
Jam di ruang kerja Kai menunjukkan pukul dua belas siang, yang artinya sudah dua jam Sela menunggu suaminya di dalam ruang kerjanya, tapi Kai belum juga datang ke kantor, Sela terus menghubungi ponselnya, tapi langsung di matikan oleh Kai, mengirim pesan pun hanya di baca oleh suaminya tanpa membalasnya.
Sela beranjak dari duduknya saat pintu ruang kerja suaminya di buka dari luar, berharap yang datang adalah Kai, namun Sela duduk kembali di sofa yang ada di ruangan suaminya tersebut saat yang datang adalah sekretaris Kai, sambil membawa map di tangan kanannya.
"Maaf nyonya," ujar sekretaris Kai yang menghampiri di mana Sela berada. "Sepertinya hari ini Tuan Kai tidak akan masuk kerja, baru saja tuan menitipkan map ini di meja resepsionis,"
"Apa dia masih di bawah?"
"Baru saja keluar dengan seorang wanita, saya permisi," ujar sekretaris Kai dan langsung keluar ruangan setelah menaruh map di meja kerja Kai.
"Wanita," ucap Sela mencerna lagi ucapan sekretaris Kai yang sudah meninggalkan ruangan tersebut.
Air mata meluncur bebas membasahi pipi Sela, entah mengapa perasaannya tidak enak setelah mendengar perkataan sekretaris Kai.
"Jangan berfikir yang tidak-tidak Sela, kamu tahu suami kamu sangat mencintaimu, mungkin wanita yang bersamanya adalah rekan bisnisnya," ucap Sela pada dirinya sendiri untuk menenangkan pikirannya yang sudah di penuhi pikiran negatif.
Sela menghapus air matanya, dan menghembuskan nafasnya dengan perlahan lalu beranjak dari duduknya untuk meninggalkan ruang kerja sang suami.
*
*
__ADS_1
*
Sesampainya di rumah Sela langsung masuk ke dalam kamar, dirinya tidak ingin menceritakan hal ini pada ibu mertuanya, takut pikiran negatif yang ada di pikirannya hanyalah perasaan buruknya saja.
Sela menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di atas tempat tidur, air mata kembali meluncur dari pelupuk matanya, bayangan beberapa tahun yang lalu melintas di pikirannya kembali, saat suaminya yang sangat di cintai nya tega berselingkuh dengan wanita lain di belakangnya.
"Ya Tuhan jauhkan pikiran negatif ku ini, aku percaya pada Kai, suamiku yang sekarang bukanlah suamiku yang dulu," ujar Sela lalu beranjak dari tidurnya tahu kemana hari ini dirinya akan pergi.
Sela yang baru turun dari kamarnya langsung mengukir senyum dari ke dua sudut bibirnya saat melihat ibu mertuanya sedang bersantai di ruang keluarga.
"Sayang kamu mau kemana?" tanya mama Leni saat Sela menghampiri ibu mertuanya tersebut dengan pakaian rapi dan juga tas yang di tenteng di tangan kirinya.
"Aku ingin mengunjungi Risa ma, aku pamit dulu,"
Bagaimana Sela tidak pucat dari tadi pagi dirinya belum memakan apa pun, saat nafsu makannya hilang entah kemana mendapati suaminya berubah seratus delapan puluh derajat.
"Ini karena aku tidak memakai bedak ma," aku pergi dulu ya ma," Bohong Sela lalu mencium kedua pipi mertuanya sebelum keluar dari rumah.
*
*
__ADS_1
*
Sela turun dari mobil yang di naikinya tepat di depan halaman rumah miliknya, saat dirinya memutuskan datang untuk menemui Risa, dan menceritakan apa yang di alaminya hari ini, karena Risa adalah sahabat paling baik untuk dirinya, yang selalu mendengar semua curhatannya.
Sela mengetuk pintu rumah beberapa kali, sebelum mbok Ijah membuka pintu. Mbok Ijah menautkan kedua alisnya menatap Sela sudah berada di depan pintu.
"Mbok ada apa, melihatku seperti itu, apa ada yang aneh?" tanya Sela lalu masuk ke dalam rumah.
"Tidak, oh iya kenapa non Risa tidak pulang bersama dengan Nona?"
Mendengar pertanyaan mbok Ijah Sela menghentikan langkahnya lalu membalik tubuhnya untuk menatap mbok Ijah.
"Maksud mbok?"
"Bukannya kalian tadi ingin luar kota, tadi tuan Kai pagi-pagi datang menjemput non Risa, katanya disuruh menemani non Sela ke luar kota,"
Deg!
Entah mengapa saat mendengar jawaban mbok Ijah, Sela seperti berhenti bernafas, dan pikiran negatifnya muncul kembali di benaknya.
"Non, nona kenapa?" tanya mbok Ijah sambil menahan tubuh Sela yang hilang keseimbangan.
__ADS_1
Bersambung..................