
"Hanya sebagian."
Ema tersenyum membalas.
"Kamu tahu... Putriku menipu putramu untuk mendapatkan anak."
Dahi Janed mengkerut. "Menipu putraku???."
"Sepertinya kamu belum tahu."
"Hahaha... Putraku, dia...." Janed menundukkan kepalanya kebawah. "Putraku tidak pernah cerita apapun mengenai itu."
Ema melihat kegelisahan dalam ekspresi Janed yang tertunduk. Sebagai seorang wanita dia mengetahui sedikit perasaan itu walau tidak bisa mengetahuinya sepenuhnya.
"Kalau begitu aku akan ceritakan, apakah kamu tidak keberatan."
Meski ragu sejenak, akhirnya Janed memutuskan untuk mendengarkannya langsung dari mulut Ema. Jika aku menunggu Ervin untuk berbicara maka kesempatan itu tidak akan pernah ada.
"Katakan kepadaku... Apa yang kamu ketahui."
Ema mengangguk.
"Baiklah kalau begitu aku akan mulai menceritakannya dari sudut pandang putriku terlebih dahulu."
Dalam kegelapan malam yang mulai sepih, Ema dan Janed duduk berdampingan tanpa pengawasan dari siapapun.
Ema yang mulai menceritakan segalanya dari sudut pandang Asiah yang dulu dia dengar secara langsung. Mengenai bagaimana dia berusaha untuk mendapat anak dengan memanfaatkan pria semacam Ervin yang hanya ingin bermain-main.
"Lalu beberapa bulan kemudian aku mendengar dari Ervin bahwa—."
Janed mendengar semuanya dalam pikiran jernih. Tak ada satu kalimat pun yang terlewat, mulai dari bagian Ervin mencari Asiah seperti orang gila selama lima bulan dan masih banyak lagi sisi yang belum pernah dilihat Janed dari cara Ema menjelaskannya.
"Hahaha... Aku tidak percaya mereka melakukan hal gila semacam itu."
Janed memijat keningnya pelan setelah Ema selesai menceritakan segalanya.
"Dari sudut pandangku mereka berdua hanya saling melukai, karena hubungan mereka tidak sehat sejak awal."
"Aku juga berfikir seperti itu"
Ema melihat jened sekali lagi.
"Jadi... Menurutku tindakan yang benar untuk mereka adalah dipisahkan.
"...."
Ema tersenyum lalu berdiri dari atas bangku. Dia melirik Janed sebentar yang masih menunduk.
"Aku duluan."
Ema berjalan lurus tanpa melihat kebelakang.
Sebenarnya dia tidak tega untuk memisahkan Asiah dan Ervin karena sejak melihat mereka berdua di Prancis Ema tahu bahwa mereka berdua saling mencintai.
Karena itulah Ema tidak terlalu terkejut setelah mengetahui alasan putrinya pingsan.
Dia marah, kesal tapi juga tidak bisa terlalu menyalahkan Ervin karena hubungan Asiah dengannya tidak pernah resmi dan juga Asiah melakukan hal yang salah duluan sehingga dia menganggap bahwa kejadian itu adalah karma untuk perbuatan putrinya dimasalalu.
Dan sekarang melihat Ervin yang berusaha untuk mendapatkan kembali Asiah dengan cara melawan suaminya sampai terluka parah semakin membuat Ema percaya bahwa memisahkan mereka berdua adalah cara terbaik untuk mengakhiri semua luka.
__ADS_1
Tak.
Kaki Ema berhenti didepan pintu kamar pasien Jefry.
Dia membuka pintu dan mendapati suaminya sedang berbaring dengan santainya di atas tempat tidur sambil bermain game di ponselnya.
"Apa kamu tidak terlalu santai."
"Hem?."
Ema melihat suaminya mengalihkan perhatian dari game lalu melihatnya didepan pintu.
"Darimana saja?."
"Jawab aku."
"Aku hanya bersandar."
"Kamu...." Ema mengusap wajahnya kasar lalu, dia ingin memarahi dan memukul Roberto tetapi tidak jadi karena dia tahu bahwa itu semuanya akan sia-sia.
"Asiah ada dimana?."
"Kekamar sebelah mungkin."
"... Robert, sebenarnya mengapa kamu terlihat sangat tenang."
"...."
"Lupakan, aku akan menjemput Asiah lalu kita akan pulang kerumah, kamu juga terlihat baik-baik jadi kemasi barangmu."
Roberto tidak menjawab tapi dia mengangguk.
Ema keluar dalam perasaan campur aduk. Sekarang aku harus kembali lagi kekamar itu.
Ketika dia tiba didepan pintu penjaga yang ada didepan melarangnya.
"Anda tidak bisa masuk."
