Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 51.


__ADS_3

"I-iya."


"...."


Melihat Ponsel.


Apa dia menyuruhku masuk kedalam sini hanya untuk mengambil i— kalau dipikir-pikir ponsel ini merek lama, apa dia masih memakai merek jadul ini sampai sekarang ketika banyak ponsel keluaran terbaru di mana-mana. Ervin berdiri dari lantai menghampiri Asiah yang berdiri di depan pintu kamar. "Ini pinsel—"


"...!"


Mundur.


"Hem?."


Ervin merasa aneh melihat Asiah yang mundur kebelakang setelah dia menyodorkan ponsel di kedepannya. "Apa ini? Kau tidak mau mengambilnya?."


"Bu-buang saja, bisakah kamu memberikanku kartu SIMnya."


"..., Tentu."


Ervin mengeluarkan kartu SIM dari dalam ponsel lalu memberikannya pada Asiah tetapi dia sedikit penasaran dengan tangan Asiah yang gemetar saat mengambil kartu SIM di tangannya. "Sebenarnya kenapa kamu menghancurkan ponselmu?," tanya Ervin.


"Itu... Ada sesuatu di ponsel itu yang membuatku tidak nyaman, sebenarnya karena itu juga aku tidak tidur di kamar ini lagi setelah aku melempar itu ke dinding."


"...."


Melirik Ponsel.


"Baiklah, aku akan buang ini."


"Sungguh!."


"Iya, sekarang lebih baik kau istirahat saja."


"Oh! Apa kamu mau minum teh? Aku bisa buatkan mumpung kamu ada di sini."


"Kau bisa membuat minuman?."


"Hem? Tentu saja."


"..., Biasanya wanita yang kutemui tidak tahu melakukan hal sederhana itu." Ervin melihat Asiah seolah tidak percaya.


"Kalau begitu aku akan buatkan sebelum kamu pergi, ah! Buang saja ponsel itu ketempat sampah yang ada di luar setelah kamu keluar nantinya."


"Berisik buatkan saja minumannya."


"Oke...."


Asiah berjalan menuju dapurnya dan membuatkan secangkir teh untuk mereka berdua. Sedangkan Ervin, dia memasukan ponsel yang sudah rusak itu kedalam sapu tangannya lalu menyimpannya kedalam saku.


"Hemm...."


Dia memperhatikan setiap sudut ruangan tempat tinggal Asiah. Dia punya selera yang unik meski tidak mewah, bagaimana bisa ada yang hidup dalam kesederhanaan seperti ini. Ervin menyentuh salah satu patung keramik berbentuk malaikat di atas perapian. Apa ini juga harganya murah?.


"Hei tehnya sudah selesai?."


"NUHG!. KAU MEMBUATKU TERKEJUT!!!."


"Orang sepertimu bisa terkejut?."


"...."


"Lupakan soal itu, taruh lagi di tempatnya semula, jangan sampai pecah itu benda yang penting untukku."

__ADS_1


"Benda penting? Keramik jelek seperti ini?, Bahkan bentuknya saja tidak sempurna."


"Sembarangan!. Ayahku memberikan itu sebagai hadiah ulang tahunku, dia membuatnya sendiri dengan tangannya," kata Asiah kesal.


"Ahaha... Ternyata begitu, sebenarnya patung keramik ini terlihat bagus jika di letakan di manapun." Ervin segera meletakan patung keramik di atas perapian dan berjalan di belakang Asiah.


"Aku hanya bisa menyeduh teh hitam dan teh hijau, apa kau tidak masalah dengan teh hitam?."


"Aku tidak masalah."


Setelah itu mereka berdua duduk di depan ruang tamu sambil meminum teh mereka masing-masing.


Kenapa dia sedari tadi melihat-lihat sekeliling?. Asiah merasa sedikit canggung saat meminum tehnya karena Ervin sejak tadi melihat-lihat sekeliling rumahnya. Kenapa dia terus melihat-lihat rumahku seperti itu?.


"Kamar yang ada di sebelah kamarmu itu di gunakan untuk apa?," Tanya Ervin untuk memecah keheningan.


"Umg... Kamar itu nanti aku gunakan untuk tempat tidur bayiku jika mereka sudah cukup umur untuk tidur sendiri."


"Kamar bayi maksudmu."


"Begitulah."


Ervin mengangukan kepalanya setelah mendengar penjelasan dari Asiah. Padahal aku juga sudah menyiapkan kamar bayi yang cukup besar untuk mereka.


"Ngomong-ngomong aku belum mengucapkan terimakasih yang benar kepadamu karena sudah menolongku beberapa kali."


"Kau tidak perlu melakukannya, aku juga melakukan itu karena suka."


"Tapi tetap saja-"


"Tidak perlu."


Asiah segera berhenti bicara setelah Ervin mengatakan bahwa dia tidak perlu rasa terimakasih darinya. Ini membuatku canggung, sejak tadi dia hanya meminum sedikit tehnya kalau seperti ini terus maka dia akan semakin lama berada di sini, apa yang harus aku lakukan... Ah!.


"Terserahmu." Ervin melihat Asiah kembali lagi kedapur untuk mengambilkan kue untuknya.


