Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 29.


__ADS_3

"Hemm~ inginnya seperti itu, tapi ini sudah tiga hari dia tidak muncul jadi aku akan pulang saja, aku juga harus segera bekerja besok."


"Langsung bekerja! Apa kamu tidak akan beristirahat dulu untuk sementara?."


"Nahh... Aku tidak bisa beristirahat cukup lama, murid-muridku mungkin sudah merindukanku sekarang dan aku juga harus melakukan persiapan Enam bulanan."


"Ooh... Kalau begitu kita pergi bersama saja, aku tidak ingin berada di sini sendirian ketika Tuan Muda kembali nanti. Aku tidak ingin menerima ledakan amarahnya."


"Apa dia selalu begitu?."


"Kalau tidak selalu seperti itu maka aku tidak akan menderita seperti ini."


"Tsktsk... Baiklah hanya sampai pintu depan rumah sakit saja." Asiah mengambil tasnya dan turun dari atas kasur. "Jangan lupa membawa obatmu, kamu tidak akan mendapatkan itu dimanapun."


"Apa kamu yang membuatnya."


"Tentu saja."


Julius tertawa dengan bangganya saat mengakui obat buatannya. Asiah juga tersenyum melihat Julius yang tertawa, hanya dalam waktu singkat Julius dan Asiah mampu membangun hubungan baik seperti seorang saudara kandung.


"Ah! Ngomong-ngomong biaya rumah sakit-"


"Tuan Muda yang menanggungnya."


"Hem? Bukankah itu cukup berlebihan?."


"Tapi Tuan Muda memang sudah membayar seluruh tagihan rumah sakit. Dia bahkan cukup berani mengakui kalau dirinya adalah suamimu."


"Apa dia sudah gila?."


"Tuan Muda memang sudah lama gila, jadi apa yang kau harapkan dari itu," Julius mengangkat bahunya dan berjalan lurus menuju pintu. "Lagi pula kalau kamu yang membayar rumah sakit apakah kamu sanggup? Tagihannya cukup ting-"


"HAH?, Apa kau meremehkan aku?!," Asiah berbicara dengan nada jengkel. "Biar aku berpenampilan seperti ini nyatanya aku ini cukup kaya untuk membeli rumah sakit ini."


Itu benar, Asiah cukup kaya untuk membeli sebuah rumah sakit dengan seluruh karyawan di dalamnya. "Tuan Julius anda tidak boleh meremehkan seseorang sebelum mengetahui asal usulnya." Asiah menunjukan ketidak sukaannya pada perkataan Julius.


".... Ahaha, sejenak aku lupa kalau anda adalah seseorang yang cukup berani untuk menipu Tuan Muda, dapat kutebak anda bukan dari keluarga sembarangan." Angguk Julius.


"Ini bukan hanya tentang kekayaan tapi ini juga tentang bagaimana anda berperilaku pada seseorang."


"Iya iya aku tahu, biasanya orang-orang yang dekat dengan Tuan Muda selalu mengunakan pakaian bermerek nanmewah jadi...." Julius melihat Asiah dari atas ke bawah. "Melihatmu yang mengunakan baju biasa seperti ini membuatku berfikir kalau kamu adalah orang dari kalangan bawah."


"..., Jangan pernah mengatakan itu di depan umum tuan, anda bisa mendapat masalah jika lawan bicara anda adalah orang yang memiliki kepribadian buruk.

__ADS_1


"Contohnya bayangkan saja kamu berbicara seperti itu pada Ervin yang sedang mengunakan baju merek biasa."


"Itu tidak mungkin, Tuan Muda selalu mengunakan pakaian brand-"


"Aku bilang coba bayangkan."


"...."


Julius mencoba untuk membayangkan seperti yang di katakan oleh Asiah, dia melihat gambaran yang di sampaikan Asiah dan sekujur tubuhnya merinding karena ketakutan. "Aku pikir aku tahu maksudmu."


"Hemp... Kupikir hidup dengan keluarga kaya itu telah memudarkan kemampuan bersosialmu... Tapi tidak masalah jika kamu sudah mengerti yah sudah."


Asiah berjalan menuju knop pintu dan berdiri di sebalah Julius, kamar yang di gunakan oleh Asiah memiliki pintu kamar yang harus mengunakan pin khusus untuk masuk kedalamnya jadi dia harus menunggu beberapa saat sampai Julius membukakan pintu untuknya. Tak lama setelah Julius memasukan pin pintu terbuka, kemudian dia menarik pintu kamar.


"AAAK!-"


"HUH???."


