Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 38.


__ADS_3

"Pulang?, Apa dia pikir sekolah ini adalah tempat dia datang dan pergi begitu saja dengan mudahnya setelah tidak hadir selama Tiga Hari?." Debora melihat Mery dengan tatapan tajam, dia tidak suka dengan Asiah akan tetapi, dia lebih tidak suka dengan Mery yang selalu ikut campur setiap kali dia ingin menganggu Asiah.


"Ap—"


"Mis Mery..., Kalau dilihat-lihat anda selalu perhatian pada kesehatan Miss Asiah, itu membuat saya penasaran dengan hubungan kalian berdua, tunggu!. Jangan bilang kalau kalian—"


"Mis Debora lepaskan tanganku dan menyingkirlah. Sejak awal saya memang tidak memiliki niat untuk menjawab sapaan anda."


".... Wahh! Lihat ini, Mis Mery, kamu terlalu memanjakan anak kecil in—"


"Yang anak kecil sebenarnya siapa disini?. Lihatlah dirimu dulu Miss Debora, apakah kamu berfikir tindakan yang saat ini kamu lakukan merupakan tindakan orang dewasa?."


Debora mengangkat wajahnya keatas, dia melihat Asiah dengan tatapan angkuh.


"Saat ini saya sedang tidak ingin menanggapi lelucon murahan ada, jadi jangan ganggu saya untuk hari ini."


"Oh?. Benarkah?, Kamu sangat menyebalkan Miss Asiah, perlukah saya berbicara dengan kepala sekolah siapayah kamu di pecat secara tidak terhormat?," Kata Debora dengan senyuman licik di wajahnya.


"...."


Asiah menjadi kesal, dia mengepalkan tangannya dan bersiap-siap untuk memukul wajah menyebalkan didepannya itu. Untungnya Mery cukup sigap, dia menyentuh kepalan tangan Asiah dan menghusap punggungnya. Tenanglah Asiah, kamu tahukan kalau Lacur di depan kita ini adalah selingkuhan Kepala Sekolah.


Asiah mengetahui apa yang di katakan batin Mery dan segera melonggarkan kepalan tangannya, Asiah tidak mau reputasinya menjadi buruk hanya karena masalah sepele yang di sebabkan oleh wanita di depannya itu.


"Huhh...." Asiah melepaskan kepalan tinjunya. Pada akhirnya Asiah tidak membalas ucapan Debora dengan pukulan. Dia memilih untuk diam saja sambil mendengar semua profokasi Debora. Hingga akhirnya dia mendengar sesuatu yang membuatnya sangat marah. "Asiah, wanita sepertimu ini seharusnya tahu kepada siapa kamu harus bersikap baik contohnya kamu seharusnya lebih hormat padaku~."


"...."


"Ekspresinya terlihat menjengkelkan. Kamu bersikap sangat aneh?. Sebanarnya aku sangat penasaran denganmu sejak awal?." Debora berjalan mendekati Asiah, dia menyentuh perut Asiah dan mengelusnya beberapa kali. "Hei?, Bayimu ini bukan hasil dari bayi tabungkan?, Katakan padaku, pria mana yang kamu jadikan Sugar Daddymu?."


"MISS DEBORA!!!." Debora mengabaikan teriakan Mery dan terus mengamati ekspresi di wajah Asiah, dia menikmati bagaimana wajah Asiah memerah karena menahan amarahnya. "AHAHAHA... TERNYATA KAMU SAMA JUGA DENGANKU, HEI... KATAKAN PADAKU KEPADA SIAPA KAMU MENJUAL— KYAAA—"

__ADS_1


"...."


Menarik Keras.


Asiah menarik rambut Debora. Dia tidak perduli lagi dengan apa yang akan terjadi padanya. "Kamu itu- ... Hanya karena kamu lebih tua dariku, bukan berarti kamu bisa menghinaku seperti itu, dan lagi sebagai info"


PLAK.


Setelah selesai menarik rambut Debora, Asiah menampar pipi Debora dengan sekuat tenaganya. "Kami hanya saling menguntungkan saja." Asiah mengambil segumpalan rambut di kepala Debora sekali lagi, kali ini dia juga mencengkram wajah Debora dan menekannya di atas lantai. Debora yang tidak bisa berkutik menggeliat di lantai sedangkan Mery berusaha untuk menenangkan Asiah dengan memeluknya dari belakang.


"Sama denganmu...? Yang benar saja. ... Well aku memang sama denganmu untuk beberapa alasan tapi!- Tidak sepertimu aku tidak butuh seorang pria untuk membelikan aku baju dan perhiasan ketika aku bisa menghidupi diriku sendiri."


Buk.


Asiah mesih belum melepaskan tangannya dari rambut Debora dan terus membenturkan kepala Debora kelantai. "Kamu ingin mengunakan selingkuhanmu untuk mengancamku?!, Aku menantangmu untuk melakukannya!."


