Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 90.


__ADS_3

—Tera hanya Tinggal memasukan hidangan kedalam mulut dan walah... Asiah Rosen akan selesai oleh sebab itu dia memperpanjang percakapan mereka hingga mengancam.


"Intinya kamu tutup mulutmu itu, jangan sampai aku mendengar sesuatu yang aneh-aneh dari Laura." Dia menunjuk jarinya tepat kearah wajah Asiah. Ini ancaman dariku.


Dia beranggapan bahwa dengan melakukan itu Asiah Rosen akan takut denganya. Perbedaan status Artis dan Guru bagai langit dan bumi, dia adalah orang berpengaruh di masyarakat sedangkan Asiah hanya guru biasa ditempat yang tidak dia kenal. Memangnya bisa apa dia?, Selain paman Rosen tidak ada yang perlu kutakuti.


Dia ingin melihat Asiah takut tapi nyatanya wajahnya malah biasa saja seperti seseorang yang sedang kebosanan. "Aneh sekali " Asiah memiringkan kepalanya ke kanan. "Siapa yang mengancam siapa di sini?."


Detik itu juga dia ingin mencekik leher Asiah saat emosinya mulai meluap-luap, tanganya mencengkram bahu Asiah untuk memberikan peringatan sekali lagi namun. Mengapa dia masih sangat santai???, Apa aku kurang menyeramkan???.


Pertarungan kata yang seharusnya dimenangkan olehnya malah berbalik menyerang dirinya dan mempermalukan dirinya sendiri di depan temanya. Aku direndahkan.


Melalui pikiranya yang telah rusak niat jahat akhirnya muncul. Jika aku mendorongnya apakah itu salahku?.


Tanganya yang indah mendorong tubuh Asiah yang sulit bergerak. Saat melakukan itu ada rasa lega sekaligus kebahagiaan yang tak terlukiskan. Membayangkan Asiah kehilangan bayi yang ditunggu-tunggu keluarga Rosen memberi hiburan khusus untuknya, sayangnya itu tidak akan terjadi sosok pria berkaca mata hitam yang muncul entah dari mana menagkap tubuh Asiah secepat kilat sehingga dia tidak jatuh dalam posisi berbahaya.


AAAARG- SIALAN... MENGAPA DIA-


Disaat batinya berteriak liar suara geraman dan amarah dari arah lain menyadarkan dirinya. "TERAAAA...!!!" Suara teriakan Laura yang belum pernah dia dengar sebelumnya membuat dia merinding.


Dia tidak tahu bahwa ada yang melihat kejadian itu di saat semuanya sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sekilas matanya menangkap pria yang berkaca mata hitam berbicara pada Asiah lalu pergi begitu saja tapi bukan itu masalahnya, sekarang Laura yang marah menjambak lalu mulai berteriak memanggil Roberto Rosen.


Paman yang dia takuti lebih dari Ayahnya sendiri. BAGAIMANA INI!!!. Saat dia melihat kebelakang temanya yang dia ajak bersama telah menghilang. KEPARAT ITU!!!.


Sejak hari ini masa depan Tera sudah di pastikan hancur. Dia tahu bahwa pamanya yang begitu menyayangi putrinya tidak akan memaafkan dirinya yang mencoba mencelakai Asiah bahkan jika Ayahnya berlutut sambil menundukan kepala. Akan seperti apa nasibku dimasa depan. Tera tersenyum.


"Kita lihat saja... Ayah berjanji akan melindungiku dari paman jadi siapa perduli, selama aku...." Tiba-tiba pikiranya terhenti saat mengingat sesuatu yang lain. Kalau dipikir lagi pria yang tadi mengantikanku naik kereta api siap? Aku tidak pernah melihat dia sebelumnya di organisasi.


Ketika mobil yang dikendarai Tera melaju melewati perbukitan yang gelap tiba-tiba entah dari mana mobil berwarna hitam asing yang belum pernah dia lihat sebelumnya melaju dengan kecepatan penuh mendekati mobilnya.


"PERSETAN MENJAUH!." Tera berteriak keras saat jarak di antara mobil semakin dekat dan tidak mau memberi jarak sedikitpun.


"KYAAAAA-!!!" Akibat panik karena tikungan tajam di sisi jurang tera melakukan rem mendadak hingga keningnya membentur pedal stir.


Drak.

__ADS_1


"Nguu.... Hahh... Hah... Sial, Bajingan Gila Mana Yang Berkendara Seperti Itu Di Jalan Sempit." Tera mengumpat beberapa kata-kata kotor lalu perlahan keluar dari mobilnya untuk memeriksa sekitar.


Berdenyut.


Rasa sakit di kepalanya masih belum rendah. "Aww... Dia menyentuh keningnya yang membengkak lalu masuk lagi kedalam mobil setelah memastikan mobil hitam gila barusan sudah tidak ada lagi di sekitar.