"Mengapa?."
"Ini perintah dari Nyonya."
Ema terdiam.
"Biarkan dia masuk." Suara Janed menginterupsi dari belakang. "Dan... Kalian pergilah ketempat suamiku dan temani dia."
"Kami mengerti." Para pengawal pergi meninggalkan pintu kamar, sekarang tinggallah Ema dan Janed.
"Apa yang membuatmu mampir lagi kekamar putraku?."
"Untuk menjemput putriku, setelah dari sini kamu akan langsung pulang."
"Jadi begitu.... Kalau begitu mari."
Ketika Janed membuka pintu sedikit, suara tawa terdengar dari dalam.
Berhenti.
Ema juga refleks berhenti saat mendengar Asiah tertawa. Dalam tawanya Ema merasa kasih sayang dan kehangatan yang murni berbeda dari beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
Selama beberapa menit mereka diam dan mendengarkan percakapan Ervin dana siah didalam. Tidak ada hal sepesial yang mereka bahas tetapi terasa menyenangkan.
Deg deg deg....
Ema menepis pemikiran positifnya sejenak dan mengambil langkah pertama untuk membuka pintu tapi ketika wajah Ervin dan Asiah terlihat hatinya menjadi terenyuh.
Air mata hampir jatuh.
"Aku tidak bisa." Sambil berkata pelan Ema mengelengkan kepalanya, melihat Asiah menyentuh lembut wajah Ervin yang terluka dan Ervin yang menutup matanya perlahan saat menerima sentuhan lembut Daria Asiah. Aku tidak bisa memisahkan mereka.
"Kupikir lebih baik meninggalkan mereka seperti itu." Janed menarik kembali knop pintu dan menutup sangat pelan hingga suara tertutup tidak terdengar.
"Dengar... Kupikir. Hal lebih buruk akan terjadi jika mereka berdua dipisahkan." Janed mengatakan itu sambil menyentuh pundak Ema.
"Mungkin mereka dulu saling menipu dan hubungan mereka tidak sehat tapi sekarang ... Mereka telah saling mencintai dengan tulus."
"Aku tidak tahu... Aku tidak tahu lagi." Ema menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan lalu berjongkok diatas lantai.
"Ema... Aku memohon padamu untuk tidak menjauhkan kebahagiaan putraku dan juga kebahagiaan putrimu.
"Sebagai seorang ibu aku tahu perasaan cemas mu terhadap kedua pihak tapi- ... Kumohon-."
"Putramu terluka karena Anakku dan Suamiku, apa kau tidak terluka melihat itu?."
Janed mengangguk.
"Tentu saja aku terluka bahkan marah tapi berkat itu putraku telah banyak berubah kearah yang lebih baik." Janed melihat ke pintu kamar dimana putranya berada. "Untuk pertama kalinya aku melihat Ervin memiliki gairah untuk hidup berkeluarga.
"Sebelumnya meski umurnya Tigapuluh Satu dia terkadang masih seperti anak-anak tapi semuanya berubah setelah putrimu hadir kedalam kehidupannya, Ervin kami mulai berubah!."
"...."
"Asiah mungkin menipu Ervin tapi bagiku dan keluargaku tindakannya mungkin adalah sebuah bentuk penyelamatan untuk putraku, kalau saja dia tidak melakukan itu pada putraku maka anak itu mungkin—." Janed tidak melanjutkan kalimatnya dan hanya tersenyum.
"Aku mohon."
Ema menutup matanya.
"Sebagai Ibu dari putra yang belum dewasa sepenuhnya aku mohon padamu untuk tidak mengambil kebahagiaan putraku."
"... Ada banyak wanita yang lebih baik diluar sana, kamu hanya tinggal memilih tidak harus putriku."
"Tapi putraku hanya mau putrimu."
"Jika tidak dicoba maka-."
"Sudah dicoba dan gagal... Ervin benar-benar hanya mencintai Asiah Rosen." Janed berkata dengan frustasi.
Ema menutup matanya lagi lebih erat.
Dilema dalam hatinya masih belum hilang sepenuhnya.
"Aku bisa jamin bahwa adikku tidak akan melakukan hal bodoh lagi dimasa depan." Angela yang telah mendengar percakapan kedua ibu didepannya datang dengan penuh percaya diri.
"Siapa?."
"Aku Angela saudari Ervin. Sebagai kakaknya aku minta maaf untuk kebodohan yang dia buat."
"Jika kamu ingin membahas skandal bulan lalu maka tidak perlu diperpanjang, aku maklum dengan itu dengan baik."
__ADS_1
"Tentu, tapi tetap saja aku ingin meminta maaf... Atas perbuatan tidak dewasanya," kata Angela sambil tersenyum.