BALAS DENDAM Terindah

BALAS DENDAM Terindah
44. Akan Selalu Melindungimu


__ADS_3

Harza melepas tangan Rani dengan kasar, hingga Rani terjatuh di atas sofa ruang tamunya.


"Mas, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu kasar seperti ini padaku?"


"Harusnya aku yang bertanya padamu kenapa kamu ingin meracuni Sela? Aku sudah pernah mengatakan padamu untuk tidak gegabah melakukan apa pun, apa lagi sampai ingin meracuni Sela, untung saja bukan Sela yang meminum racun itu,"


"Karena aku tidak ingin ada wanita lain yang memilikimu Mas, bukannya bagus, jika aku meracuni Sela dan membuatnya mati, jadi tidak ada wanita lain yang berada di sampingmu,"


Mendengar perkataan Rani, Harza langsung mendudukkan pantatnya dengan kasar di samping Rani dan mengacak acak rambutnya sendiri dengan kasar.


"Tapi aku tidak ingin kamu melakukan itu,"


"Kenapa? Apa Mas Harza mencintai Sela?" tanya Rani tapi tidak mendapat jawaban dari Harza yang sekarang beralih menyandarkan kepalanya sambil memegangi keningnya sendiri.


"Kenapa Mas Harza tidak menjawab, apa benar yang aku katakan?" tanya Rani lagi dan tangisnya pun langsung pecah. "Mas Harza jahat, mas Harza bilang hanya mencintai aku dan hanya aku tapi–


Rani menghentikan ucapannya saat Harza tiba-tiba memeluknya dengan erat.


"Aku memang tidak mencintainya, tapi–


"Jangan katakan lagi, jika Mas Harza sudah berjanji ke pada orang tuanya untuk menjaga nya, aku muak dengan apa yang selalu Mas Harza katakan padaku, aku memiliki hati Mas, aku hanya ingin Mas Harza menikahi ku,"


"Tapi tidak semudah itu,"


"Aku sudah bersabar Mas, selama ini, tapi apa?" tanya Rani lalu melepas pelukan Harza kemudian berdiri dari duduknya. Tapi dengan segera Harza menarik tangan Rani dan membawa ke dalam pelukan nya lagi.


"Baiklah aku akan menikahi mu secepatnya,"

__ADS_1


"Tapi–


"Tapi apa?" tanya Harza saat Rani menghentikan ucapannya dan melepas pelukannya.


"Aku ingin Mahar, perusahaan yang Mas Harza pegang,"


Tanpa pikir panjang Harza mengiyakan perkataan Rani, entah bagaimana caranya dia bisa mendapatkan sertifikat perusahaan yang di pegang nya sekarang, karena sampai sekarang pun dirinya tidak pernah sekalipun melihat sertifikat itu, dan itu urusan belakangan. Yang terpenting dirinya bisa mengatakan iya, untuk menebus kesalahannya karena sudah berbuat kasar pada Rani sebelumnya.


Dan Rani pun langsung tersenyum senang tidak terkecuali dengan Anton yang menguping pembicaraan ke duanya di balik pintu kamar di mana dirinya bersembunyi.


Kemudian Harza melepas pelukannya dan meraup wajah Rani.


"Maaf atas perilaku kasar ku tadi,"


"Tidak masalah sayang, aku hanya takut jika terjadi sesuatu pada Hendri polisi akan mencari ku,"


*


*


*


Sela menghembuskan nafasnya kasar, saat dokter mengatakan jika nyawa Hendri masih bisa di tolong, hanya saja mengalami kelumpuhan total di kedua kakinya.


"Ya Tuhan kenapa Engkau masih membiarkan pria bejat itu hidup," gumam Sela dan tatapan matanya tertuju pada mama Nisa yang melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya.


"Menantu kurang ajar, ini pasti rencana mu dan juga Risa, ingin menyingkirkan Hendri setelah itu kalian akan menyingkirkan Harza, agar kalian para istri durhaka bisa menguasai hartanya,"

__ADS_1


"Ya ampun Ma, terima kasih, sudah memberikan saran yang bagus," sambung Sela dan senyum mengembang dari ke dua sudut bibirnya.


"Dasar menantu kurang ajar!" teriak mama Nisa sambil menarik rambut Sela yang akan pergi meninggalkan nya.


"Nisa! Lepaskan!" teriak papa Doni yang melihat istrinya sedang berbuat kasar pada menantunya tersebut dan mendekati ke duanya, dan mama Nisa pun langsung melepas tangannya.


"Pa, dia yang sudah meracuni anak kita Pa,"


"Diam lah, dan tinggalkan kami berdua,"


"Tapi Pa,"


"Nisa!!!!!"


Dan mama Nisa pun tidak mengatakan apa pun lagi, lalu meninggalkan suaminya bersama Sela dengan perasaan kesal.


"Kamu tidak apa-apa kan nak? Dan sekali lagi maafkan mama kamu,"


"Aku baik-baik saja Pa, dan aku selalu memaafkan Mama,"


"Terima kasih nak, ada yang ingin papa tanyakan kepadamu,"


"silahkan tanyakan saja, sebisa mungkin aku akan menjawab pa,"


Dan sebisa mungkin Sela terus tersenyum, jika sedang berbicara pada papa mertuanya tersebut.


Bersambung...........

__ADS_1


__ADS_2