BALAS DENDAM Terindah

BALAS DENDAM Terindah
39. Aku Mendukungmu


__ADS_3

Baru juga Sela ingin menghubungi yayasan penyalur asisten rumah tangga yang tertera di surat pengantar yang berada di tangannya untuk mencari informasi tentang Nia, tapi langsung dirinya urungkan saat pintu ruang kerjanya di ketuk dari luar.


"Masuk," ujar Sela dengan suara sedikit kencang dan pintu tersebut langsung di buka dari luar.


"Risa, ka–


Belum juga Sela meneruskan perkataanya Risa yang menggendong sang putri yang sedang tertidur di pelukannya, langsung menghambur memeluk Sela dan tangis yang sedari dirinya tahan kini tidak bisa di tahan lagi dan Sela pun membiarkan Risa menangis.


Sela menggenggam tangan Risa yang sudah berhenti menangis lalu memegang pipi Risa yang tampak jelas bekas tamparan, saat keduanya sudah berpindah tempat, di tempat istirahat Sela yang bersebelahan dengan ruang kerjanya.


"Ada apa, ceritakan padaku, apa ini ulah Hendri?" tanya Sela dan Risa pun langsung mengangguk.


"Aku tidak sanggup lagi tinggal bersama dengan Hendri dan mama, dan maaf aku tidak bisa mengikuti permainanmu, aku tidak sekuat kamu Sela, maafkan aku,"


Mendengar perkataan Risa, Sela lalu memeluk nya dengan erat sambil menepuk nepuk punggung Risa untuk beberapa saat, lalu melepas pelukannya. Kemudian beralih menggenggam tangan Risa kembali.


"Tidak masalah, kamu tenang saja, apa kamu meninggalkan rumah?"


"Iya,"


"Apa papa tahu?"


Risa menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Sela.


"Aku mohon, jangan suruh aku kembali,"

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah menyuruhmu untuk kembali, kamu pantas bahagia Risa, dan aku mendukungmu dengan kamu pergi dari rumah,"


"Tapi aku bingung, aku harus pergi ke mana, kalau aku pergi ke rumahku, pasti Hendri akan menemukan ku, aku ingin benar-benar menjauh darinya dan tidak ingin melihat wajahnya,"


"Tenanglah aku pastikan Hendri tidak akan menemukanmu,"


*


*


*


Sela memutuskan untuk membawa Risa dan juga putrinya untuk bersembunyi di tempat yang aman sesuai dengan keinginan Risa, tidak memperdulikan papa mertuanya yang pasti kuatir dengan menantunya tersebut, apa lagi dengan cucu satu satunya.


Risa mengikuti langkah Sela menuju depan pintu rumah tersebut lalu mengetuknya beberapa kali sebelum pintu tersebut di buka seseorang dari dalam.


"Bima, maafkan aku merepotkan mu,"


"Tidak masalah, ayo masuklah," ajak Bima tanpa bertanya lagi, saat Sela tadi sudah menceritakan semuanya lewat sambungan ponsel sebelum meminta bantuan pada Bima, dan dengan senang hati Bima bersedia membantunya, tepatnya membantu Risa.


"Bima, ini Risa," ujar Sela memperkenalkan Risa saat sudah berada di ruang tamu rumah Bima, dan keduanya langsung berjabat tangan dan berkenalan.


"Risa, anggap rumah ini sebagai rumahmu juga, jadi jangan sungkan-sungkan," ujar Bima sambil tersenyum ramah.


"Terima kasih,"

__ADS_1


"Bima, sekali lagi terima kasih,"


"Kamu seperti tidak tahu aku saja, Sela, Sela, sudah tenang saja, kalau kamu ingin tinggal di sini aku juga tidak keberatan. Itu yang dari dulu aku harapkan, kita bisa tinggal satu atap bersama,"


Mendengar perkataan Bima, Sela langsung memukul lengan nya yang kebetulan duduk di sampingnya.


"Jangan suka bercanda, makanya cari jodoh, jangan uang mulu yang kamu cari,"


"Ya cari uang dulu, baru cari jodoh, nanti gimana aku memberi kehidupan pada istri dan anakku kalau aku hanya mengandalkan harta orang tua seperti suami kamu,"


"Ko kamu tahu?"


"Ya tahu lah, kalau suami kamu pantas begitu karena orang tuanya sudah tajir, lah bagaimana dengan aku, orang tuaku saja sudah tidak ada, jangankan harta, yang ada sebelum mereka meninggal mereka menyodorkan kwitansi hutang mereka saat membiayai aku kuliah," ujar Bima sambil tersenyum lalu menepuk jidatnya sendiri.


"Kasihan,"


"Peyuk," ledek Bima sambil merentangkan ke dua tangannya.


"Peluk tuh tiang listrik, dari dulu sukanya ngibul mulu, aku tahu almarhum papa kamu bukan orang sembarangan,"


"Kan biar dramatis gitu, siapa tahu kamu lupa dan aku dapat pelukan dari kamu,"


"Bima!" teriak Sela dan tangannya langsung menjewer telinga Bima lalu kedua nya tertawa bersama, begitu pun dengan Risa yang mengukir senyum dari kedua sudut bibirnya melihat kekonyolan ke dua sahabat yang ada di hadapannya, dan mengalihkan kesedihan yang sedang di alami.


Bersambung.....................

__ADS_1


__ADS_2