
Sela yang sudah membuka pintu rumahnya, dan senyum terukir dari kedua sudut bibirnya, ketika dirinya tahu siapa yang datang, kemudian Sela langsung menghambur memeluk Harza sang suami.
"Mas Harza. Aku merindukanmu," ujar Sela lalu mengeratkan pelukannya.
Tapi Harza langsung melepas pelukan sang istri dan langsung masuk ke dalam rumah. Dan Sela yang mendapati suaminya berubah tidak hangat seperti biasanya langsung menyusul sang suami setelah menutup pintu.
"Mas Harza ingin mandi? Biar aku siapkan air hangat," tawar Sela yang sudah menghampiri sang suami yang sudah berada di dalam kamarnya. "Setelah itu, aku siapkan makan malam untuk Mas Harza,"
senyum terus terukir dari bibir Sela, ketika dirinya merindukan sang suami dan suaminya sudah kembali dari luar kota, dan Sela tidak menanyakan apapun lagi, meskipun tadi pagi Harza memberitahunya akan mengundur jadwal kepulangannya.
"Duduklah. Ada yang ingin aku tanyakan padamu," sambung Harza sambil meraih tangan Sela yang akan menuju kamar mandi.
"Apa Mas?" Sela pun mendekat ke arah suaminya. "Apa Mas Harza perlu bantuanku, untuk melepas pakaian mas Harza. Kalau begitu baiklah,"
"Sela!!!" bentak Harza, Sela yang akan membantu melepas kancing kemaja yang suaminya kenakan langsung terkejut dan menatap ke arah suaminya, pasalnya selama menjadi istri Harza, suaminya tersebut tidak pernah sekalipun membentak dirinya.
"Kenapa Mas Harza membentakku? Apa aku salah Mas? Aku hanya ingin membantu Mas Harza,"
"Kamu pikir saja sendiri,"
__ADS_1
"Ada apa dengan Mas Harza?" tanya Sela dengan air mata yang sudah mulai membendung di pelupuk matanya.
"Harusnya aku yang bertanya padamu seperti itu Sela! Apa benar, seorang istri yang sudah memiliki suami bisa seenaknya saja, pergi dengan pria lain tanpa memberi tahu suaminya. Kamu menganggapku apa Sela?"
"Apa maksud Mas Harza?"
"Kamu masih bertanya padaku seperti itu? Aku sungguh kecewa padamu," ujar Harza kemudian mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam kantong celana, dan menunjukan foto Sela dengan Kai, yang dirinya ambil diam-diam siang tadi. "Jelaskan ini siapa? Dan ada urusan apa kamu dengannya?"
Sela langsung menatap sang suami dan meraih telapak tanganya.
"Dia–
"Kenapa Mas Harza berkata seperti itu?"
"Terus aku harus berkata apa? Mana mungkin seorang wanita yang sudah memiliki suami makan siang dengan seorang pria dan begitu intens seperti ini Sela," ucap kesal Harza sambil menunjuk foto yang berada di ponsel miliknya.
"Aku bisa menjelaskan padamu Mas, dan itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan Mas,"
"Sudahlah Sela, aku tidak butuh penjelasan. Karena aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri,"
__ADS_1
"Mas aku mohon, dengarkan penjelasanku terlebih dahulu, aku dan dia–
" Stop Sela,"
"Mas tunggu," Sela meraih tangan Harza yang akan pergi meninggalkan dirinya.
"Aku benci wanita sepertimu Sela. Aku benci!"
"Mas tolong dengarkan aku dulu," ujar Sela tapi tidak di hiraukan oleh Harza yang langsung keluar dari kamar dan membanting pintu tersebut dengan tersenyum senang .
Air mata yang sedari tadi Sela tahan untuk tidak meluncur, akhirnya meluncur bebas dan Sela langsung jatuh lunglai di atas lantai, mendengar perkataan dari sang suami yang belum pernah selama ini Sela dengar dari pria yang sangat di cintainya.
"Mas kamu salah paham, jangan seperti ini Mas," Sela terus menangis kemudian beranjak dari tempatnya dan keluar dari kamar untuk mencari sang suami. Tapi dirinya tidak menemukan sang suami di seluruh penjuru rumahnya.
"Mas Harza tunggu!" Teriak Sela saat sudah berada di teras rumahnya dan melihat mobil sang suami yang sudah jauh dari pandangannya. "Jangan tinggalkan aku mas, aku mohon," Sela terjatuh di teras dengan tangis yang semakin menjadi.
Dan Sela langsung menegakkan kepalanya saat mendengar suara mobil yang masuk kedalam halaman rumahnya setelah sekian lama dirinya berada di teras sambil terus menangis.
"Mas Harza," ujar Sela sambil menghapus air matanya.
__ADS_1
Bersambung................