Asiah masih belum puas untuk menghajar Debora, walau Debora sudah terlihat tidak memiliki kekuatan untuk melawan Asiah lagi. Asiah melihat Debora yang meringis namun mengabaikannya, malahan Asiah menindih tubuh Debora dan menampar wajah Debora berulang-ulang dari atas. "Damn ***** just die!!!"


"ASIAH HENTIKAN...! SUDAH CUKUP NANTI KAMU TERKONTAMINASI OLEHNYA!," teriak Mery. Dia mengunakan seluruh tenaganya untuk menarik lepas Asiah dari atas Debora yang meringis.


"HUHHF.... HUHFF... J-LANG INI!, LIHAT SAJA APA-HAHH... LIHAT SAJA NANTI!!!," Debora mulai berteriak.


"HAH?, AKU JUGA TIDAK INGIN MELIHATMU LAGI BESOK JADI KITA SELESAIKAN SAJA SEKARANG!," Teriak Asiah kembali.


"Asiah! Asiah, tenanglah. Tidak baik bagi ibu hamil berkata kasar dan emosian seperti ini. Bisa berbahaya nantinya untuk bayimu!. Sudah yah~ tahan emosimu Asiah... HUFF.... HUHFF... Bernafas pelan yah!," kata Mery selembut mungkin untuk menenangkan Asiah. Untuknya apa yang dia katakan berhasil membuat Asiah tenang, dia tidak lagi berusaha untuk melepaskan dirinya dari pelukan Mery dan mulai bernafas dengan tenang.


"Huhh... Huhh... Baiklah... Aku akan biarkan dia untuk kali ini, hanya untuk kali ini!. Jika dia mengatakan omong kosong itu lagi maka aku akan menghabisinya."


"Iya-iya jadi tolong tenangkan dirimu untuk saat ini, dia hanya akan semakin diuntungkan nantinya kalau kamu terus menghajarnya."


"Haaa—Huhhh...."

__ADS_1


Asiah menutup matanya sejenak sampai dia merasa lebih tenang. Kemudian dia mengatakan pada Mery untuk melepaskan pelukannya. "Aku sudah tenang sekarang, aku sudah tidak mau menyerangnya lagi." Mata melihat Debora merosot ke lantai setelah bersusah payah untuk berdiri.


"Apa kamu yakin?."


"Iya." Mery memeriksa wajah Asiah, setelah memastikan Asiah tenang sepenuhnya akhirnya dia melepas pelukannya dari tubuh Asiah. "Huhh ... Berhati-hatilah Asiah, lain kali ingat kalau kamu sedang hamil besar sekarang!!!.


"Kalaupun ingin menghajar seseorang seharusnya kamu mengunakan senjata dari pada mengunakan tanganmu, kalau lecet nanti bagaimana?.


"Pukul dia dengan sapu, batu atau apalah... Jangan mengunakan tanganmu nanti jadi kotor!." Mery memegang tangan Asiah yang sedikit terluka. Dia menghapus sedikit darah dari tangan Asiah mengunakan lengan bajunya.


"Kamu ini... Kamu membuatku hampir terkena serangan jantung!."


Asiah melihat kekawatiran yang belum pernah dia lihat dari wajah Mery sebelumnya. "Aku minta maaf, kemungkinan kamu terkena imbas dari masalah ini—"


"Jangan menghawatirkan aku, kepala sekolah sebenarnya sepupu dekatku jadi tidak akan ada masalah untukku nanti," bisik Mery.


"Tetap saja aku minta maaf-"


"Yah yah, kalau begitu segera pulanglah. Akan aneh nantinya kalau ada guru yang melihatmu disini."


"Bagaimana dengan Mis Mery?."


"Aku akan tetap di sini untuk membawa Miss Debora ke ruang kesehatan jadi cepatlah pergi pergi sekarang!"


"Baik."


Asiah melihat kearah Debora, sebelum pergi Asiah merapikan rambutnya yang juga ikut berantakan karena perlawanan dari Debora barusan. Tsk, kalau saja tidak ada mis Mery maka dia sudah habis hari ini. Asiah berjalan melewati Debora, dia membuka pintu dan segera keluar menuju perkiraan.


Seperti yang dikatakan oleh Mery, sekolah masih sangat sepih dan masih belum ada orang yang datang selain beberapa satpam yang berjaga itupun mereka terlihat sangat canggung saat melihat kearah Asiah.


"Huhhhf..."

__ADS_1


Sepertinya keributan yang kami lakukan sampai terdengar keluar. Asiah menghusap punggung lehernya yang berkeringat dan bergegas menuju parkiran mobilnya, setibanya dia di depan mobil.


"Eh? Miss Asiah?."


__ADS_2