
"Ibu kumohon."
Janed tersenyum.
"Hahaha...." Dia tertawa hampir menangis karena hal ini. Ini dia putraku... Putraku yang manis.
"Ibu akan berbicara padanya... Ibu akan bujuk dia untuk tidak melarang putraku dekat dengan putrinya."
"Sungguh!."
"Tentu... Putra Ibu meminta sesuatu untuk pertama kalinya setelah dewasa mana mungkin tidak ibu kabulkan." Ema mengelus rambut putranya dan berdiri dari kursi dan berjalan menuju pintu.
"Ibu akan menyakinkannya! Aku bersumpah."
Menutup pintu.
".... KYAAAA..."
Didepan pintu Janed berteriak bahagia sambil melompat-lompat, dia tahu ruangan di dalam kedap suara sehingga dia berteriak sangat keras diluar. "Ini luar biasa!." Wajahnya menjadi cerah dan berseri-seri.
"Luar biasa...! Luar biasa...! Luar bia-." Teriakan Janed berhenti saat melihat Asiah yang keluar dari kamar disebelahnya.
"...."
Sunyi....
"...."
Mengangguk.
"EHEM...." Janed memperbaiki posturnya lalu berjalan pelan kearah Asiah. "Halo... Lama tidak bertemu."
"Ah... Iya." Asiah gugup dan menerima jabatan tangan dari Janed.
"Kemana kamu akan pergi? Apa ibumu ada didalam?."
Asiah menjawab canggung, dia masing mengingat bagaimana dia bertemu dengan Janed sebulan yang lalu. "M-Mama tidak ada didalam, aku keluar untuk mencari Mama dan-."
"Kalau begitu...." Janed menghentikan Asiah lalu mengedipkan matanya.
"Apa kamu sudah melihat Ervin?."
Asiah tersenyum mesam lalu mengelengkan kepalanya sambil menunduk.
"Kasihan... Kalau begitu lihat dia sekarang, katakan padanya kalau aku memintamu untuk datang kesana."
"...."
Asiah memperhatikan wajah Janed yang berseri-seri sambil kebingungan.
"Tolong temani Ervin kami sebentar, kehadiranmu mungkin akan membuat dia lebih baik." Janed tersenyum lembut lalu menarik tangan Asiah menuju pintu kamar.
Sebelum membuka pintu Janed berbicara pada bodyguard. "Bisakah kalian mencari nyonya Rosen disekitar rumah sakit."
"Baik Nyonya." Satu Bodyguard mulai berjalan terpisah dan satunya lagi berjalan berlawanan arah.
"Kalian yang ada disini halangi siapapun yang masuk kedalam, tanpa seizinku tidak boleh ada yang masuk terutama suamiku."
"Saya mengerti nyonya."
Mengangguk.
Janed melihat Asiah lagi.
"Kalau begitu kamu masuk."
Janed membuka pintu lalu memepersilahlan Asiah masuk.
"T-terima kasih."
Asiah masuk kedalam.
KLAK.
__ADS_1
"...."
Melihat.
".... Kau ada disini?," Tanya Ervin heran.
Asiah melihat Ervin sejenak lalu menutup matanya. "Hahh...." Dia mengacak-acak rambutnya sampai berantakan saat melihat Ervin yang terluka parah.
"Hal gila apa lagi yang kalian lakukan dibelakang kami." Asiah berjalan pelan kearah Ervin lalu menyentuh wajahnya yang lebam.
Bibir Asiah bergetar saat mata mereka saling bertatapan.
"Asiah."
"...."
"Aku dapat restu dari Ayahmu."
Menetes.
Air mata Asiah jatuh.
"Dasar bodoh ... Tidak sampai seperti ini juga." Asiah menyentuh pipi Ervin dengan kedua tangannya lalu menghusapnya lagi. Hari ini Ervin telah mendapat banyak sentuhan diwajahnya tapi seperti biasa sentuhan dari Asiah salalu membuat hatinya bergetar hangat.
"Jika kamu mati lalu bagaimana dengan kami." Asiah melingkarkan tanganya di leher Ervin dan memeluknya erat sambil terisak kecil.
"Dasar bodoh dan tidak berotak."
"Ucapanmu kasar sekali." Ervin tersenyum lalu mengelus pundak Asiah pelan. "Kau benar, aku memang bodoh dan tidak berotak tapi kau suka aku yang seperti itukan?."
Asiah melepaskan lengannya dan melihat Ervin. "Aku sedang tidak bercanda," katanya lalu menekan luka sayat yang masih belum kering dipinggang.
"AWWWT- Awtt... Sakit Asiah sakit!!!." Tangan Ervin menyentuh tangan Asiah yang menekan lukanya.
