
Sela yang ingin pulang lebih cepat setelah mengantar Risa, menautkan kedua alisnya menatap mobil Harza sudah terparkir di garasi mobil, lalu sela mengambil ponsel miliknya, takut dirinya salah, dan benar saja jam ponselnya masih menunjukan pukul tiga sore dan tidak biasanya Harza sudah berada di dalam rumah.
Dan Sela mengingat kembali perkataan Kai tadi siang jika asisten rumah tangganya yang baru adalah selingkuhan Harza, kemudian Sela segara memarkirkan motor matic miliknya dan dengan segara menuju pintu rumahnya.
"Mas, sudah ya, sepertinya ada yang datang," ujar Rani saat masih bermanja di atas tubuh Harza yang sedang terbaring di tempat tidurnya dengan tubuh yang masih polos saat keduanya baru saja menyelesaikan olah raga sore hari.
"Siapa? Mbok Ijah sudah kita singkirkan, Sela? Dia selalu pulang jam lima, ini masih pukul tiga, kita masih bisa bermain sekali lagi bukan," sahut Harza lalu membawa Rani ke dalam pelukannya. "Tetaplah bersamaku, jangan pernah meninggalkan aku sayang,"
"Bukanya Mas Harza yang meninggalkan aku?"
"Itu dulu, dan sekarang aku tidak akan pernah meninggalkanmu sampai kapan pun, aku berjanji padamu, setelah aku mendapatkan harta papa, aku akan segara menceraikan Sela, dan kita akan menikah dan hidup selamanya,"
"Dan aku akan setia menunggu hari itu mas," sambung Rani sambil tersenyum lalu melepas pelukan Harza.
"Kenapa sayang?"
"Dengar kan Mas, ada yang menekan bel, kita lanjutkan saja besok,"
__ADS_1
"Oke sayang," ujar Harza dan mencium bibir Rani, sebelum Rani mengenakan kembali pakaian yang berserakan di lantai begitu pun dengan Harza.
"Ya ampun kenapa aku lupa membawa kunci rumah, dan mbok Ijah kemana, kenapa lama sekali membuka pintu nya," kesal Sela karena sudah sekian kalinya dirinya menekan bel rumahnya, tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda pintu akan di buka.
Sela mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi telepon rumahnya, baru saja dirinya ingin menekan tombol panggil, pintu rumah sudah di buka dari dalam, dan memperlihatkan Nia yang tersenyum ke arah Sela.
"Maaf Nona, tadi aku sedang membersihkan kamar mandi jadi tidak terlalu mendengar bel rumah, sekali lagi maaf,"
"Memangnya mbok Ijah ke mana?"
Mendengar jawaban Nia membuat Sela langsung menautkan kedua alisnya tidak percaya, pasalnya selama ini mbok Ijah bilang sudah tidak pernah pulang kampung, karena sudah memiliki rumah di kota, dan dengan jawaban Nia tersebut, Sela mengingat kembali perkataan Kai dan meyakininya jika wanita yang ada di hadapannya adalah selingkuhan Harza selama ini.
Kemudian sela menatap wajah Nia dengan intens saat sedang menundukkan kepalanya.
"Apa suamiku sudah sudah pulang?"
"Su–
__ADS_1
"Aku ada di hadapanmu, bukan di lantai, jadi tetaplah wajahku saat aku sedang bertanya padamu," sambung Sela memotong perkataan Nia, dan dengan segera Nia menegakkan kepalanya menatap Sela.
"Benar suami Nona sudah pulang sejak tadi, karena tuan sedang tidak enak badan,"
Bukannya merespon perkataan Nia, Sela yang sedari tadi mengamati setiap jengkal wajah Nia begitu terkejut, saat dirinya mendapati Nia memiliki tahi lalat yang sama dengan selingkuhan Harza.
"Jadi benar apa yang di katakan Kai, jika Nia itu selingkuhan Harza yang bernama Rani," gumam Sela yang masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada.
"Kalau begitu aku pamit ke belakang Nona, permisi," Pamit Nia lalu berjalan menuju ke arah dapur. Meninggalkan Sela yang masih tidak percaya jika di rumahnya ada orang ke tiga di dalam rumah tangganya.
Senyum sinis terukir dari sebelah sudut bibir Sela menatap kepergian Nia.
"Dan kamu juga akan merasakan apa yang aku rasakan ini, wanita ja lang, aku pastikan itu," batin Sela dan terus menatap punggung Nia.
"Sela, Sela untuk apa kamu bertahan dengan Harza, apa demi harta? Tentu, untuk apa lagi, aku tahu siapa keluargamu," gumam Nia saat menatap Sela yang berjalan menuju kamarnya.
Bersambung...................
__ADS_1