
"Aku bilang lepaskan."
"TIDAK MAU!, AKU BILANG TIDAK! YA TIDAK MAU!. HIKSS... DIA HARUS MENERIMA HAL YANG SAMA DENGANKU!."
Asiah yang rambutnya ditarik merasakan sensasi dingin dilehernya ketika tangan Ervin menyentuh kulitnya, dia berusaha untuk membujuk Debora yang masih menarik rambutnya. "Miss Debora tenanglah!. Lepaskan dulu tanganmu dariku dan kita akan berbicara baik-baik untuk sekarang ini!." Asiah berusaha untuk menenangkan situasi namun Debora tidak mendengarkan, dia malah semakin kuat menarik rambut Asiah hingga Asiah meringis kesakitan dan menunduk kebawah.
Tangan Asiah memegang rambut panjangnya dan berusaha untuk tetap berdiri seimbang. "DEBORA HENTIKAN!," Teriak Mery.
Mery dan para penjaga keamanan berlari mendekati perkelahian Asiah dengan Debora. Mereka bertiga berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Debora pada rambut Asiah. "Asiah! Jangan bergerak-gerak! Dan tetap berdiri stabil!, Kami akan segera melepaskan tangan Debora dari rambutmu!."
Asiah bergumam pelan. "Uugh... Mis Mery Aku baik-baik saja. AWW!, Pokonya lepaskan dulu tangannya dariku, lalu bawa dia menjauh dariku."
"Apa? Aku tidak bisa mendengarmu?."
"Tsk. AWWW! HEI? ITU SAKIT?."
"HAHAHA ... RASAKAN J-LANG BODOH! BAGAIMANA RASANYA? APAKAH SAKIT? RASAKAN PEMBALASANKUUUUU— KYAAHAHAAA...." Debora malah berteriak seperti orang gila karena kesenangan. Sedangkan Ervin terdiam, dia tidak berbicara lagi setelah Debora menolak untuk melepas tangannya dari Asiah tapi, tangannya masih dikepala Asiah.
Jantungnya berdetak kencang untuk wanita itu saat melihat dia menarik rambut Asiah. Perasaan ini?!, Sudah lama aku tidak merasakannya. Ervin melihat Asiah yang menunduk karena rambut kepalanya di tarik. Kemudian pandangan matanya tertuju pada tangan Asiah yang terluka. Apa yang terjadi? Kenapa tangannya seperti itu?, Kenapa bisa terluka seperti itu?.
"MISS DEBORA! LEPASKAN MISS ASIAH!!!," Jeremi berteriak sambil menangis, tangan pendeknya memukul-mukul tangan Debora yang menarik rambut guru kesayangannya itu. "HUWWW— PAMAN LAKUKAN SESUATU!," Tanpa sadar Jeremi memanggil pamannya yang masih diam berdiri melihat pertengkaran itu.
"ANAK KECIL! JANGAN MENGANGGU PERKELAHIAN ORANG DEWASA!," Debora mengancam anak kecil di sampingnya dengan tatapan tajam namun masih belum melepaskan tangannya dari rambut Asiah.
Kenapa anak kecil ini bisa ada disini?, Bukankah kelas akan di buka satu jam la**gi.
Debora memutuskan untuk mengabaikan Jeremi dan terus menarik rambut Asiah. Dia juga tak lupa untuk mengamati raut wajah Ervin yang masih belum menunjukan perubahan di sana akan tetapi, saat dia memperhatikan ekspresi pada raut wajah Ervin, dan apa yang dia tunggu akhirnya terjadi perlahan dia melihat Ervin mengalihkan pandangannya kerahanya. Akhirnya, kamu melihatku, apakah kamu simpati? Apakah kamu kahwatir denganku...?
Debora melihat ada sesuatu yang janggal, dia menyadari kalau Ervin sedang melihat dirinya dengan cara yang aneh. Apa itu?, Kenapa aku merasakan ada yang salah disini?.
Tersenyum.
Ervin mulai bertanya. "Namamu Deborakan?."
__ADS_1
"Hikss... Iyaaa- hikss hikss...."
"Bisakah kamu melepaskan Nona Asiah sekarang juga," kata Ervin yang tersenyum lembut dan berbicara sangat pelan. Debora terdiam melihat senyuman manis itu, hingga tangannya mulai melonggarkan tarikannya pada rambut Asiah seolah terhipnotis namun sesaat kemudian dia menarik rambut Asiah lagi, bahkan semakin kuat. "AKU TIDAK AKAN MELEPASKANNNYA!, WALAU HANYA SEDETIK."
"Nug- ... Kakiku sudah mati rasa." Asiah merasa tubuhnya berat dan kakinya mulai mati rasa menahan beban dia orang yang menguncangnya.
"APA! APA YANG KAMU KATAKAN ASIAH?!, HEI! BERTAHANLAH!!!," Mery yang menopang tubuh Asiah tidak bisa mendengarnya dengan baik sehingga dia salah mengertikan apa yang di maksud oleh Asiah. "KA-KAMU TIDAK BOLEH PINGSAN!, BA-BAHAYA UNYUK BAYIMU NANTI! JANGAN PINGSAN!!!."
Uungh!, mis Mery... Kamu berteriak sangat kencang di telingaku. Bisa-bisa aku tuli nantinya. Asiah yang sudah tidak tahan untuk menopang dirinya akhirnya terjatuh dengan lutut yang menyentuh aspal. Kakinya sudah sangat pegal sehingga dia tidak punya pilihan untuk segera menjatuhkan dirinya.
