BALAS DENDAM Terindah

BALAS DENDAM Terindah
27 Aku Dilahirkan Bukan Untuk Disakiti


__ADS_3

Sela yang mendengar perkataan Harza menghentikan langkahnya, lalu membalik badannya menghadap ke arah Harza dan senyum terukir dari kedua sudut bibir Sela. 


"Mengabaikan? Siapa? Aku?" tanya Sela balik sambil menunjukan dirinya sendiri menggunakan jari telunjuk. 


"Iya kamu,"


"Apa aku tidak salah dengar Mas Harza sayang?"


"Ada apa denganmu, kenapa kamu berubah?"


"Aku berubah, masa sih. Sudahlah hari ini aku lelah, tolong jangan ganggu aku," ujar Sela sambil membalik tubuhnya kemudian mengingalkan Harza menuju kamarnya. 


Harza memincingkan sebelah alisnya dan berjalan mengikuti Sela dari belakang. 


"Apa jangan-jangan Sela sudah tahu hubunganku dengan Rani, apa jangan-jangan orang yang di bilang Rani itu Sela, ah tidak mungkin, ini tidak bisa di biarkan, Sela tidak boleh mengetahuinya," gumam Harza dan melangkahkan kakinya dengan cepat menyusul Sela yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar. 

__ADS_1


Harza yang sudah masuk ke dalam kamar, kemudian menuju ke arah tempat tidur, dan merebahkan tubuhnya, untuk menunggu Sela yah sedang membersihkan diri di kamar mandi. 


Setelah kurang lebih tiga puluh menit Sela keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi dan juga handuk kecil yang berada di tangannya untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


Harza menaruh ponsel yang sedari tadi dirinya mainkan di atas meja nakas yang berada di sisi ranjangannya. Lalu turun dari tempat tidur, dan berjalan menghampiri Sela yang sedang duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya. 


"Aku akan membantumu," Harza mengambil handuk kecil yang ada di tangan Sela, lalu mengeringkan rambutnya. "Sela, maafkan aku sekali lagi, aku sudah menuduh kamu yang tidak-tidak, sekali lagi maafkan aku,"


Sela tidak sama sekali menanggapi perkataan Harza, karena hatinya sudah di penuhi dengan kebencian pada suami yang sedang berdiri di belakangnya sambil mengeringkan rambutnya. 


"Tentu saja tidak, untuk apa memaafkan dirimu, yang jelas-jelas sudah melukai hatiku, aku di lahirkan bukan untuk di sakiti mas, dan kamu harus membayar rasa sakit hati ini," batin Sela lalu senyum terukir dari kedua sudut bibirnya dan tatapannya tertuju pada Harza dari pantulan kaca. 


"Tentu, aku akan selalu memaafkan mas Harza,"


"Terima kasih istriku," ucap Harza dan langsung memeluk Sela dari belakang di akhiri mencium pundak Sela. "Kamu adalah salah satu orang yang bisa membuat aku mendapatkan semua harta papa, dan aku tidak akan melepaskanmu, sebelum aku mendapatkan semuanya," gumam Harza sambil tersenyum dan tatapannya tertuju ke arah Sela dari pantulan kaca yang juga sedang menatapnya. 

__ADS_1


"Bagaimana kalau hari ini kita makan malam di luar?" ajak Harza setelah melepas pelukannya. 


"Maaf Mas sepertinya tidak bisa, aku sangat lelah, dan maaf juga aku tidak akan menyiapkan makan malam untuk malam ini, mas Harza bisa makan malam di luar,"


Sela berkata lalu beranjak dari duduknya menuju lemari pakaian yang ada dikamarnya. 


Harza mengerutkan keningnya pasalnya selama menikah baru kali ini Sela menolak ajakannya, dan lebih terkejut lagi saat Sela mengatakan tidak akan masak untuk makan malam, karena setahu Harza selelah apa pun Sela pasti akan memasak untuknya.


Lalu Harza berjalan menghampiri Sela dan memeluknya dari belakang. Ciuman di berikan oleh Harza tepat di belakang telinga Sela dan tangannya masuk kedalam jubah mandi yang masih Sela gunanakan lalu meremas gunung berchoco chips milik sang istri. Dan ini untuk pertama kalinya Sela sama sekali tidak terangsang dengan sentuhan Harza, karena baginya begitu sangat hambar. 


Lalu Sela melepas tangan Harza dan membalik tubuhnya menghadap sang suami. 


"Maaf mas,"


"Apa kamu akan menolak suamimu ini?"

__ADS_1


Bersambung..............


__ADS_2