
Sela menatap foto papa dan mamanya yang sudah meninggal dunia, saat dirinya memutuskan untuk pulang dan menginap di toko kue miliknya.
Janjinya dulu pada kedua orang tuanya akan selalu setia pada sang suami kini dia ingkari. Saat dirinya menolak mentah-mentah untuk memaafkan Harza dan kembali padanya, meskipun papa Doni sudah memohon dengan berbagai cara, tapi Sela tetap pada pendiriannya.
Sela menaruh foto kedua orang tuanya, lalu berganti mengambil map yang berisi sertifikat perusahaan atas nama Sela Maharani yang tak lain dan tak bukan adalah namanya, yang di berikan oleh papa Doni sebelum Sela meninggalkan rumah sakit.
Air mata jatuh membasahi pipinya, saat mengetahui kebenaran atas kematian kedua orang tuanya, yang tidak pernah dirinya ketahui, saat papa Doni menceritakan semuanya.
Ya, kematian tragis ke dua orang tuanya itu di sebabkan karena menyelamatkan papa Doni dari musuh yang mengejarnya.
Dulu saat kematian ke dua orang tuanya Sela hanya pasrah dan ikhlas saat polisi mengatakan jika ke dua orang tuanya meninggal murni karena kecelakaan. Tapi setelah papa Doni menceritakan jika mobil yang di tumpangi ke dua orang tuanya dulu adalah mobil yang seharusnya di pakai oleh papa Doni, yang sudah di pasang bom oleh musuh papa Doni. Di situ Sela begitu kecewa dengan papa Doni karena baru menceritakan nya sekarang.
Sela melempar map yang berada di tangannya dengan kasar, saat papa Doni memberikannya untuk menghargai pengorbanan kedua orang tuanya yang sudah menyelamatkan nyawa papa Doni.
Tangis Sela semakin menjadi mendapati kenyataan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Papa, mama, kenapa aku baru tahu kenyataanya sekarang, ternyata papa Doni selama ini sangat menyayangiku karena ada sebabnya, bukan karena ketulusannya, apa aku tidak pantas di sayangi dan di cintai, karena semua kasih sayang dan cinta yang selama ini aku dapatkan dari papa Doni dan Harza hanya karena merasa kasihan padaku," ucap Sela di tengah-tengah tangisnya.
*
*
*
Papa Doni menatap foto ke dua orang tua Sela, yang tak lain dan tak bukan sahabatnya sejak kecil. Air mata membasahi ke dua pipi papa Doni saat papa Doni sedang duduk di meja kerjanya ketika sudah berada di rumah.
Lalu papa Doni menghembuskan nafasnya kasar, karena dirinya yakin Sela pasti menganggap dirinya selama ini menyayangi Sela karena kasihan.
"Asal kamu tahu nak, papa sangat menyayangimu, meskipun kamu yakin dengan keputusanmu dan ingin meninggalkan Harza, papa akan selalu menyayangimu seperti anak papa," ujar papa Doni lalu mengambil ponsel miliknya dan menghubungi seseorang, untuk menanyakan keberadaan Sela, saat tadi dirinya tidak sempat bertanya pada Sela yang dengan terburu buru meninggalkannya di rumah sakit.
"Apa! Baiklah, kamu terus awasi putriku, aku akan segera menemuinya," ucap papa Doni dan beranjak dari duduknya, saat anak buahnya memberi tahu di mana Sela berada, lalu papa Doni menutup sambungan ponselnya.
__ADS_1
"Nak, tempat itu tidak bagus untuk kesehatanmu," ujar papa Doni lalu mengambil jaket dan langsung keluar dari kamarnya.
*
*
*
Jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari, tapi Sela terus menangis meratapi hidup yang seakan mempermainkan dirinya.
"Ya Tuhan apa aku tidak pantas di cintai dan di sayangi dengan tulus?" tanya Sela di sela-sela tangisnya saat dirinya sedang duduk di lantai sambil memegangi ke dua lututnya dan menyandarkan punggungnya di tembok kamarnya.
"Siapa bilang?" tanya seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri tepat di pintu kamar Sela, yang sedari tadi memang tidak di tutup.
Bersambung...................
__ADS_1