"Sakitkan... Kupikir kamu tidak bisa merasakan sakit makanya masih bisa santai saat seluruh tubuhmu babak-belur."
"Bukan salahku babak belur, tangan Ayahmu terasa seperti palu ditubuhku... Ngu-... Tolong lepaskan tanganmu Asiah." Ervin masih berusaha untuk melepaskan tangan Asiah namun Asiah tidak mau menyingkirkan tangannya, dia hanya semakin menekan tangannya kedalam luka.
"AAAKG-." Ervin mengeliat sakit, dan menunduk kedepan rasa sakit ditekan saat ini lebih sakit dari saat dia ditusuk.
"Asiah.... Aku tidak— aku tidak tahu kau punya sisi sadis seperti ini tapi tolong lepas-."
Menekan.
"NGU—!!!." Keringat dingin mulai turun dari kening Ervin.
"Asiah! ... Nguu- ... Ah! Baiklah-baiklah... Aku tidak akan melawan Roberto sekali lagi... Aku jan-ngu... Aku janji! Hah... Hah...."
"...."
"Aku JANJI!."
"Kamu pikir aku akan percaya begitu saja?."
"HUHFF... HUHFF... HUHFF... P-percayalah... Aku berjanji...!"
"Kamu bukan orang yang pandai menepati janji."
"Kali Ini Aku Akan Melakukannya Sungguh!."
"... Kalau begitu aku akan menantikannya." Asiah melepaskan tanganya yang telah memerah karena darah lalu menatap puas kearah Ervin yang teregah-engah memegangi lukanya.
"Huh... Huh...."
Dalam batinnya. Wanita sangat menyeramkan saat kesal. Tangan Ervin menutupi lukanya, dia takut Asiah akan menekan luka itu lagi sehingga tanpa disadari Asiah dia menghubungi Ayahnya.
Clak... Tub.
Pintu di buka menampilkan Jefry dan Angela.
"Huh? Kapan kau ada disini nak?." Jefry menghampiri Asiah lalu melihat tajam kearah Ervin.
"Apa kau baik-baik saja bersama bajingan ini?," Tanya Angela.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja???."
"Ya ampun...." Angela melihat noda merah ditangan Asiah lalu melihat Ervin seakan dia ingin menerkamnya.
"Ada apa dengan lukamu? Kenapa jadi seperti itu?."
"Sebelumnya aku minta maaf karena aku 'Sengaja Menekan' lukanya," kata Asiah sambil tersenyum lembut.
"Em... K-kenapa?." Angela dan Jefry mendapati situasi aneh dan bertanya-tanya.
"Kenapa kamu menekan lukanya???."
Asiah menjawab. "Karena kupikir dia tidak bisa merasakan sakit makanya dengan bodoh berhadapan dengan Ayahku." Jawaban singkat dari Asiah mendapat anggukan kagum dari Jefry.
"Kamu melakukan hal benar, anak ini pantas mendapatkannya."
***
Ditaman yang banyak di lalui para pasien rumah sakit, seorang wanita yang tidak terlalu tua duduk sendirian di bangku taman sambil menautkan tangannya.
Pandangannya tertuju kebawah. Tidak memperhatikan orang-orang yang lewat dan melirik kearahnya.
"Hahh.... Mau hidup tenang saja susah."
"Permisi."
"Hem?."
Ema melihat kebelakang dan menemukan bahwa Janed adalah orang yang menepuk bahunya.
"...."
Tersenyum.
Janed tersenyum ramah.
"Bisakah kita berbicara."
"Tentu."
Setelah mendapat persetujuan dari Ema, Janed duduk disebalahnya.
Untuk sesaat mereka diam dalam kecanggungan.
"Malam ini langitnya bagus yah."
"Benar, kalau saja tidak sedikit mendung."
Sunyi.
Mereka kembali terdiam.
"Aku ibunya Ervin."
"Aku tahu."
"Karena kamu sudah tahu aku akan terus terang saja... Aku ingin supaya kamu tidak memisahkan anak-anak kita."
Kali ini Ema melihat wajah Janed.
"Aku tidak bisa."
"Mengapa tidak bisa?."
"Jika mereka terus bersama yang ada hanya luka yang terus bertambah."
"Apa itu karena skandal putraku?."
"Tidak. Putramu selebritis jadi aku tidak terlalu terkejut melihat skandalnya... Lagi pula ini tidak seperti putramu kedapatan bersama wanita untuk pertama kalinya."
Janed mengangguk.
"Lalu apakah karena putraku menyakiti putrimu?."
__ADS_1
"Sebagian iya dan sebagiannya lagi tidak."
Mendengar itu Janed sedikit binggung. "Hanya sebagian?."