
Bagai pertarungan disebuah filim laga. Bangunan gudang yang sudah tua menambah kesan menegangkan dalam setiap perkelahian brutal yang mereka lakukan.
Bangunan yang terbengkalai dan reruntuhan rumah yang sudah tidak terpakai menjadi saksi dari perkelahian burtal antar anggota geng melawan satu orang.
1 vs 13.
Roberto Rosen yang hanya seorang diri dan umurnya tidak lagi muda ternyata menjadi pemegang kendali atas pertarungan itu. Hanya bermodalkan pisau dan tiga senjata api yang hanya seukuran telapak tangannya. 10 orang telah terluka parah bahkan sekarat sedangkan dirinya bahkan tidak terlihat memiliki cidera yang cukup parah selain goresan kecil akibat kayu-kayu rumah yang rusak.
"Apa masih ada lagi yang ingin melawan?." Roberto berjalan melewati gang-gang sempit untuk menemukan kelompok yang tersisa, dia mengikuti setiap ceceran darah dari mereka yang masih berada di jangkawannya.
"Oi... Apa kau akan terus sembunyi?." Roberto khususnya menjadikan Ervin Kyros sebagai target utamanya.
"... Huhh... Huh...." Di sudut bengunan, Ervin tengah duduk bersimbah darah, ditutupi oleh bambu yang dianyam menjadi persegi panjang. "Huhh... Huh... Sial, lukanya sangat dalam."
Ervin melihat luka di pinggangnya, luka bekas tusukan pisau tajam yang di hadiahi oleh Roberto saat pertama kali bertemu dengannya. "Dia benar-benar berniat membunuhku."
Ervin tersenyum.
"Mengingat orang semacam ini akan menjadi Ayah mertuaku aku pasti akan menjadi mayat sungguhan jika terlibat skandal lagi." Ervin mengambil bungkusan plastik kecil yang didalamnya terdapat jarum dan benang khusus untuk menjahit lukanya. Tanpa bantuan orang lain dia membuka bajunya keatas lalu menjahit luka gores sepanjang 5 cm dan dalam 3 cm.
AAARG-. Dia berteriak dalam hati saat jarum yang telah dipasangkan mengunakan pematik dimasukan kedalam kulit lalu mulai menjahit lukanya perlahan. "Keparat." Ervin merasakan rasa sakit yang tidak biasa. Pisau yang dia gunakan pasti sudah dilumuri sesuatu. ... Ervin melihat melalui cela bambu.
Di depannya dia melihat Roberto yang masih berjalan santai mengitari area sekitar untuk mencari yang tersisa termasuk dirinya. Ervin sadar betul bahwa nasibnya tidak akan sebaik orang yang di bawanya ketika Roberto Rosen begitu membenci dirinya lebih dari apapun. Haiss... Ternyata Ayahku benar kalau dia lebih berbahaya dariku.
Itu adalah fakta baru bagi Ervin, selama di Prancis dia telah menyombongkan diri karena menganggap bahwa tidak ada lagi yang setara dengannya jika itu prihal kekejian tapi sekarang pandanganya telah terbuka luas.
Sejak Asiah meninggalkan dirinya Ervin mulai bertindak dengan benar dan lebih berhati-hati saat melakukan sesuatu. Ayahnya yang selalu dia anggap pria tua pemalas telah menunjukan seperti apa dirinya saat masih muda. Pria yang tidak pandang bulu bahkan dengan anaknya sendiri.
Ervin ingat kata-kata Jefry saat dia disadarkan melalui rasa sakit. "Kamu bersyukur terlahir sebagai putraku sehingga aku tidak membunuhmu langsung. Seandainya... Seandainya saja kau bukan putraku maka sedetikpun aku tidak akan membiarkanmu bernafas."
Plak.
Dia mengingat tamparan Ayahnya.
__ADS_1
"Bajingan kecil sepertimu terlalu arogan... Kamu hanya bajingan yang lahir di generasi yang nyaman... Kalau di zamanku tipe sepertimu adalah kacung yang menjadi penjilat sepatu."
Dia masih tidak perduli dengan kata-kata Jefry karena pikiran utamanya saat itu hanya ingin segera kembali pada Asiah saja tapi sayangnya dia dihalangi karena Ayahnya tidak mengizinkan dia untuk pergi ke Jerman dan berhadapan dengan Roberto.
