
Mata Sela langsung tertuju ke arah tempat tidur, dan benar saja Harza sedang terbaring dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Lalu Sela berjalan ke arah ranjang bukan untuk memberikan perhatian pada suaminya melainkan mengambil boxer milik Harza yang berada di kolong tempat tidur.
"Sejak kapan Mas Harza menjadi jorok seperti ini, kenapa boxer Mas Harza di taruh di sini?" tanya Sela dan menunjukkan boxer Harza yang baru saja dirinya ambil.
"Sial," gumam Harza lalu beranjak dari tidurnya dan menyadarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.
"Maaf, itu boxer tadi pagi yang kekecilan, aku lupa mengembalikannya, maaf ya," bohong Harza sambil tersenyum ke arah Sela.
"Jika kamu mengakui kalau baru saja kalian melakukan hubungan badan, aku juga tidak peduli," gumam Sela dan membalas senyum Harza. "Tidak masalah Mas, oh iya kata Nia Mas Harza kurang enak badan?"
"Tapi sekarang sudah baik kan,"
"Kenapa tidak mati saja," batin Sela. "Syukurlah kalau begitu."
"Tumben kamu pulang cepat dari toko?"
Tapi Sela tidak menghiraukan pertanyaan Harza karena dirinya langsung berjalan menuju arah kamar mandi dengan perasaan benci jika melihat Harza.
__ADS_1
"Sela! Aku sedang bertanya padamu, apa kamu tidak mendengar!" teriak Harza dengan kencang. Dan Sela menghentikan langkahnya lalu membalik tubuhnya.
"Bertanya apa?"
"Sudahlah lupakan,"
"Oke," sambung Sela lalu kembali menuju kamar mandi.
Sela merendam tubuhnya di bathtub, dan sesekali menenggelamkan kepalanya, untuk meredam emosinya.
"Ya Tuhan salah apa aku padamu, hingga aku harus menerima semua ini. Dan maafkan aku jika hati ku ini penuh dengan kebencian dan dendam," ujar Sela dan air mata jatuh membasahi pipi.
"Apa aku harus mengakhiri permainan ini, dan mengatakan pada papa yang sebenarnya?" tanya Sela pada dirinya sendiri.
"Apa kamu akan menyerah Sela? Kamu sudah mulainya dan kamu juga harus mengakhiri permainan mu," entah dari mana ucapan itu berasal dan memenuhi otak Sela, membuat Sela langsung tersenyum sinis lalu menghapus air matanya.
Mata Sela terus mengikuti ke manapun langkah Nia yang sedang menyiapkan makan malam. Dan Sela pun enggan menanyakan ke mana bi Ijah pergi pada Harza, karena Sela yakin kepergian bi Ijah sudah di rencanakan oleh suaminya dan selingkuhannya tersebut, agar keduanya bisa leluasa melakukan apa pun yang di inginkan.
__ADS_1
"Nona, Tuan, silahkan di nikmatin makan malamnya," ujar Nia begitu ramahnya. Lalu menyendok kan nasi ke piring Harza.
"Stop! Aku tidak berselera makan," ucap Sela, saat Nia sudah menyendok kan nasi ke piring yang ada di hadapannya. Lalu Sela beranjak dari duduknya kemudian menuju dapur.
"Sial, sedikit lagi aku bisa membuatmu mati Sela, dan aku tidak boleh gagal, lebih cepat kamu mati, lebih cepat juga aku mendapatkan apa yang aku inginkan," gumam Nia kesal, saat nasi yang di siapkan olehnya untuk Sela sudah di campur dengan racun. Lalu Nia melangkah kan kakinya menyusul Sela yang sudah berada di dapur yang sedang menyiapkan buah apel untuk di buat jus.
"Nona biarkan aku saja, Nona tunggu saja dan dalam lima menit jus apel sudah siapa,"
Dan tangan Nia langsung mengambil alih buah apel yang ada di tangan Sela. Lalu Sela meninggalkan Nia menuju ruang keluarga tanpa mengatakan apa pun.
Dan benar saja hanya dalam waktu lima menit Nia sudah membawa jus yang di inginkan Sela.
"Nona silahkan jus nya sudah siap,"
Dan tanpa pikir panjang Sela segera mengambil gelas berisi jus di nampan yang Nia bawa.
"Selamat bertemu dengan malaikat maut Sela," gumam Nia dengan tersenyum sinis lalu meninggalkan ruang keluarga di mana Sela berada.
__ADS_1
Bersambung......................
Nanti aku tambah up nya, tapi kalian harus tekan like dan juga komen ya sayang Oke