
"... Apa isi perjanjiannya."
"Itu, sebelum aku melahirkan dia akan membuatku...... Mama ituloh hahaha..., Aku malu mengatakannya."
"Ayahmu akan marah jika mendengar hal ini. Lalu kamu bagaimana? Melihat dari caramu berbicara dan caramu berpakaian sebelumnya kamu terlihat seperti seorang pereman atau mafia.
"Maaf jika ini menyinggungmu tapi aku tidak akan memberikan putriku pada orang berbahaya bahkan jika dia membuat perjanjian yang akan merugikannya."
"Mama-."
"Diam Asiah, aku sedang berbicara."
"Oke."
"Asiah pergi dan belikan ibu cemilan."
"Iya Ma-."
"Tunggu! Biar aku saja yang beli-."
"Kamu duduk disini saja, kita perlu banyak berbicara."
Ervin melihat Asiah sejenak. "Apa kau bisa?."
"Tentu, silahkan berbicara dengan ibuku." Asiah mengedipkan sebelah matanya dan keluar dari pintu. Sekarang tinggalah Ervin dan Ema di ruang tamu yang sudah di bersihkan dari pecahan kaca. "Kamu terlihat bukan seperti orang biasa, apa pekerjaanmu nak?," Tanya Ema.
"Saya bekerja sebagai pengusaha nyonya."
"Pengusaha..., Dalam bidang apa?."
"Bidang Pakaian dan Aksesoris hahah...."
"Kenapa tertawa?."
"Saya sedikit malu."
"Tidak perlu malu, ngomong-ngomong maaf soal yang tadi. Suamiku memang terkadang cukup protektif terhadap putrinya."
"Hahaha.... Itu hal biasa, ayahku juga sering melakukan hal yang sama jika itu tentang keamanan," jawab Ervin ringan.
"...."
Ema menatap Ervin sesaat tanpa berbicara membuat Ervin hanya merasa semakin gugup. "Apa kamu seorang preman?."
"...."
"Jawab saja, lagi pula kalau kamu ingin bersama putri kami cepat atau lambat kami akan tahu nantinya jadi....
"Apakah benar kamu ini seorang preman atau orang yang berhubungan dengan hal-hal semacam itu?."
Sejenak Ervin berfikir lalu menjawab. "Benar. Tapi saya bukan preman seperti yang anda pikirkan, bisa di bilang saya lebih dari mereka," jawab Ervin jujur.
"Kalau begitu kamu berbahaya untuk putri kami."
"Saya bisa jamin hal berbahaya yang anda pikirkan tidak akan pernah terjadi!."
"Darimana kamu tahu?. Jangan berbangga diri anak muda, mungkin di tempat ini kamulah yang terbaik, cobalah berfikir luas di luar sana lusinan orang sepertimu ada banyak." Ema terus mendorong Ervin kebelakang membuat kata-katanya terdengar selembut mungkin.
__ADS_1
"Anda fikir saya tidak tahu itu."
"Apakah kamu tahu?."
"Tentu saja saya tahu."
"Hoo... Kepercayaan diri yang bagus tapi... Jangan berharap lebih nak, kamu mungkin bisa mengelabuhi Aku dan Putriku namun tidak dengan Ayahnya Asiah."
"Saya juga berfikir hal yang sama, suami anda terlihat seperti orang dengan jenis yang sama seperti saya."
"Kamu menyadarinya."
"Yap itu cukup mudah, tidak banyak orang yang bisa menjatuhkanku semudah itu, bahkan jika aku sedang lengah." Ervin menyilangkan kakinya sambil berbicara dengan Ema, pandangnya terlihat lebih tenang.
"Hemmp...." Ema tersenyum. "Dimana kamu bertemu putriku?."
"Kalau tidak salah pertama kali kamu bertemu di sekolah tempat keponakanku belajar."
"Maksudmu Avenir."
"Benar, tapi saat itu aku masih belum memiliki perasaan apapun padanya." Ervin mulai membagikan sepotong demi sepotong cerita pertemuannya dengan Asiah. "Kemudian selanjutnya kami bertemu lagi di sebuah restoran, saat itu kami berdua tidak sengaja bersenggolan."
"Apa itu cinta pandangan pertama?."
"Masih belum nyonya."
"Lalu! Lalu!." Ema cukup bersemangat.
"Saya jatuh hati dengan putri anda ketika berada di sebuah clup malam."
"Huhh?.... Club malam???."
"Ekk-"
"Dia membuatku begitu tergila-gila dan-."
