
Sela mengompres perut Kai yang terkena pukulan Harza dengan telaten, senyum terukir dari kedua sudut bibir Kai, sambil menatap lekat wajah Sela yang duduk di pinggiran sofa ruang tamu di mana dirinya sedang berbaring.
"Apa masih sakit?" tanya Sela dan terus mengompres perut Kai.
"Apa aku pernah mengatakan aku sakit,"
Sela langsung menoleh ke arah Kai, saat mendengar jawabannya.
"Jadi?"
"Hanya di pukul tidak akan membuatku sakit, apa lagi pukulan darinya,"
Sela menaruh kain yang ada di tangannya untuk mengompres perut Kai ke atas meja, lalu melipat ke dua tangannya, dan menatap tajam ke arah Kai, yang sedang tersenyum padanya.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya dari tadi, membuang buang waktuku saja," ucap kesal Sela lalu beranjak dari duduknya.
"Kamu yang memaksa,"
"Karena aku pikir kamu sakit,"
Dan Sela pun ingin meninggalkan Kai, tapi dengan segera Kai mencekal tangannya.
"Mau ke mana?"
"Tidur!"
"Nanti dulu, kamu harus bertanggung jawab,"
__ADS_1
Sela pun langsung melepas tangan Kai dan membalik tubuhnya ke arah Kai.
"Tanggung jawab apa?"
Bukannya menjawab pertanyaan Sela, Kai malah menunjuk kemejanya.
"Kamu yang membuka nya, dan kamu juga yang harus mengancing kemejaku,"
"Tidak mau," ucap Sela dan membalik tubuhnya, belum juga Sela melangkahkan kakinya, Kai menarik tangannya kembali lalu membawa kedalam pelukannya.
"Jangan pernah tinggalkan aku, apa pun alasanmu, aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya, aku mohon padamu, tetaplah bersama denganku, melewati setiap detik bersama sampai kita tua nanti, dan hanya maut yang akan memisahkan kita, dan jika maut itu datang aku meminta pada Tuhan, agar aku terlebih dahulu yang akan meninggalkan dunia ini, sekali lagi aku memohon padamu jangan pernah tinggalkan aku Sela,"
Sela yang mendengar perkataan Kai, tidak membalasnya karena dirinya balik memeluk erat tubuh Kai.
Tidak terasa air mata Sela membasahi pipinya, air mata kebahagiaan karena di cintai oleh Kai, pria yang membuatnya sangat berharga. Tapi dirinya juga merasa tidak enak pada Kai, setelah mendengar perkataan Harza sebelumnya. Dan dirinya merasa tidak pantas di cintai oleh Kai, meskipun perasaan cintanya pada Kai sangat besar.
Sela melepas pelukannya setelah beberapa menit keduanya berpelukan, Kai yang mendapati pipi Sela basah langsung menghapus air matanya.
"Harusnya aku yang meminta maaf padaku, atas perkataan Harza tadi,"
"Untuk apa kamu meminta maaf, aku tidak peduli pada masa lalu kalian, aku mencintaimu dengan tulus, dan tidak pernah memandang statusmu, dan jangan pernah meminta maaf, kamu tidak pernah salah, aku yakin pada takdir Tuhan, karena Tuhan punya rencana sendiri kenapa kita baru di persatu kan saat ini, dan aku ingin menjalani rencana Tuhan ini sebaik mungkin bersama kamu,"
Mendengar perkataan Kai, Sela langsung memeluk Kai kembali.
"Terima kasih," ucap Sela dan terus memeluk tubuh Kai seakan tidak ingin melepasnya.
"Apa kamu akan terus memeluk ku seperti ini?" tanya Kai, lalu dengan segera Sela melepas pelukannya, beralih meraup wajah Kai dan mencium bibirnya.
__ADS_1
Kai tersenyum bahagia setelah Sela melepas tautan bibirnya, meskipun Sela hanya sekilas mencium bibirnya,
lalu Sela memasang kancing kemeja Kai kembali tanpa menatap wajahnya.
"Tatap lah aku dan jangan menunduk, mataku buram jika tidak melihat kesejukan di wajahmu bila kamu menunduk begitu,"
"Kai," ucap Sela dan tersipu malu mendengar rayuan Kai.
"Ya ampun, kenapa tubuhku jadi lemas begini, sepertinya aku kekurangan gula, saat semua manis berpindah ke sini,"
Kai langsung mengusap bibir Sela, karena setiap melihat bibirnya membuatnya begitu candu.
"Kai," Sela menampik tangan Kai, lalu dirinya beranjak dari duduknya. "Sekarang pulanglah,"
"Apa kamu mengusir ku?"
"Tentu," jawab Sela ketus sambil bertolak pinggang.
"Awas saja nanti kalau sudah sah, sedikitpun aku tidak akan mengijinkan kamu keluar dari kamar," ujar Kai lalu mencium bibir Sela singkat.
"Kai!!! teriak Sela tapi tidak di hiraukan oleh Kai yang dengan segera menuju pintu sambil memberikan ciuman jauh.
*
*
*
__ADS_1
"Dasar bodoh!"
Bersambung............................