
"Mas Harza, bangun," ucap Rani saat sudah mendekat ke arah Harza sambil menepuk pipinya.
"Ra– Rani, kamu kah i–ini?" tanya Harza terbata saat tatapannya sudah tidak fokus lagi.
"Iya ini aku mas, bangunlah lah mas," dan tak terasa air mata Rani membasahi pipinya, melihat keadaan Harza yang sangat mengenaskan.
Bohong jika selama ini Rani benar-benar melupakan Harza, bagaimana dirinya bisa melupakan Harza, saat ke duanya sudah menjalin hubungan sejak masih duduk di sekolah menengah atas, dan keduanya berpisah saat Harza di jodohkan dengan Sela.
Dan Rani meninggalkan Harza karena perintah Anton kakaknya, ketika balas dendamnya untuk menghancurkan keluarga Doni hancur sudah, saat Rani yang disuruh mendekati Harza kembali agar bisa masuk ke dalam keluarga Doni, malah jatuh hati lagi pada Harza yang sudah menikah dengan Sela.
Dan balas dendam yang sudah di rancang Anton gagal total, apa lagi saat Anton mengetahui kebenaran yang selama ini tidak pernah dirinya tahu, dan menyesali apa yang selama ini dirinya lakukan, yang membuat ke dua adiknya mencintai orang yang salah.
Kedua adiknya? Benar dua adik, selain Rani, Sela adalah adik kandung Anton, meskipun ke dua ibu meraka berbeda. Dan saat Anton mengetahui kebenaran yang papa Doni ceritakan padanya, Anton langsung merutuki dirinya sendiri karena sudah berniat mencelakai Sela.
Anton yang mendapati Rani menangis sambil menepuk nepuk pipi Harza, langsung menarik tangannya agar Rani beranjak dari tempatnya dan menjauhkannya dari Harza.
"Hapus air matamu, untuk apa kamu menangisi pria bajingan seperti dia?"
Tapi Rani tidak menjawab pertanyaan Anton, dan melepas tangan Anton yang masih memegangi tangannya, dan dirinya ingin kembali pada Harza sebelum Anton menahan tangannya.
"Rani!"
Rani langsung membalik tubuhnya untuk menatap ke arah Anton.
__ADS_1
"Kak tolong jangan pernah melarang ku lagi, aku sangat mencintai mas Harza,"
"Mencintai pria brengsek seperti dia," ujar Anton sambil menunjuk ke arah Harza. "Otak kamu ada di mana?"
"Aku selalu mencintai mas Harza, aku tidak peduli siapa mas Harza dan pada apa yang telah mas Harza lakukan,"
Plak!
"Dasar bodoh!" teriak Anton setelah menampar pipi Rani.
"Iya aku bodoh kak, kakak sudah puas?"
"Rani!" teriak Anton tapi tidak di hiraukan oleh Rani yang langsung menghampiri Harza kembali dan menaruh kepala Harza di pangkuannya sambil terus menepuk nepuk pipinya saat Harza sudah tidak sadarkan diri.
Setelah papa Doni melepas pelukannya, Sela mengerutkan keningnya, saat melihat Rani, lalu Sela beranjak dari tempatnya dan melangkah kan kakinya menuju dimana ada Rani, Harza dan juga pria yang tidak di kenalnya yang tadi sudah menolongnya.
Mendengar Sela memanggilnya, Rani langsung menatap ke arahnya dan menaruh kepala Harza sebelum dirinya menghampiri Sela, dan bersimpuh lalu memeluk kakinya.
"Maafkan mas Harza, aku mohon padamu, dan maafkan aku telah menjadi orang ketiga bagi kalian, sekali lagi aku mohon padamu maafkan aku dan juga mas Harza," ujar Rani dan terus memeluk kaki Sela.
"Bangunlah,"
"Tidak sebelum kamu memaafkan kita,"
__ADS_1
Sela tidak menanggapi perkataan Rani, karena Sela langsung melepas tangan Rani yang masih memeluk kakinya kemudian menarik tangannya untuk beranjak dari tempatnya.
"Aku sudah melupakan apa yang pernah kalian lakukan di belakangku dulu, tapi aku tidak akan pernah memaafkan apa yang telah Harza lakukan hari ini, itu tidak akan pernah terjadi, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya!" tegas Sela sambil menunjuk Harza yang masih terkapar di atas lantai.
"Tapi biarkan aku membawanya ke rumah sakit sebelum kamu melaporkannya ke polisi, aku mohon," Rani meraih tangan Sela lalu menggenggamnya. "Sekali lagi, aku mohon padamu Sela, biarkan aku membawanya ke rumah sakit," dan air mata langsung membasahi pipi Rani.
"Aku mengenal mas Harza lebih dulu dibanding kamu, aku tahu mas Harza tidak seperti ini, dia tidak pernah berbuat kasar pada siapa pun,"
"Tapi nyatanya?"
"Aku yakin mas Harza sedang frustasi, aku mohon izinkan aku membawanya,"
Tapi Sela tidak menghiraukan perkataan Rani, karena dirinya langsung membalik tubuhnya, ingin meninggalkan Rani, tapi dirinya urungkan saat melihat pria yang tadi menolongnya sedang berdiri tidak jauh darinya, kemudian Sela berjalan menghampiri nya.
"Terima kasih atas bantuan mu,"
Bukannya menanggapi ucapan Sela, Anton tiba-tiba meneteskan air matanya melihat wajah Sela, saat dirinya pernah berencana untuk membunuh Sela, sebelum dirinya tahu siapa Sela sebenarnya, dan Anton pun langsung memeluk Sela.
"Maafkan aku adik,"
Sela hanya diam terpaku, bukan karena pelukan dari pria tersebut, melainkan perkataan yang keluar dari mulutnya.
"Lepaskan dia!"
__ADS_1
Bugh!
Bersambung.....................