"Aku saja hampir mati ditangannya ... Aku yang dijuluki Boss Besar! ... Aku hampir mati di tangan bajingan itu yang menyerang seorang diri.
"Bajingan yang bahkan di akui Yakuza Jepang sebagai { '鬼' (Oni) } ... Puahaha... Kamu hanya beruntung saja karena tidak bertemu dia saat masih aktif jadi jangan sokjagoan.
"Tanpa aku kau bukan apa-apa jadi sadarlah dulu baru kita bicarakan nanti, jangan membuat ibumu terlalu menghawatirkanmu aku juga punya batas kesabaran."
Saat itu Ervin hanya berfikir bahwa Ayahnya mengatakan itu hanya untuk menakut-nakutinya tapi sekarang dia tahu bahwa apa yang dikatakan Ayahnya adalah kebenaran untuk melindunginya dari 'Oni' yang sedang berburu.
"Huhhf... Huhhf ...." Setelah selesai menjahit Ervin mengunakan gulungan kain tipis untuk menutupi lukanya tapi disaat dia sibuk dengan lukanya dia tidak menyadari bahwa Roberto telah melihatnya dari kejauhan.
"Kena kau."
Bang bang.
Roberto tidak berbelas kasih, dia memberi dua tembakan peluru kearah mambu persegi saat dia tahu Ervin ada disana. "Kau ternyata masih belum cukup baik dalam mengatur nafas sehingga aku bisa mendengarnya dengan sangat baik."
"Tsk... Dia seperti tikus sa-."
PLAK.
Balok kayu yang besar di ayunkan kearah Roberto dari sebelah kanannya, balok kayu itu diarahkan ke tengkorak kepala Roberto tapi sayangnya di tangkis dengan mudah.
Bahkan wajah Roberto masih tidak menunjukan reaksi tegang atau terkesan sedikitpun tidak.
"Kamu terlalu membosankan."
Pisau tajamnya diputar lalu mengincar bagian jakun Ervin secepat kilat.
MENANGKAP.
__ADS_1
Tangan Ervin yang bebas menangkap tangan yang bergerak cepat itu.
"Tidak secepat itu.... Hng-"
keparat, usia kami jelas-jelas sangat jauh tapi kenapa tenaga bajingan yang hampir seumuran dengan Ayahku ini lebih kuat. Ervin mulai khawatir, tanganya yang menahan pisau perlahan mulai kehilangan energinya.
Sial!. Dia mulai mengutuk dalam hati.
"...."
Roberto melepaskan pisau ditanganya dan mundur selangkah memberi kesempatan untuknya mengincar bagian betis.
Mengoyak.
Betis kanan Ervin diiris oleh pisau tajam hingga dagingnya hampir terlepas dari kulit.
"F-CK!."
Ervin mengambil kaliber miliknya lalu menembak kearah Roberto tapi sekali lagi tanganya malah terpelintir kebelakang. Membuat senjata itu jatuh ditanah lalu sekara giliran wajahnya yang di buat babak belur.
GDBBUK.
Satu pukulan dari tangan Roberto terasa seperti sebuah palu yang menghantam wajahnya berulang-ulang. Ahh... Dia kuat sekali... Bagaimana aku bisa mengalahkannya.
Roberto melihat reaksi kesal dan cemas di wajah Ervin sehingga dia sebentar berbicara padanya.
"Aku dan Ayahmu melakukan sebuah kesepakatan."
"UNGG-HAHK... KUAH!!!." Ervin masih belum bisa berbicara saat Roberto masih menghujaninya dengan pukulan keras. Wajah, dada, uluh hati, perut semuanya tak luput dari pukulan ganas Roberto yang seperti pulu.
"Jika aku membunuhmu disini skarang maka mereka akan segera menjauh dari Asiah."
"Nguu-!!!" Nafasnya mulai tercekik, oksigen masih belum masuk secara normal keparu-parunya.
__ADS_1
"HUMP." Dalam satu tarikan besar Ervin menarik nafas lalu mengunakan kedua kakinya yang bebas untuk mengunci Roberto di leher.
"... Lagi-lagi trik muraha." Roberto mengangkat tubuh Ervin keatas lalu membantingkanya di tanah yang berbatu seperti menghancurkan barang. Dia melakukan itu sebanyak 7 kali untuk melepaskan Ervin masih belum menunjukan tanda-tanda akan melepaskannya.