
"Siapa kamu?" tanya Sela pada wanita yang ada di depannya, yang menggunakan celana kulot tiga perempat dengan warna hitam dan tidak lupa mengunakan sendal jepit di kedua kalinya.
Mata Sela tertuju pada kemeja panjang warna coklat dengan aksen bunga yang begitu meriah, yang di gunakan wanita tersebut, dengan rambut yang di kepang dua dan tak lupa kacamata tebal dan hitam yang di gunakan nya, lalu padangan Sela tertuju pada tas jinjing besar yang terdapat di sebelah kanannya.
"Aku Nia Nona, aku dari yayasan penyalur asisten rumah tangga, aku ditugaskan untuk menjadi asisten rumah tangga di sini,"
"Maaf mungkin anda salah alamat,"
"Tapi benar Nona, ini alamat yang ibu ketua berikan kepadaku," ujar wanita tersebut sambil menyodorkan selembar surat ke hadapan Sela. Dan tanpa pikir panjang, Sela langsung meraih lembaran tersebut lalu membacanya.
Dan benar saja, alamat yang tercantum di surat pengantar dari sebuah yayasan, memanglah alamat rumahnya.
Lalu Sela memanggil mbok Ijah untuk mendekat ke arahnya.
"Ada apa Nona?"
"Apa Mas Harza mengatakan sesuatu pada mbok Ijah sebelum berangkat kerja tadi pagi?"
Mbok Ijah berfikir sejenak lalu menatap wanita yang masih berada di depan pintu.
"Ya ampun Nona, saya hampir saja lupa, benar Tuan tadi pagi mengatakan kepada saya jika akan ada asisten rumah tangga baru, katanya khusus membersihkan rumah, agar Nona tidak perlu ikut membersihkan rumah ini,"
"Oh begitu, baiklah antarkan dia ke kamar belakang," perintah Sela sambil menatap wanita yang masih berada di depan pintu yang sedang menundukkan kepalanya.
Sela menghentikan wanita tersebut, yang berjalan mengikuti mbok Ijah dari belakang.
"Iya Nona," ucap wanita tersebut setelah membalik tubuhnya untuk menghadap ke arah Sela.
__ADS_1
"Nama kamu siapa? Dan asal kamu dari mana?"
"Nama saya Nia Nona, aku dari klaten, di surat pengantar yang Nona pegang tertulis lengkap namaku dan juga alamatku," jawab wanita tersebut sambil menunjuk kertas yang ada di tangan Sela menggunakan ibu jarinya.
"Baiklah, kamu boleh masuk," perintah Sela sambil menautkan ke dua alisnya, saat memperhatikan wajah tersebut, ketika Sela merasa pernah melihatnya tapi entah di mana.
"Mungkin aku salah lihat, ah sudahlah lebih baik aku pergi ke toko kueku," ucap Sela dan keluar rumah, saat dirinya tadi memang ingin pergi ke toko kuenya.
"Sela, tidak lama lagi aku yang akan menjadi Nona di rumah ini, dan aku akan mengirim mu ke kolong jembatan," gumam Nia yang sebenarnya adalah Rani, sambil tersenyum sinis melirik ke arah Sela yang keluar dari dalam rumah.
*
*
*
"Masa sih Ma, tadi aku memasukan gula hanya satu sendok teh, seperti biasanya, mungkin lidah Mama yang bermasalah,"
Mama Nisa menatap Risa menantunya sambil menaikan satu alisnya.
"Sejak kapan kamu, berani menjawab pertanyaan ku?" tanya mama Nisa tapi tidak di hiraukan oleh Risa, yang meninggalkan mama Nisa dan berjalan ke arah dapur.
"Risa!!!!!!!!" teriak mama Nisa menghentikan langkah Risa dan membalik tubuhnya ke arah mama Nisa dengan enggang.
"Iya Mama sayang,"
"Aku sedang bertanya padamu, kenapa kamu tidak menjawab, apa kamu tuli,"
__ADS_1
"Tidak,"
"Terus kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan ku?"
"Tadi Mama bilang, sekarang aku berani menjawab pertanyaan Mama, ya sudah mulai sekarang aku tidak akan berani menjawab pertanyaan Mama,"
Mendengar pertanyaan Risa, Mama Nisa beranjak dari duduknya dan mendekati menantunya tersebut.
Byur!
Mama Nisa menyiram teh tepat di wajah Risa sambil tersenyum sinis.
"Menantu tidak tahu diri, seharusnya tempatmu bukan disini, tapi di pemukiman kumuh,"
Brak!
Risa membanting nampan yang berada di tangannya tepat di depan kaki mama Nisa dan sedikit mengenainya, nampan yang tadi di gunakan untuk membawa teh mama Nisa. Bertepatan dengan pintu kamar papa Doni yang terbuka, dan memperlihatkan papa Doni yang baru saja keluar dari dalam kamar.
Kemudian papa Doni menghampiri ke duanya saat merasa ada yang tidak beres.
"Nak ada dengan wajah dan baju kamu, dan kenapa ada nampan di lantai?" tanya papa Doni saat sudah menghampiri keduanya.
"Tidak tahu nih menantu papa, membawa nampan saja tidak becus akhirnya tumpah dan mengenai wajahnya sendiri," sambung mama Nisa lalu memeluk lengan sangat suami.
"Apa itu betul nak, kenapa kamu tidak hati-hati?"
Bersambung.........................
__ADS_1