
Asiah mengigit kuku jarinya yang masih bergetar, dia berusaha untuk menengakan pikirannya dengan melakukan berbagai hal, dia ingin segera menghubungi kedua orang tuanya namun khwatir dengan apa yang akan di lakukan oleh kedua orang tuannya ketika melihat kondisinya saat ini, dan akhirnya Asiah tidak jadi menghubungi mereka.
"Hahh...."
Asiah lebih memilih untuk keluar dari rumahnya dan berjalan-jalan di sekitar taman yang tak jauh dari rumahnya. Hanya karena satu foto bisa-bisanya aku keluar malam seperti ini. Padahal ini sudah masuk jam tidurku dan besok juga harus bekerja. Asiah menghela nafas, dia berjalan-jalan di taman cukup lama sampai suasana hatinya mulai membaik.
Asiah duduk di bangku taman yang menghadap langsung kearah danau buatan yang cukup sangat cantik karena lampu-lampu yang menyinari danau buatan tersebut. "Huhh...." Dia melihat masih banyak orang-orang yang lewat di taman, ada yang berjalan bersama pasangannya dan ada yang berjalan sendirian menikmati udara sejuk dan kesunyian malam yang menenangkan.
"Ini sudah Enam Tahun sejak terakhir kali kami bertemu, aku bahkan tidak tahu dia masih Hidup atau Tidak tapi mengapa...?" Asiah menutup matanya, jari-jarinya mulai bergetar setiap kali dia mengingat wajah itu, ingatan akan trauma yang dulu dia alami terus terlintas seperti sebuah filim. "Huhhf... Huhff... Lupakan! Lupakan! Lupakan!. Jangan mengingatnya!, Ini sudah Enam Tahun berlalu jadi lupakanlah!," Gumam Asiah.
Asiah mengigit ibu jarinya hingga terluka, nafasnya terdengar begitu berat setiap kali dia berusaha untuk mengatakan 'Lupakan' . sambil menutupi wajahnya yang berkeringat. "Ngh- aku pikir untuk sementara ini aku tidak akan menghubungi siapapun." Asiah berdiri dari bangku taman, dia berjalan kembali menuju rumahnya dengan begitu waspada.
Sesampainya di rumah dia tidak masuk kedalam kamarnya melainkan masuk kedalam kamar tamu, dia masih takut dengan ponselnya yang sudah hancur layarnya. Dia buru-buru membaringkan badannya dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal kemudian tertidur setelah beberapa saat kemudian.
...🌸🌸🌸...
29 Juli 2024.
Pukul 05:01, Pagi.
Membuka Mata.
"Nungh."
Pagi ini berlalu lebih cepat. Asiah terbangun lebih awal dari yang dia harapkan, semalaman penuh dia tidak bisa tertidur dengan nyenyak karena berulang-ulang mengalami mimpi buruk yang sama setiap jamnya, di tambah bayi dalam kandungannya begitu bersemangat untuk bergerak aktif ketika ibu mereka sedang kesulitan untuk tertidur.
__ADS_1
"Huhh... Ini pagi yang melelahkan." Asiah mengerutu dan terbangun dengan raut wajah kusam. Dia turun dari kasurnya dan langsung menuju kamar mandi, perutnya yang semakin membesar membuatnya kesulitan untuk bergerak bebas melangkah dengan hati-hati di kamar mandinya.
"Apa lebih baik aku tidak bekerja saja?." Asiah menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri. "Tidak, aku sudah mengambil cuti selama tiga hari, kalau mengambil sehari lagi bisa-bisa aku mendapat teguran." Asiah melihat kearah cerminnya, dia menatap kusamnya yang kelelahan. Kantung matanya bahkan hampir terlihat jika di perhatikan dengan teliti.
"Aisss... Seperti yang aku harapkan, hari ini pasti tidak baik-baik saja."
Setelah selesai dari kamar mandi, Asiah memakai baju kerjanya dan menyusun peralatan mengajarnya, tak lupa dia menulis pesan dari laptobnya untuk Ayah dan Ibunya termasuk Erika supaya tidak menghubunginya untuk sementara. Selesai menulis pesan Asiah berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan.
"Ham?."
