
Pukul 06:01, Sore.
"Anda masih berada disini Tuan Muda," kata Julius yang melihat Ervin duduk sembari memandang Asiah yang tertidur lelap. Julius melihat bahwa saat ini Ervin yang sedang bermain-main dengan rambut hitam panjang Asiah diatas ranjang pasien.
"..., Kapan pemeriksaannya akan dilakukan."
"Kapanpun Nona Asiah siap Tuan Muda."
"...."
Ervin melihat Asiah lagi. Jari telunjuknya yang menyentuh pipih Asiah perlahan turun kebibir yang tertutup. Dia tertidur sangat pulas. Asiah bahkan tidak bangun ketika Ervin mengganggunya beberapa kali untuk membangunkannya. Dia pasti sangat kelelahan.
"Bagaimana dengan kondisi kepalanya, wanita sialan itu tadi menariknya cukup kuat, Aku khwatir kalau sesuatu yang buruk terjadi padanya."
"Aku sudah memeriksa kepalanya tadi dan tidak ada yang perlu di khwatirkan. Hanya saja kepalan tangan kanan nona Asiah sedikit terluka, aku akan bilang padanya untuk tidak terlalu sering mengunakan tangan kanannya untuk sementa-."
"Oh jadi begitu."
Ervin memindahkan tangannya dari bibir ke tangan kanan Asiah yang di balut perban tipis. Ingatan akan pertengkaran pagi hari tadi kembali membuatnya marah. Wanita tua itu harus menerima akibatnya... Di depan mataku dia berani!-.
"Nngh." Asiah menggeliat sedikit tetapi masih menutup matanya. Dia benar-benar tertidur sangat pulas sampai tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya lagi. Tak sadar dia mengambil tangan Ervin yang menyentuh tangan kanannya dan menjadikannya bantal di wajahnya.
"..., Julius."
M
"Yah Tuan Muda?."
"Keluarlah."
"B-baik Tuan Muda." Setelah Julius keluar dari kamar, Ervin kembali berbaring di sebelah Asiah. Memandang wajah tertidurnya dan mengelus perut besarnya. "Apakah wanita selalu secantik ini saat tertidur?." Dia memandang wajah Asiah begitu lekat, seakan-akan menelusuri setiap inci di wajahnya yang putih bersih.
Dia punya tahilalat di bawah bibirnya, hidungnya mancung, bibirnya merah merona- aku tidak memperhatikan ini saat tidur dengannya lima bulan yang lalu.
Ervin tersenyum setiap kali dia mengetahui hal baru dari wanita didepannya itu. Akan tetapi tiba-tiba saja moodnya berubah derastis saat matanya memandang rambut Asiah. Ah~ wanita sial itu.... Dia menarik rambutnya dan membuatnya memuntahkan darah. Ekspresi wajahnya mengeras. Ervin mengelus rambut Asiah sejenak lalu bangun dari tempat tidur, mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan menghubungi bawahanya.
__ADS_1
Ervin berbicara pelan. "Tangkap wanita bertama Debora di Avenir, seret dia kegudang pelabuhan dan tunggu aku disana," kata Ervin pada seseorang di sebrang telefon.
Ervin mengahiri panggilan. Kemudian, mengambil jaket hitam yang tergeletak di atas sofa dan memakainya. Sebentar dia memalingkan wajahnya pada Asiah yang masih tertidur pulas.
KLIK.
Ervin mengambil gambar Asiah yang sedang tertidur dengan kamera ponselnya. Kemudian dia membuka pintu dan keluar dari kamar pelan, tak lama berjalan dia bertemu dengan Julius yang sedang berbicara dengan dokter.
"Julius."
"T-tuan Muda!."
"Segera lakukan pemeriksaan setelah dia bangun. Berikan juga dia makan, aku akan pergi sebentar jadi jangan sampai aku melihatmu melakukan kesalahan sedikitpun."
Julius menaggukan kepalanya setelah mendengar perintah dari Ervin. "Baik Tuan Muda, ... Kenapa anda akan pergi."
"Bukan urusanmu."
"Ah- bukan itu, bagaimana saya menjelaskan pada Nona Asiah nantinya jika dia bertanya kemana anda pergi."
"..., Bilang saja aku kembali ke Aishwa."
"...."
Ervin mengabaikan Julius dan tetap berjalan lurus menuju pintu keluar rumah sakit sampai akhirnya langkahnya terhenti karena getaran dari ponselnya. Sebuah pesan masuk yang dikirimkan oleh Ibu dan Kakaknya terlihat memenuhi layar ponsel. Dan ada juga satu panggilan dari Ayahnya namun segera dia abaikan. Ervin masuk kedalam mobilnya dan melaju dengan kencang menuju pelabuhan Marseille.