***
"HACUHH..., Cuacanya cukup dingin." Asiah mengambil bungkusan kripik kentang dan aneka makanan ringan lainnya yang berjejer di supermarket. "Apakah mereka sudah selesai berbincang?." Asiah melihat jam di tangannya, sudah hampir 20 menit sejak dia keluar dari rumah untuk membiarkan Ibunya dan Ervin berbicara secara pribadi.
"Hemm.... Mama tidak mungkin melakukan sesuatu yang aneh padanyakan-." Sejenak Asiah terdiam. Gila... Sejak kapan aku mulai khwatir terhadap bajingan itu. Asiah menggelengkan kepalanya cepat, menepis pikiran-pikiran anehnya yang berhubungan dengan Ervin.
"Aku pikir kau memborong semua makanan ini makanya lama seka-."
"AAARG."
BRAK.
Asiah melempar bungkusan keripik kebelakang punggungnya secara refleks.
"Tsk, apasih yang kau lakukan." Ervin menangkap bungkusan keripik kentang dengan satu tangan.
"...Huhh... Jantungku hampir saja keluar dari mulutku!," Kata Asiah sambil mengelus dada.
"Hemp, akhir-akhir ini kau jadi muda terkejut."
"Salah siapa coba."
__ADS_1
"Sudalah, ibumu menyuruhku untuk menjemputmu karena terlalu lama." Ervin mengambil troli dari tangan Asiah dan membawanya sambil bergandengan tangan. "Apa kalian sudah selesai berbincang?."
"Sudah, ibumu tidak sesulit yang aku bayangkan." Tangan Ervin meraih sebuah toples coklat untuk melihat tanggal produksi kemasan. "Apa kata Mama?."
"Dia bilang aku cukup layak."
"Mama bilang begitu?.'
"Iya."
"Lalu bagaimana dengan Ayahku?."
".... Aku masih belum berbicara dengan Ayahmu tapi aku yakin hasilnya akan sama."
"Kamu terlalu percaya diri."
"Mau bagaimana lagi, mau tidak mau Ayahmu wajib menerimaku apapun yang terjadi."
"... Ervin begini, Ayahku-."
"Aku tahu apa yang ingin kau katakan."
"Kamu tahu?."
"Tentu, tapi jangan khwatir. Aku bisa mengurus hal itu," kata Ervin. Ervin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Asiah sambil melihat wanitanya itu dengan tatapan lembut. "Walau mungkin akan sedikit sulit berbicara dengannya dari pada saat aku berbicara dengan Ibumu."
Asiah tersenyum. "Kalau begitu apakah kamu butuh bantuanku?," Kata Asiah sedikit bercanda.
"Tidak perlu," jawab Ervin tegas. "Aku akan melakukannya sendiri, lagi pula aku sudah lebih dewasa dari pada dirimu jadi aku tidak perlu di bantu."
"Hump..., terserahmu saja."
"Kalau begitu, aku harus menyelesaikan masalah hari ini juga, waktu pemeriksaan sudah aku tunda jadi kita bisa pergi besok pagi saja."
"Benarkah?."
"Yup, aku baru saja menghubungi Julius tentang itu dan juga... Aku ingin segera memperkenalkanmu pada kedua 'Orang Tuaku' setelah mendapat restu dari Ibu dan Ayahmu."
Asiah menatap Ervin sebentar, perlahan Asiah merasakan wajahnya sedikit memanas dan segera berpaling. Hahh... Belakangan ini aku jadi aneh. Jantung Asiah berdebar lebih cepat dari biasanya. Aku pikir aku punya masalah pada jantung akhir-akhir ini.
"Huhh... Berbicara tentang itu, sekarang aku jadi gugup "
"Kenapa?."
"Karena akan bertemu dengan kedua Orang Tuamu setelah ini...."
"Aku juga gugup saat bertemu dengan orang tuamu," kata Ervin sambil memasukan keripik udang kedalam troli.
"Jangan gugup, lagi pula ketika mereka mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya aku yakin seratus persen kalau mereka akan langsung mengangkatmu sebagai anak mereka terutama jika itu Mama." Asiah sedikit tersenyum saat mengatakan itu.
"Sepertinya aku terlihat murah."
"Siapa sih yang menolak menantu Kaya Raya sepertimu? Yang jadi masalah itu aku, yang kayakan hanya kedua orang tuaku saja sedangkan aku hanya guru biasa di sekolah yang lumayan terkenal."
"Jangan merendahkan dirimu."
"Dibagian mana?."
__ADS_1
"Di bagian itu, aku tidak suka mendengar kata-katamu barusan," kata Ervin dengan nada rendah. Mereka berdua berjalan kedepan mesin kasir dan mengeluarkan seluruh belanjaan dari troli sambil menunggu barang selesai di total. "Semuanya Empat Belas Dollar," kata pegawai kasir.