Julius terkejut dan mundur selangkah, dia jatuh kelantai ketika kakinya tiba-tiba saja lemas. "Hei? Kamu baik-baik sajakan?." Asiah menarik tangan Julius dan membantunya untuk berdiri.


"Sepertinya kalian cukup akrab."


"...!"


Ervin muncul dari balik pintu.


"Kamu-"


"...."


Pandangan mata Ervin tertuju pada tangan Asiah yang memegang pundak Julius. Melihat itu Ervin mengerutkan dahinya dan menghela nafas. Ervin tersenyum kearah Julius sambil berkata, "Julius... Sepertinya kau sudah bosan untuk hidup."


"Ap-"


Julius masih belum mengerti apa yang di maksud Ervin sampai dia mengikuti pandangan mata Ervin. Pandangan matanya terus-menerus menatap tangan Asiah yang menyentuh bahu dan pundaknya. Sial. Dia segera menjauh beberapa langkah dari Asiah dan berpura-pura merapikan pakaiannya.


"Apa kau baik-baik saja?."


"Kalian bahkan tidak mengunakan bahasa formal lagi, aku jadi iri."


"...."


Kenapa dia tersenyum kearahku. Leher Julius berkeringat dingin, tatapan dingin Ervin menusuk sampai tulang-tulangnya. Setidaknya katakan sesuatu, jangan hanya berdiri saja di sana!, Batin Julius.

__ADS_1


"Sudah berapa lama kamu ada di balik pintu?." Asiah membuka pembicaraan dan mencairkan suasana. Ervin yang mendengar suara Asiah mengalihkan pandangannya, dia menatap wanita hamil di depannya lalu tersenyum lagi.


"...?"


"...?"


Asiah dan Julius bertanya-tanya dalam benak mereka. Apa yang terjadi padanya?. Mereka serentak merinding melihat tingkah Ervin barusan. "Hei? Apa kau baik-baik saja," tanya Asiah pada Ervin.


"Tentu, aku sangat baik-baik saja."


Ervin tersenyum setiap kali Asiah bertanya padanya. Asiah secara refleks melihat kearah Julius yang juga kebingungan. Kamu tidak bilang kalau dia punya kepribadian ganda?.


Julius juga melihat kearah Asiah. Tuan Muda tidak punya kepribadian ganda dan ... Ini juga pertama kalinya bagiku. Pikiran dan batin mereka seolah-olah terhubung ketika membahas Ervin.


Ketika Asiah dan julius sibuk saling menatap Ervin melangkahkan kakinya kedepan menuju Asiah. Ervin memalingkan wajah Asia yang melihat Julius menjadi menghadapnya.


Ervin menyentuh lembut wajah Asiah dan memeriksa dengan lembut kening Asiah. "Sepertinya demammu sudah hilang sepenuhnya." Ervin menatap lembut Asiah, mata birunya terlihat begitu tenang. Setiap kali dia melihat dan memandang wanita di depannya itu rasanya suasa hatinya yang memburuk tiba-tiba sirna.


"Ini bagus, aku lebih suka melihatmu seperti ini dari pada menangis karena kesakitan." Belayan lembut Ervin sejenak membuat Asiah melupakan bahwa Ervin adalah seseorang yang sangat kasar dia langsung sadar ketika Julius mengerang karena terkejut dengan apa yang di lakukan Ervin.


"Ugh-!!."


Asiah menudur selangkah dan menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya kalau sejenak dia terbuai akan sentuhan lembut Ervin. Sedangkan Ervin dia melihat Asiah masih dengan ekspresi sama namun segera menjadi muran ketika Julius berbicara.


"T-tuan Muda, apakah anda-"


"Tsk."


"...."


Ervin tidak memperdulikan apa yang akan di katakan oleh Julius, dia mengambil lengan Asiah dan membawanya keluar dari kamar pasien. "He-HEI?! Kemana kau akan membawaku?." Asiah ikut berjalan bersama Ervin. "Tentu saja membawamu pulang."


"Kemana?."


"Tentu saja kerumahmu, memangnya kau mau kerumahku?."


"Tidak!."


"Kalau begitu diam dan ikuti saja aku," Ervin mengeratkan pengangan tangannya sampai membuat Asiah meringis. "Ugh. Kau memegang lenganku terlalu kuat, rasanya sakit," kata Asiah.


"...."


Ervin melepaskan pegangan tangannya dari lengan Asiah dan memegang telapak tangannya.

__ADS_1


"...?"


"Kau bilang lenganmu sakit jadi aku memegang telapak tanganmu apa tidak masalah?." Ervin memberikan senyuman lembut pada Asiah, Asiah bisa melihat senyuman itu walau Ervin saat ini mengunakan masker.


__ADS_2