
"Jangan membuat jiwa jomblo ku meronta kasihanilah aku," ujar Bima yang tiba-tiba sudah berada di meja makan dan menarik salah satu kursi di meja makan untuk dirinya duduk.
"Kau bagaikan jurig, datang tak di jemput pulang tak di antar, mengagetkan saja," ucap Kai lalu menautkan kedua alisnya menatap sahabatnya tersebut yang terlihat begitu lemas. "Ada apa denganmu?"
"Ambyar mak byar, cintaku layu sebelum berkembang,"
Mendengar ucapan Bima, Kai langsung tertawa terbahak bahak. "Aku sudah pernah bilang padamu jangan mengharap perasaan lebih pada Risa, Sela juga sudah memberi tahu kamu kan, kalau Risa tidak akan menjalin hubungan dengan siap pun, karena ingin fokus membesarkan anaknya, di bilangin ngeyel,"
"Tapi kenapa dia menjalin hubungan dengan David teman kamu itu,"
"Apa?"
"Apa?" tanya Sela dan Kai bergantian.
"Tidak usah terkejut, aku yang lebih terkejut, apa kamu punya kenalan wanita, yang mau di ajak nikah sekarang? Aku bosan hidup membujang lama-lama burungnya lupa masuk ke sarang itu bagaimana,"
Mendengar perkataan Bima, Kai dan juga Sela saling menatap dan langsung tertawa bersama.
"Sungguh malang nasibmu rung burung, tapi ada sih satu wanita, kamu mau?"
"Mau lah, yang penting tulen, dan lubangnya orisinil ada di depan bukan dari belakang,"
"Jessica mau?" tawar Kai, membuat Bima langsung menegakkan kepalanya menatap ke arah Kai.
"Rekan bisnis kamu, yang bohay itu, mau, mau,"
"Tapi dia janda, mau?"
__ADS_1
"Itu yang aku cari yang sudah berpengalaman, longgar tidak masalah yang penting goyangannya mantap,"
"Kamu kata kolor longgar, ada-ada saja, kaya kamu bisa berdiri tegak saja sok bicara goyangan,"
"Apa kamu perlu bukti, nih aku buktikan," ujar Bima yang langsung beranjak dari duduknya, begitupun dengan Sela Kai.
"Kita tinggalkan saja manusia satu ini," ujar Kai dan menggandeng tangan istrinya meninggalkan Bima.
"Kai katanya mau lihat!"
"Palingan sebesar cabe keriting!"
"Sialan kau Kai!"
*
*
*
Kai terus mengelus elus hidungnya di telinga Sela, yang sedang berdiri di depan pintu sambil menekan bel rumah.
"Kai hentikan,"
"Tidak akan, harusnya ini jatahku menghabiskan akhir pekan bersama mu, tapi–
"Kai," Sela membalik tubuhnya lalu mendorong wajah Kai dan menghentikan ucapannya.
__ADS_1
"Sayang kamu kasar sekali,"
"Ini di tempat umum, tidak pantas kalau di lihat orang,"
"Kita hanya berdua di sini sayang,"
"Kai," Sela menahan tubuh Kai yang akan memeluk dirinya, saat pintu rumah di buka oleh mbok Ijah.
"Nona, tuan, silahkan masuk," ujar mbok Ijah mempersilakan keduanya masuk ke dalam,"
"Terima kasih mbok, Risa ada?"
"Ada, sedang menidurkan Nana di dalam kamarnya,"
"Kalau begitu, aku langsung ke kamar Risa saja," ujar Sela yang langsung menuju di mana kamar Risa berada, dan meninggalkan Kai, yang mendengus kesal dan mendudukkan pantatnya kasar di sofa ruang tamu.
"Awas saja pulang nanti aku hajar, sampai tidak bisa berjalan," gerutu Kai, dan mbok Ijah yang mendengar ucapan Kai langsung tersenyum, dan meninggalkan Kai menuju dapur.
Sela masuk ke dalam kamar Risa dengan perlahan, saat Risa sedang menidurkan Nana, sambil menepuk nepuk pantatnya.
"Nana sudah tidur?" tanya Sela pelan saat sudah mendekati Risa, dan Risa yang baru saja ingin ikut tidur terkejut dan menatap ke arah Sela.
"Kamu mengagetkan saja," Risa beranjak dari tidurnya. "Tumben akhir pekan bisa keluar rumah, biasanya di kurung sama Kai di dalam kamar, aku datang ke rumah kalian pun, hanya sebentar kamu menemui ku," ujar Risa yang hafal benar dengan kebiasaan sahabatnya tersebut.
"Karena ada hal penting yang ingin aku tanyakan padamu,"
"Hal penting?" tanya Risa penasaran, sambil menautkan kedua alisnya menatap Sela.
__ADS_1
Bersambung................