"
"Aku sudah berapa kali mengatakan padanya, tapi tetap saja dia tidak peka, aku bingung harus mengungkapkan perasaan ku dengan cara apa lagi Jess," keluh Kai dan terus berdansa mengikuti alunan lagu.
"Aku punya ide,"
"Ide apa Jess?" tanya Kai dengan begitu antusias.
"Bagaimana jika kamu menyatakan perasaanmu sekarang di sini, dan di saksikan semua kolega kita, siapa tahu Sela akan menyadari betapa besarnya cintamu padanya, saat kamu dengan berani mengatakannya di hadapan semua kolega kita,"
Mendengar usul dari Jessica, Kai menghentikan dansa nya lalu berfikir sebentar.
"Tapi bagaimana jika aku di tolak?"
"Ya ampun Kai, kamu saja belum mengatakan perasaanmu, masa kamu sudah takut di tolak, nih aku kasih tahu pada mu, katakan selagi ada kesempatan, jangan sampai kesempatan itu hilang, dan kamu akan menyesal seumur hidup, kalau pun kamu di tolak, berarti ada yang Sela tidak suka dirimu, dan dari situ kamu bisa belajar dan memperbaiki diri kamu agar di sukai oleh Sela,"
Mendengar nasehat Jessica, Kai memejamkan matanya untuk berfikir.
"Jangan banyak berfikir, ikuti saran ku,"
__ADS_1
"Oke aku ikuti saran mu," ujar Kai setelah membuka matanya. "Apa Sela masih menatapku?"
Jessica yang mendengar pertanyaan Kai, langsung mengedarkan pandangannya ke arah meja di mana tadi Sela dan Kai berada.
"Kai, kok Sela tidak ada di tempatnya,"
"Apa!"
Kai dengan segera membalik tubuhnya dan melihat kursi yang tadi di duduki Sela sudah kosong.
"Mungkin dia sedang ke kamar kecil Kai," ucap Jessica tapi tidak di hiraukan oleh Kai, yang berlari menuju ke arah toilet dengan terburu buru.
Kai yang sudah berada di depan toilet wanita terus berjalan mondar mandir untuk menunggu Sela keluar, dan akhirnya Kai memberanikan diri untuk masuk ke dalam toilet wanita saat dirinya sudah menunggu hampir sepuluh menit, tapi Sela belum juga keluar, apa lagi saat perasaannya entah mengapa tidak tenang.
"Ya ampun Mas, ini toilet wanita kenapa–
Belum juga wanita yang baru saja keluar dari toilet menyelesaikan ucapannya, Kai dengan terburu buru keluar dari toilet tersebut, dan kembali lagi ke tempat pertemuan.
"Kai, ada apa denganmu?" tanya Jessica saat melihat raut wajah kecemasan dari sahabatnya tersebut.
"Sela tidak ada di toilet," jawab Kai lalu menghubungi ponsel Sela. Dan Kai menghembuskan nafasnya kasar, saat ponsel Sela ternyata masih tergeletak di atas meja di mana tadi dirinya berada.
__ADS_1
"Ya ampun Jess, kemana Sela?"
Belum juga Jessica menjawab pertanyaan Kai, dua orang dengan tubuh kekar menghampiri Kai, dan membisikkan sesuatu di telinga Kai.
Lalu Kai berpamitan pada Jessica, dan menyuruhnya untuk menggantikan dirinya memberi sambutan penutup pertemuan tersebut, lalu Kai dengan segera berlari keluar acara dengan terburu buru, di ikuti ke dua pria yang tak lain dan tak bukan anak buah Bima.
Sela dengan susah payah membuka matanya, saat merasakan pusing yang luar biasa di kepalanya.
"Aku di mana?" tanya Sela dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali.
Lalu Sela mengingat kembali, terakhir kali dirinya berada di acara pertemuan, dan dirinya terakhir meminum minuman yang di berikan pria yang berdansa dengannya dan setelah itu, dirinya tidak bisa mengingat apa pun lagi.
Setelah mata Sela terbuka sempurna, alangkah terkejutnya saat dirinya berada di dalam mobil.
"Siapa kalian?" tanya Sela saat tubuhnya di himpit dua orang pria di kanan dan kirinya, dan Sela ingat persis salah satu dari mereka adalah pria yang mengajaknya berdansa.
"Lepaskan aku!" teriak sela, saat kedua tangannya di ikat.
"Bos, dia tidak bisa diam,"
"Sumpal saja mulutnya!" perintah seseorang yang duduk di sebelah bangku pengemudi.
__ADS_1
"Kamu?" tanya Sela saat menyadari siapa orang tersebut.
Bersambung............................