Melihat jalanan yang sepih dan gelap, Tera memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk merawat keningnya yang membengkak. "Apa ada obat di sekitar didalam mobil ini." Dia mencari didalam kotak penyimpanan dan hanya menemukan sebotol kecil  wiski mahal berwarna merah.


"Apa-apaan ini?." Dia mengambil botol kecil itu dan menghirup aroma dalam botol. Ini benar-benar wiski mahal. Dia berfikir Ayahnya memberikan minuman itu kepadanya sebagai hadiah perpisahan.


Berdenyut.


Berkat rasa sakit yang masih ada Tera membuka tutup botol dan menghabiskannya dalam sekali teguk. "Glupp." Sisa wiski yang masih ada di sekitar bibirnya di hapus perlahan lalu setelah itu Tera kembali menyalakan mesin mobilnya sambil bergumam. "Semoga saja tidak ada lagi mobil bajingan gila setelah ini."


Perlahan Tera melajukan mobilnya kembali ke aspal, menyalakan lampu dan melaju dalam kecepatan sedang.


Berdenyut.


Sekali lagi kepalanya berdenyut dan kini pandanganya menjadi bergelombang saat melihat jalan.


MENYALA!.


BRAK... BRAK... BRAK.


......🌸🌸🌸......


[ "Berita pagi, hari ini kecelakaan telah merenggut nyawa salah satu artis berbakat yang kita kenal sebagai Tera Rosen..... ]


Bergetar.


Dipagi hari yang damai, Asiah Rosen yang tengah mengandung bayi kembar 9 bulan memandang kearah televisi dengan wajah penuh marah.


Mengigit Bibir.


"AYAHHH!!!." Asiah mulai berteriak keras memanggil Ayahnya yang masih belum bangun. "AYAH!."

__ADS_1


DUBRAK BRAK BRAK....


Seketika pintu kamar di sebuah tangga terbuka lebar dan Ayah yang dia panggil muncul dalam keadaan panik. "Ada Apa Asiah! Apa Yang Terjadi? Apa Sekarang Kamu Akan Melahirkan?!!."


BRAK.


Asiah melempar remot tv ke lantai dengan kesalnya. Wajahnya sudah memerah padam karen emosi yang memuncak. "APA AYAH SUDAH GILA!." Teriakan Asiah memicu ekspresi heran Roberto.


"Ayah tidak gila???." Roberto merasa aneh melihat putrinya yang tiba-tiba marah di pagi buta.


"AYAAAAH!!!."


"Ada Apa!!!." Roberto ikut frustasi, dia tidak tahu apa yang menyebabkan putrinya marah kepadanya.


"Ada Apa Ini?." Ema muncul dengan piama birunya di ambang pintu. "Asiah Pelankan Suaramu."


"Hahh...." Asiah menutup matanya lalu menekan keningnya yang mengerut.


Roberto yang melihat istrinya mengelengkan kepalanya binggung. Apa sebenarnya yang terja-


[ "Diperkirakan waktu kecelakaan terjadi sekitar pukul 11.12 malam." ]


Roberto mendekat kearah televisi yang menyala, melihat pembaca berita yang sedang mengabarkan kematian artis terkenal. Di panel paling bawah terdapat nama Tera beserta nama lengkapnya. Di sebelah kanan gambar mobil merah yang bagian depannya hampir hancur sepenuhnya di angkat dari tepi tebing.


"Tera mati???." Ekspresi Roberto malah menjadi lebih rumit. "Ah!." Barulah dia mengerti apa yang menyebabkan putrinya mengamuk pagi-pagi buta.


"I-ITU BUKAN AYAH!." Roberto mengelengkan kepalanya kuat-kuat untuk memberi tahu putrinya bahwa dia bukan pelakunya.


"Apa Ayah pikir aku akan percaya akan hal itu?."


"NAK-!."


"Apa ini?, Sebenarnya apa yangs dengan terjad!." Ema berjalan masuk ketengah keduanya untuk mendapat penjelasan.


"Lihatlah sayang Asiah mengira aku membunuh Tera!."

__ADS_1


"Apa?." Ema melihat kearah jari telunjuk suaminya yang menunjuk berita tentang kecelakaan Tera Rosen. "Dia sudah mati?."


"Bukan itu masalahnya sekarang Ma... KENAPA?." Asiah melihat wajah Ayahnya sekali lagi. "Kenapa harus sampai dibunuh...." Asiah tidak mengharapkan kematian sepupunya yang telah jahat kepadanya. Dia tidak pernah berfikir bahwa Ayahnya akan melakukan pembunuhan terhadap keluarganya sendiri jadi secara naluri Asiah menjadi marah.


__ADS_2