Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 70.


__ADS_3

***


Ditempat lain Asiah sedang dalam masa introgasi dengan kedua orang tuanya. Pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan padanya di kamar tidur besar berwarna merah dan hitam itu. "Jadi... Kalian sudah tinggal bersama selama beberapa saat... Yah?," Tanya Roberto.


"Be-begitulah...."


"Anak ini sekarang jadi semakin ceroboh... Apakah kamu tidak tahu kalau berbahaya tinggal bersama seorang pria yang tidak dikenal?."


"Aku tahu tapi aku—."


"Apa...? Apa kamu akan melindungi bajingan itu?, Apa kamu akan mengatakan kamu tinggal bersamanya hanya karena kamu mengandung bayinya?."


"Ayah—."


"Ayah kecewa padamu...." Nadanya terdengar sedih, Roberto beranjak dari tempat tidur lalu keluar dari pintu.


Brak.


Sekarang hanya tinggal Asiah dan Ema didalam kamar. "Jadi... Apa kamu sudah tahu dimana salahmu?."


Asiah mengepalkan telapak tangannya. "Aku tahu... sejak awal aku memang sudah salah, tapi mau bagaimana lagi... Aku merasa seperti sudah dikutuk! Setiap kali aku memulai hubungan dengan seseorang rasanya seperti tercekik." Ada kesan mendalam di dalam kalimatnya, trauma yang masih melekat terlintas diingatan setiap kali Asiah mengigat kejadian lalu yang menjadi mimpi buruk.


"Ervin tidak bersalah, sejak awal aku yang memulai ini... Dia hanya terbawa dalam arus saja karena aku mengandung bayinya."


Ema menatap putrinya dalam diam. Sejak dulu Ema telah memperhatikan bahwa Asiah putrinya memiliki semacam trauma yang tidak ingin dia ceritakan pada siapapun bahkan padanya yang merupakan ibu kandungnya.


Semuanya itu tampak sangat jelas ketika Asiah menolak untuk bertunangan dengan anak temannya dan kemudian membawa seorang pria yang dia sewa demi menghindari terjalinnya sebuah hubungan bahkan sampai saat ini.


"Asiah...," Tangan lembut Ema menyentuh tangan Asiah yang mengepal. "Mama tahu kalau kamu mengalami hal berat karena ini tapi tetap saja Ayah dan Mama masih sulit untuk menerimanya.


"Bukan karena kamu mengandung bayi tetapi karena kamu tinggal dengan orang berbahaya!, Ervin itu... Kamu tahu! Saat kamu masuk kedalam rumah dia langsung menodongkan senjata api kekepala Ayahmu."


"Dia melakukan itu karena mengira Ayah dan Mama adalah orang asing yang berbahaya untukku."


Ema cemberut mendengar perkataan putrinya. "Kamu membelanya terus... Lalu bagaimana dengan dia yang berbohong tentang memiliki perusahaan Aishwa?."


Asiah menghela nafas berat. "Ervin tidak berbohong Ma, kalau tidak percaya Mama bisa melihat langsung di bio datanya!, Tidakkah Mama familiar dengan namanya?." Asiah mengambil ponselnya dark atas meja, mencari beberapa artikel dan memberikannya pada Ibunya.


"Mama bisa lihat sendiri."


"Kamu akan menyesali ini jika itu tidak benar." Ema mengambil ponsel Asiah dan melihat artikel didalamnya. Disana dia melihat gambar seorang pria yang merupakan model jam tangan terbaru tampak familiar.

__ADS_1


Kesan berat dan wajah maskulin terpampang di sebelah tulisan kecil yang menyusun sebuah bio data sang model jam tangan.


"...."


Ema yang melihat itu sejenak berhenti bergerak, matanya tertuju pada pemilik nama lalu mengingat perkenalan yang belum lama lewat. 'Saya Ervin Kayros Alvaro. ' Dia melihat antara artikel dan Asiah seolah-olah mencari kebenaran dari putrinya. "Apa ini benar?!."


"Itu artikel yang benar, tidakkah Mama melihat betapa marahnya dia saat kalian mengatakan kalau Ervin itu adalah perusahaan yang mengedarkan barang tiruan?... Dia sangat marahloh Ma."


Mulut Ema terbuka, tangannya gemetar saat menekan gambar foto yang tertampilkan, kali ini dia melihat wajah sang model mengenakan rompi hitam di tubuhnya yang berotot ditambah tato ular di pergelangan tangan terlihat jelas membuat kesan mewah sekaligus menawan secara bersamaan, semua itu terlihat sangat jelas dalam satu foto.