***
Malam Hari Pukul 07:00.
Malam itu, terlihat banyak pria yang terlihat berumur 50-60 tahun keatas, sedang berkumpul di sebuah lapangan golf pribadi yang berada di sekitar wilayah perumahan keluarga Alvaro. Mereka terlihat begitu sibuk dengan aktifitas yang mereka lakukan, ada yang berbicara dengan temannya dan ada juga yang sedang asik memukul bola hingga mengabaikan sekitarnya. Bahkan pemilik properti pribadi itu sendiri terlihat sedang membersihkan stik golfnya dengan senyum bahagia di bibirnya.
"Hei Jef... Kamu terlihat bahagia malam ini, tidak terlihat seperti biasanya."
"Hem? Oh, hahaha. Apa kamu penasara?."
__ADS_1
"Aku-"
"Penasarankan, tapi tidak akan kuberi tahu dulu," kata Jefry dengan tawa dan senyuman yang lebar. Aku ingin segera mengatakan kalau putraku sudah dewasa pada teman-temanku tapi, itu mungkin akan menjadi resiko bagi wanitanya, karena saat ini skandal dengan model itu masih belum mereda. Jefry cukup serius tak terduga Ervin setelah dia mengetahui kalau putranya akan segera menjadi Ayah. Haruskah aku menyingkirkan Olivia untuk Ervin dan pasangannya?.
Tiba-tiba Jefry tersenyum bahagia. "Kira-kira seperti apa wanita yang dia sedang dia kencani." Gambaran-gambaran dari beberapa wanita mulai yang pernah terlibat skandal dengan Ervin terlintas di otaknya. Jefry mulai membayangkan seorang wanita dengan payudara besar dan bokong yang besar. Kalau tidak salah, Ervin suka tipe yang seperti itu. Kemudian dia juga membandingkan mantan kedua Ervin yang merupakan wanita dengan penampilan terbuka. Apa yang seperti itu?.
"Haisss... Putraku tidak pernah bertemu wanita yang benar."
"Hem?."
"Tidak, bukan apa-apa."
"Jadi Jef, bagaimana dengan calon menantumu itu?."
"Calon yang mana?."
"..., Ya super model Olivia LaRuorin lah! Memangnya siapa lagi?, Bukankah berita mengatakan kalau Ervin di lamar di acara ulang tahun Istrimu," tanya Dev dengan wajah heran.
"Tunangan apanya?, Ervin bahkan tidak menerima lamaran wanita itu, tsk. Gosip zaman sekarang memang aneh-aneh."
"Hemm... Kamu ada benarnya, Ervin tidak terlihat seperti pria yang suka dilamar. Tapi bukankah kamu seharusnya bahagia karena keluarga kalian akan mendapat dukung dari keluarga LaRuorin yang sangat terkenal itu?."
"Hah? Bahagia karena mendapat dukungan dari mereka?, Apa kau tidak salah ketika mengucapkan kalimatmu?. ....
"Keluarga Alvaro tidak membutuhkan dukungan dari keluarga manapun. Kamilah yang memberi dukungan pada keluarga lain seperti dirimu dan keluargamu yang lain.
"Kami tidak membutuhkan bantuan dari keluarga LaRuorin untuk mempertahankan status kami di muka umum." Jefry berdiri dari tempat duduknya dan melihat temannya dengan wajah penuh ketegasan. "Dev lain kali jaga kata-katamu. Kau beruntung karena aku sudah tidak membunuh orang lagi seperti dulu, akan tetapi tidak akan ada yang tahu kapan aku kembali melakukan perbuatan jahatku sekali lagi.
"Jadi jagalah mulutmu itu kalau kau masih ingin melihat diriku yang sekarang." Jefry berjalan menuju lapangan golf, meletakan bolah ditanah dan memukulnya dengan keras. Hemm... Aku pikir sifat Ervin benar-benar meniruku. Jefry kembali memukul bola yang di letakan pelayan di atas rumput.
Di tempat lain.
KLANG.
Sebuah piring makanan terjatuh di lantai.
__ADS_1
"Tu-Tuan Muda Ervin! Ini tidak seperti yang anda pikirkan!," Kata Julius dengan suara gemetar.
"BAJINGAN SIALAN! BERANINYA AKU MENYENTUH WANITAKU!," Geram Ervin.