BALAS DENDAM Terindah

BALAS DENDAM Terindah
30 Dajjal


__ADS_3

Sela menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di atas ranjang berukuran singgle yang ada di lantai dua toko kuenya yang bersebelahan dengan ruang kerjanya. Air mata jatuh meluncur dari sudut matanya dan membasahi seprei, meratapi dirinya sendiri yang begitu memperihatinkan, saat sudah tidak memiliki orang tua, dan juga sanak saudara untuk berbagi kisah pilunya.


Apa dirinya harus bercerita pada papa Doni? Tentu saja dirinya tidak akan pernah melakukan hal itu, tidak ingin papa Doni satu satunya orang yang membuat dirinya merasakan kasih sayang terkena serangan jantung, bila mengetahui kedua putranya tidak ada satu pun yang benar.


Lalu Sela beranjak dari tidurnya kemudian menghapus air matanya, saat ada yang mengetuk pintu kamarnya.


"Masuk saja Ria," perintah Sela pada salah satu karyawannya. "Ada apa?"


"Di bawah ada seseorang yang sedang mencari Mbak Sela,"


"Siapa?"


"Pria yang tempo hari membuat keributan di cafe Mbak,"


Dan Sela yang mendengar perkataan Ria, keluar dari kamarnya dan entah mengapa senyum tiba-tiba menghiasi ke dua sudut bibirnya.


"Ada apa dengan Mbak Sela, tadi terlihat sedih, sekarang begitu gembira sekali," ujar Ria sambil membuntuti Sela dari belakang.


Sela melangkahkan kakinya dengan pasti menghampiri Kai yang sedang duduk di sebuah kursi yang berada di paling belakang pojok sebelah kiri cafe miliknya. Lalu Sela menarik kursi di hadapan Kai dan mendudukkan pantatnya di kursi tersebut.


"Sudah lama?"


Bukannya menjawab pertanyaan Sela, Kai malah menatap setiap inci wajah wanita yang ada di hadapannya, yang tidak akan pernah bosan untuk di lihat.


"Kai," panggil Sela sambil melambaikan tangannya tepat di wajah pria yang ada di hadapannya saat dirinya tidak mendapat jawaban dari Kai.


"Emm maaf, tadi apa yang kamu tanyakan?"


"Kamu sudah lama berada di sini?"


"Baru saja, lihat saja pesanan yang aku pesan saja belum juga datang, pelayanan di kafe kamu ini lambat sekali, kalau aku yang punya toko ini, aku sudah memecat meraka,"

__ADS_1


"Apa kami bilang? Sekarang aku tanya kamu baru datang jam berapa?"


"Sepuluh menit yang lalu,"


"Terus kamu pesan apa?"


"Latte,"


"Kamu pikir membuat latte, seperti menuang air putih ke dalam gelas, aku tidak yakin kamu pemilik perusahaan Maraja, buktinya saja otak kamu itu hanya separo,"


"Karena separo lagi, hanya untuk memikirkan kamu," gumam Kai sambil tersenyum ke arah Sela.


"Tuh kan benar hanya separo, buktinya senyum-senyum sendiri seperti orang kurang waras,"


"Iya aku kurang waras, karena kamu belum memberikan uang ganti rugi ku tempo hari,"


"Ambil saja nyawaku,"


"Apa kamu tidak tahu jika aku sudah–


Kai memincingkan sebelah alisnya saat mendengar Sela menghentikan perkataannya.


"Sudah apa?"


"Memiliki suami,"


"Suami laknat?"


"Bukan, tapi dajjal,"


Dan ke duanya langsung tertawa, Ria yang menatap ke dua langsung menggelengkan kepalanya, dan merasa aneh, pasalnya selama ini Sela tidak pernah tertawa lepas dan dekat dengan orang lain, apa lagi orang itu pria yang baru di kenalnya.

__ADS_1


*


*


*


Rani antusias berlari kecil menuju pintu rumahnya yang di ketuk oleh seseorang saat dirinya sedang asyik menonton televisi, senyum yang sedari tadi mengembang dari ke dua sudut bibirnya hilang sudah, pasalnya yang mengetuk pintu rumahnya bukanlah Harza seperti dugaannya.


"Kamu,"


"Kenapa, apa kamu tidak ingin menyambut ku?"


Rani yang ingin menutup pintu di hentikan oleh pria yang ada di hadapannya.


"Ternyata apa yang kamu inginkan perlahan bisa kamu dapatkan, hebat sekali,"


"Pergilah dari rumahku,"


"Rumahmu? Tentu saja rumahmu, karena kamu sekarang punya ladang uang,"


"Jaga ucapan kamu!"


"Apa yang aku katakan benar bukan?"


Plak!


Rani menampar pipi pria yang ada di hadapannya dengan kencang. Tapi pria tersebut langsung tersenyum sinis dan mendorong tubuh Rani masuk ke dalam.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Aku, tentu saja kamu pasti tahu apa yang aku inginkan,"

__ADS_1


Bersambung...................


__ADS_2