Ervin mulai menyandarkan tubuhnya di sofa lembut sembari menutup matanya. Terus terang aku sedikit lelah hari ini.... Sejenak Ervin menutup matanya. Ahh~ tempat ini memiliki aroma yang wangi seperti di—.


Berdering.


RINGRINGRING....


"Hem?."


Ervin membuka matanya, melihat sebuah leptob hitam di sebelah sofanya yang berbunyi beberapa saat yang lalu.


Meski malas bergerak Ervin tetap menegakan tubuhnya lalu membuka leptop. "Baru saja ingin istirahat."


[ Pangilan....


Dari : Ibunya Ahmad. ]


"Hem? Ibunya Ahmad? ... Siapa itu?."


Ervin membuka pangilan telepon dan memeriksa siapa orang yang menghubungi Asiah.


Alangka terkejutnya dia ketika melihat gambar dari seseorang yang dia kenal dari dalam PC tersebut.


[ 'Hem? ' ]


"Oho... sudah lama sekali tidak bertemu Erika Rahayu." entah bagaimana Ervin terlihat begitu senang melihat wanita muda yang sudah lama tidak dia lihat.


[ 'AAAAAA- APA- APA YANG KAU LAKUKAN DI RUMAH ASIA...?!! BAGAIMANA KAU BISA MASUK KERUMAHNYA...? ' . ] Erika berteriak sangat keras.

__ADS_1


Ervin hanya tersenyum. "Bagaimana?... Tentu saja dia yang menawariku untuk mampir kerumahnya."


[ ' BO-BOHONG! KAU PEMBOHONG! DASAR PISIKOPAT GILA... KALAU SESUATU TERJADI PADA ASIAH AKU TIDAK AKAN MAAFKANMU..., AKU BERSUM— ' ]


"Kenapa kau marah? Apa aku melakukan sesuatu yang jahat padamu?."


[ 'Hah? ' ]


Erika tercengang melihat ekspresi tenang diwajah Ervin seolah ancamannya bukan sesuatu yang besar.


"Sekarang kau binggung." Ervin menengakan tubuhnya untuk mensejajarkan posisinya. "Erika..., Kalau dipikir-pikir kamu menikah dengan pria yang luar biasa, aku mengacungkan jempol untuk kesuksesanmu dalam memilih pasangan hidup."


[ ' Diam Kau! ' ]


"Oh my... Tatapanmu seperti ingin membunuhku saja, kamu benar-benar tidak berubah Erika Rahayu... Kamu masih sama seperti dulu."


[ ' Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu itu bajingan!. ' ]


"Oh ayolah Erika, kita sudah berteman sangat lama, aku bahkan sangat tahu siapa saja yang telah kau ajak tidur."


[ 'Ka—' ]


"Biar aku tanyakan sesuatu Erika. Apa kau yang menyarankan temanmu untuk mengodaku?."


[ ' Wha— ' ]


"Melihat dari reaksimu ternyata benar...."


[ ' Kau— ' ]


"Jangan khawatir, aku tidak akan melukainya seujung rambutpun. Aku tidak mungkin melukai ibu dari anak-anakkukan."


Dari dalam layar PC Ervin melihat reaksi terkejut Erika dan semakin yakin akan keputusannya.


[ ' Ap-APA YANG KAU KATAKAN? KAMU— KAMU... SUDAH GILA!!! MENJAUH DARI ASIAH SEKARANG JUGA ATAU— ' ] Erika panik.


"Atau apa? Kau ingin mengunakan suamimu untuk melawanku?." Ervin mencibir kebodohan dari wanita didepannya.


[ ' HUG— ' ]


Ervin melihat Erika dengan tatapan angkuh dan menyeringai menikmati ekspresi tegang Erika dari layar PC. "Kalian telah bermain-main dengan api cukup lama, jadi sekarang aku akan membakar kalian karena mempermainkanku-."


CEKRAAS—


"Hem?." Ervin terkejut dan langsung melihat kearah sumber suara, dia melihat piring kue terjatuh di bawah kaki Asiah. "Hahh... Hahh... Kau- kau Sudah Tahu!!!." Asiah mulai panik.


"...."


[ 'Apa itu?. ASIAH? ASIAH!!! KELUAR DARI RUMAHMU SEKARANG! ORANG GILA INI— ]


Tikb.


Panggilan diakhiri sepihak.


"Tsk dasar bodoh." Ervin beranjak dari sofa, dan segera menuju tempat Asiah berdiri dan menjatuhkan piring berbahan gelas di lantai. "DI-DIA TAHU!!!, DIA TAHU!!!." Refleks Asiah menutupi perutnya dengan kedua tangan dan syal yang sebelumnya ada dileher.


"Hei menjauh dari—"


"JANGAN MENDEKAT!!!."


Asiah mengambil kaca dari lantai dan mengarahkannya pada Ervin yang berusaha untuk mendekatinya. Dia sudah tidak perduli lagi dengan darah yang keluar dari tangannya karena saat ini dia bahkan rela mempertaruhkan apapun untuk melindungi bayi dalam kandungannya.


"BODOH LEPASKAN KACA ITU!!!."

__ADS_1


"JANGAN MENDEKAT!." perlahan Asiah mundur kebelakang dengan tatapan mata yang bergetar karena ketakutan telah mengambil alih.


__ADS_2