Tsk. Perlukah aku memukul perut wanita ini dari bawah?, Aisss... Maafkan ibu nak. Ini akan segera bera—. Dalam hatinya Asiah mengutuk hari buruk ini, dia memutuskan aku memukul Debora namun dia berhenti setelah mendengar teriakan histeris Mery dan geraman Debora.
"TIDAK... JANGAN... ASIAHH!."
"KAMU MAU MENIPUKU HAH? SIALAN... AKU TIDAK BISA DITIPU!." Mery dan Debora menguncang tubuh Asiah cukup kuat sehingga membuatnya mual dan mengigit lidahnya.
"Awt-."
"AAAARG.... F-CK KALIAN SEMUA MENYINGKIR DARINYA SEKARANG JUGA!." Semua orang berhenti bergerak ketika mendengar suara teriakan dari pria yang paling terlihat tenang sejak tadi. Bahkan Asiah yang berada di atas aspal melihat sedikit kearah Ervin. "HAHH... HAHH... Kau Tidak Dengar Saat Aku Bilang Lepaskan!," Kecam Ervin. Ervin menerobos dua satpam yang berusaha untuk melepaskan tangan Debora tadi.
Tatapan mata Ervin bergetar.
"Hhump...."
Merinding.
Tubuh Debora merinding setelah mendengar suara Ervin, dia tidak menduga bahwa reaksi Ervin akan terlihat seperti itu di matanya. Dia ragu-ragu untuk melepaskan tangannya dari rambut Asiah akan tetapi melihat Ervin yang menatapnya dengan tatapan tajam membuatnya ketakutan.
"Kau-kau beruntung hari ini."
Debora melepaskan tangannya dari rambut Asiah lalu melangkah mundur selangkah dari posisinya semula. Setelah Debora melepaskan tangannya akhirnya Asiah bisa merasakan lega, kepalanya tidak sakit lagi dan bisa menurunkan tangannya. Rambutku tidak botakkan?, Matilah aku kalau sampai Mama tahu aku jadi botak karena pertengkaran kecil seperti ini. Asiah menyentuh kepalanya lagi.
"Asiah! Kamu baik-baik sajakan?!, Tidak ada yang terlupakan?!," Mery bergegas memeriksa Asiah dari atas sampai kebawah, dia juga memeriksa bagian kepala yang tadi di pegang Asiah.
__ADS_1
"Hei kau menyingkir."
"Hem?."
Mery melihat Ervin dengan tatapan aneh.
Dia mengenal orang yang ada di depannya itu karena mereka pernah bertemu beberapa kali ketika Ervin menjemput Jeremi dari sekolah, awalanya Mery tidak terlalu memikirkan keberadaan Ervin sejak awal pertengkaran di mulai lagi karena bagi Mery, Asiah lebih penting. Namun melihat bagaimana Ervin mendekati Asiah sekatang membuatnya sedikit cemas. Apa yang ingin dia lakukan?.
Mery hanya memperhatikan tindakan yang dilakukan oleh Ervin dari jarak 10 langkah. Dia melihat bagaimana Ervin merawat Asiah dengan baik. Mery dapat memastikan kalau hubungan Asiah dengan Ervin bukanlah hubungan biasa hanya dengan melihat betapa lembutnya Ervin menyentuh dan memeperlakukan Asiah dengan baik.
"Apa kau baik-baik saja?."
Ervin mengangkat Asiah yang masih berlutut di atas aspal. "Aku baik-baik saja." Asiah melingkarkan tangannya di leher Ervin ketika tubuhnya di angkat untuk berdiri.
Ervin memeluk Asiah dari depan dan membersikan debu yang menempel di lututnya. "Cik. Jelas-jelas kau tidak baik-baik saja, jangan mengatakan sesuatu yang menjengkelkan seperti itu lagi!," kata Ervin kesal dengan sikap tenang Asiah.
"...."
Apa mereka saling mengenal?, Tapi aku tidak pernah melihat pamannya Jeremi berbicara pada guru manapun selama beberapa tahun ini, batin Mery.
"Asiah lebih baik kamu kerumah sakit saja sekarang!, Tubuhmu mungkin baik-baik saja dari luar tapi— pokoknya cepat kerumah sakit sekarang!, Dan... Pamanannya Jeremi."
Mery mengatupkan tangannya di hadapan Ervin. "Saya minta tolong pada anda untuk membantu Miss Asiah menuju rumah sakit sekarang!," Pinta Mery.
Ervin yang seharusnya marah menjadi ibah saat melihat Mery mengangkat kedua tangannya seperti memohon. "Kau tidak perlu memohin seperti it—"
"BLUNG-!." Asiah menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tiba-tiba saja mulutnya merasakan mual hebat dan isi perutnya seperti di putar oleh sesuatu. "HUAACK!!!."
"!!!"
Ya Tuhan... Pasti mereka akan mulai lagi.
"ASIAH!!!."
__ADS_1
"Huh...?" Asiah tiba-tiba saja muntah darah. Segumpalan darah segar di muntahukan Asiah ke aspal. Bahkan sebagian darah mengenai baju Ervin yang berada di dekat Asiah. "Da- ... Darah?."
"AAAA- AAAA!, DOKTER! DOKTER!!! SEGERA PANGIL AMBULAN!!! SEGERA PANGGIL AMBULAN!!!." Mery mengalami serangan panik. "AAAAARG-...."