Ketika Asiah membuka kulkasnya dia hanya menemukan roti dan telur saja di sana. "Kemana semua bahan dapur yang aku beli?."
Asiah membongkar beberapa lemari untuk mendapatkan bahan-bahan makanan namun semuanya telah habis. "Aku pikir selepas kerja nanti, aku harus mampir ke supermarket."
Asiah memasak makanan dan menatanya rapi di atas meja, tak lupa dia menyiapkan segelas susu yang pernah di anjurkan dokter untuknya. Di dalam ruangan yang sepih dan remang, Asiah makan cukup lahap walau suasana hatinya cukup buruk lagi ini.
Asiah masuk kedalam mobil dan mengeluarkan mobilnya dari parkiran rumah, setelah itu dia kembali turun dari mobilnya untuk menutup pagar dan memastikan kalau rumahnya sudah aman. "Tsk, aku harap aku tidak melampiaskan kekesalan ini pada anak muridku nantinya," gumam Asiah.
Suasana hatinya sudah buruk sejak awal dia bangun pagi tadi jadi, Asiah sedikit khwatir kalau hari ini tidak akan berjalan dengan baik seperti biasanya. Bayi dalam kandungannya bahkan masih bergerak sangat aktif membuat Asiah sedikit resah dan kewalahan karena dia cukup sensitif akan sesuatu sekarang. Moodku benar-benar buruk hari ini.
"Kalian membuat ibu sedikit kesulitan pagi ini...." Asiah memejamkan matanya sebentar. "Kalau saja ibu tidak melihat foto itu semalam maka mood ibu akan baik-baik saja sekarang," Mengelus perutnya.
"Hahh... Tidak ada yang bisa memprediksi sebuah kebetulan." Asiah melajukan mobilnya dan berangkat menuju sekolah Avenir yang membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai kesana.
***
__ADS_1
Pukul 07:08.
"Eh???, Miss Asiah!, Kamu sudah masuk kerja?!."
"Ahaha... Begitulah. Mis Mery, selamat pagi."
"Tunggu, tunggu dulu!, Bukankah kamu-"
"Selamat pagi mis Mery."
"Hahh... Selamat pagi juga Miss Asiah. Sekarang jawab aku, bagaimana kamu bisa masuk kerja?."
"Hem?, Aku masuk kerja karena aku sudah sehat?, Tolong gunakan bahasa yang benar dan tenanglah sedikit, anda terlihat khawatir seolah-olah aku mengalami musibah buruk saja."
"Hahh... Serius?. Anda mengatakan diri nada sudah sehat tapi lihatlah wajahmu!. Begitu tirus dan tampak lelah, aku bisa melihat mata pandamu itu, apakah kamu mau menunjukan penampilan menyedihkamu itu di hadapan murid-murid yang kamu sayangi?."
"Mata panda?, Aku sudah mengunakan banyak makeup tadi tapi bagaimana bisa dia melihat itu," gumamnya pelan.
Asiah menyentuh wajahnya dia merasa kalau makeup yang dia gunakan untuk menutupi dark circle di matanya masih kurang banyak. Perlukah aku mempertebalnya lagi?.
"Asiah, apakah saat ini kamu tahu seperti apa wajahmu?. Tidakkan. Coba berkacalah," kata Mery yang merogoh kedalam tasnya. Mery mengambil kaca kecil berbentuk persegi dan memberikannya pada Asiah. "Lihatlah seperti apa wajahmu."
Asiah mengambil cermin dari tangan Mery. Dia melihat pantulan wajahnya pada cermin kecil itu. Tidak ada yang berubah. Asiah masih tidak mengerti bagaimana cara Mery menemukan dark circle di wajahnya.
"...."
__ADS_1
Mery merasa kesal melihat respon wanita didepannya, dia mengambil cermin kecil dari tangan Asiah dan langsung menghisap makeup yang menutupi wajah Asiah dengan tangannya. "He-HEI?! Apa yang kamu lakukan?."
"Jangan berfikir untuk menambah riasan di wajahmu lagi, itu akan berbahaya. Kamu tidak tahu bahan apa saja yang terkandung dalam riasan itu." Mery mengomel pada Asiah sembari menghapus makeup tipis pada wajahnya, lalu Mery menarik tangan, membawanya menuju ruang kesehatan.