[ Pemilik Perusahaan Aishwa mengunjungi salah satu— .... ]


"Jadi... Apa yang dikatakannya barusan itu benar???." tangan Ema mulai bergetar.


"Itu benar, dan juga... Mama tahu, aku mencari masalah dengan orang seperti itu, Mama tidak tahukan bagaimana dia mencariku dan memaksaku untuk mengakui kalau bayi-bayi yang ada dikandunganku itu miliknya," kata Asiah sambil memajukan bibirnya.


"Dia—."


"Secara pribadi mencari tahu segalanya tentangku!... Dia bahkan mengancam suami Erika untuk tidak ikut campur terlalu jauh."


"W— ... Tunggu jadi kamu—."


"Dan juga..." Suara Asiah terdengar cukup lembut ketika berbicara selanjutnya. "Ervin telah membantuku dengan banyak hal, aku tidak mungkin seperti ini jika bukan karena perawatannya selama." Asiah menyentuh perut, gerakan kecil terasa disana beberapa kali ketika tangannya yang halus mengelus.  Apa mereka mendengar ini juga.


"Hem?!."


Asiah kembali kedirinya semula.


"Aa-apa? Menyukai Siapa?!, Aku Tidak Menyukainya!."


"Ini pertama kalinya aku melihat ekspresi itu diwajahmu." Ema menyentuh wajah putrinya lembut lalu bersandar di sebelahnya. "Hahh... Sepertinya Mama sudah membuat kesalahan."


Asiah mengerutkan dahinya mengatakan apa yang sebenarnya disalahkan oleh ibunya. "Kesalahan apa???... Yah, Mama memang menyinggungnya sedikit tapi aku bisa berbicara dengannya nanti jika Mama tidak enak."


"Tidak perlu soal itu Mama akan melakukanya sendiri dan..., Sayang!."


"Hem?."


Ema menyentuh pergelangan tangan Asiah, ada sedikit tekanan disana ketika dia melakukan itu. "Apa?," Tanya Aisah.


"Apa dia menempel padamu selama Duapuluh empat  jam?."

__ADS_1


"Tidak sampai duapuluh empat am???."


"Apa dia membelikan semua yang kamu butuhkan dengan uangnya?."


"Emm... Begitulah walau aku melarangnya beberapa kali?," Asiah menganggukan kepalanya pada setiap pertanyaan yang diberikan Ibunya.


"Apa dia sudah menyatakan cintanya padamu?."


"Sudah???."


"Apa dia meminta syarat lain?."


"Tidak???."


"Bagus, mulai sekarang cobalah untuk membuka hatimu padanya."


"Apa yang—."


"Nak... Kamu tidak bisa melewatkan ikan besar seperti ini begitu saja!!!," Kata Ema dengan wajah yang menyeramkan menurut Asiah.


......🌸🌸🌸......


Selama beberapa hari berlalu Ervin dan Asiah berusaha untuk menyakinkan Roberto, berbending terbalik dengan Ema yang telah bersikap manis didepan Ervin, Roberto sama sekali tidak memiliki niat untuk menunjukan persahabatan dengan calon Ayah cucunya itu.


Meski sudah mendengar dari Ema identitas sesungguhnya Ervin tetap saja Roberto tidak bergeming dan tetap berpegang pada pendiriannya. Dia bahkan memutuskan untuk membuang barang-barang mewah buatan Aishwa miliknya demi menunjukan penolakannya. "Ayahmu sangat keras kepala."


"Ayah tidak seperti itu, dia pasti akan baik padamu jika kamu mengunakan cara yang tepat."


"Berbicara soal itu, apa kau sudah jatuh cinta denganku."


"Tentu saja belum."


Degdegdeg...


"Cih, aku tidak punya waktu untuk melakukan itu karena Ayahmu terus berada di sekelilingmu seperti penjaga.... Aku bahkan tidak punya waktu untuk bermanja-manja dengan bayiku," gerutu Ervin kesal.


"Sudalah, setidaknya kita punya waktu untuk berdua sekarang." Tanpa sadar Asiah mengatakan hal itu dari mulutnya membuat Ervin secara refleks melihat Asiah, ada senyuman dan kepuasan tak terjelaskan diwajahnya.


"Apa?," Tanya Asiah.


"Apa barusan kau mengatakan rindu untuk bersamaku?," Tanya Ervin dengan suara menggoda.

__ADS_1


"Huh??? Bicara omong kosong?!" Telinga Asiah menjadi merah ketika Ervin mendekat kearahnya. "Hahaha... Aku yakin kalau aku akan memenangkan harimu." Ervin tertawa sangat tampan ketika tangannya menarik tubuh Asiah dan membenamkan wajahnya di atas perut besar itu.


__ADS_2