
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?."
"Tidak terjadi apa-apa. Hanya hal baik saja yang terjadi padaku hari ini."
"...."
Asiah menyentuh lehernya dengan tangan kanannya, dia merasakan sensasi dingin yang misterius pada lehernya. Perasaanku tidak enak, apa dia sudah tahu semuanya?. Asiah terus memperhatikan perubahan-perubahan ekspresi Ervin, bahkan di dalam mobil setelah Ervin melepaskan maskernya. Wajah tampannya terlihat berseri memancarkan kearah Asiah. Dia pasti menyembunyikan sesuatu.
Asiah diam seribu bahasa di dalam mobil, dia tidak memiliki niat untuk berbicara ataupun membahas hal lain dengan Ervin, sedangkan Ervin sibuk memasangkan sabuk pengaman pada tubuh Asiah dan memberikan mantelnya pada Asiah. "Kamu mengunakan mantel musim dingin di bulan Juli?." Asiah melihat mantel musim dingin di tangannya.
"Hari ini cuaca cukup dingin walau sekarang sedang musim panas lagi pula, aku tidak ingin dengar itu dari seseorang yang memiliki demam di musim panas."
"Wajar jika seseorang mengalami demam di musim panas, kenaikan suhu dapat menyebabkan siapa saja dehidrasi."
"Kamu berbicara seperti seorang Guru saja."
"Aku memang seorang guru?."
"Oh, begitukah?. Ternyata kau bekerja sebagai seorang Guru," kata Ervin yang mulai melajukan mobilnya perlahan.
"...."
Asiah diam sekali lagi, dia mengingat apa yang di katakan oleh Julius beberapa hari yang lalu ketika mereka berada di kamar pasien. "Asiah, kamu tahu, kamu ini adalah tipe orang yang tidak bisa menjaga rahasia dengan benar, kamu mengatakan banyak hal tentang rahasiamu padaku padahal belum tentu aku ini akan berada di pihakmu."
"Oh! Ugh, sebenarnya temanku juga sering mengatakan itu, tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa menyembunyikan hal besar seorang diri."
"Intinya jangan mengatakan hal-hal seperti ini pada orang lain terutama pada orang-orang yang berada di sekitar Tuan Muda, kamu tidak tahu apa yang akan terjadi jika rahasiamu di ketahui oleh Tuan Muda."
Pada saat itu Julius cukup lama memperingati Asiah tentang kebiasaan buruknya sampai Asiah merasa seperti anak kecil yang sedang di marahi oleh Ayahnya.
Asiah bergumam pelan, "Padahal dia bukan Ayahku."
"Hem?, Kamu bilang apa?."
"Tidak ada."
"...."
Sejenak Ervin melihat Asiah lalu fokus kembali kejalanan. "Hem... Apa Kamu menganti pengharum mobilmu?," Tanya Asiah, Asiah melihat pengharum yang menempel pada AC mobil. "Kamu tidak suka aroma daun Mint jadi aku mengantinya dengan aroma Melati. Ini baru bagiku karena belum pernah memakai aroma lembut yang seperti ini tapi-" Ervin menganggukkan kepalanya.
"Aromanya cukup menenangkan, mencoba hal baru ternyata tidak seburuk yang aku pikirkan."
"...."
Asiah memandang wajah Ervin selama beberapa menit. Apa dia selalu berbicara banyak hal tidak penting seperti ini?.
"Apa ada sesuatu di wajahku."
"Tidak, aku hanya melihatmu karena tampan."
__ADS_1
"Benarkah?, Lebih tampan mana, aku atau mantan-mantanmu?."
"...."
Asiah terdiam untuk beberapa saat. Dia melihat jalanan dan mobil yang melintas, tatapannya menjadi dingin saat dia menyentuh perutnya. "Di bandingkan dengan 'Dia' kamu lebih baik."
"Hem?."
"Tidak. Lupakan soal itu dan perhatikan jalanan," kata Asiah.
"Moodmu berubah dengan derastis, apa ini karena efek kehamilan?."
"...."
Asiah tidak menjawab Ervin, dia terus mengelus perutnya dengan lembut dan menundukkan kepalanya. Suasana hatiku tidak bagus setiap kali seseorang membahas bajingan gila itu. Ervin yang menyadari perubahan mood pada Asiah menjadi penasaran namun tidak bertanya. Aku juga akan tahu pada akhirnya nanti. Ervin kembali fokus pada jalanan, keheningan yang cukup lama membuat Asiah mengantuk dan tertidur sangat lelap.
***
"Hei! Ayo kita pacaran."
"Hem?."
"Bukankah kamu suka denganku Asiah?."
"Uugh."
"Kamu ini bilang apa?."
"Kamu sangat cantik ketika wajahmu tersipu malu seperti ini Asiah." Pria di depan Asiah menyentuh dagu Asiah tanpa ragu. Pria dengan rambut pirang dangan warna mata biru seperti laut menghipnotis Asiah. Membuatnya terus memandang wajah pria itu dengan lembut.
"Aku juga menyukaimu Asiah~, aku sangat mencintaimu sampai-sampai ingin membunuhmu."
"Hah???."
"Aku sangat mencintaimu sampai-sampai ingin membunuhmu Asiah~"
"Uugh."
Asiah tidak mengerti apa yang di katakan oleh pria di depannya. Dia juga tidak mengerti bagaimana bisa dirinya yang semula sedang duduk di ruangan kelas menjadi terikat di atas sebuah kursi. "Apa-apa yang terjadi? Di mana bayiku?!!!" Asiah menjadi panik, dia mulai meronta-ronta di atas kursi. Ruangan yang dia lihat hanya ruangan gelap kemudian tiba-tiba saja sebuah lampu menyala di depan sebuah meja hitam.
Di depan meja terlihat seorang pria duduk membelakangi Asiah, rambut pirangnya memantulkan cahaya lampu namun anehnya Asiah seperti melihat bercak merah di baju dan rambut pria itu. "Hemm~ ternyata kau sudah bangun rupanya."
"...?"
"Kamu sangat lama bangunnya sampai-sampai bayi-bayimu menunggumu untuk waktu yang lama?." Asiah masih belum mengerti apa yang di katakan rpaundi depannya sampai pria itu berbalik.
"!!!"
Mata Asiah melebar, jantungnya berdetak sangat kencang dan air mata keluar di iringi teriakan Asiah. "AAAAARG!-" Asiah melihat dua bayi berlumuran darah di tangan pria itu. Pria itu tersenyum bahagia dan berjalan membawa bayi-bayi itu kehadapan Asiah.
__ADS_1
"HAHAHA... BERANI-BERANINYA KAU MENGANDUNG BAYI ORANG LAIN ASIAH KETIKA AKU MENCARIMU SEPERTI ORANG GILA KEMANA-MANA!.
"KAMU HANYA BOLEH MENCINTAIKU DAN MEMILIKI BAYIKU SEORANG! KARENA ITU, AKU HARUS MENGELUARKAN MEREKA SUPAYA KAMU BISA MENGANDUNG ANAKKU...." Pria itu berteriak kegirangan dengan bayi berlumuran darah di tangannya.
"TIDAK! TIDAK! TIDAK!!! BAYI-BAYIKU! AAAAAARGGG- TIDAKKKK...!"
"Mereka bukan bayimu Asiah, nanti setelah kamu mengandung anakku baru mereka adalah bayimu~"
"BAJINGAN GILA!!! AAAARRG- BAYIKUU!, BAYIKKUU...."
"Asiah?."
"Uugh..., Bayiku-"
"Asiah? Bangun?!."
"Uugh- sniff... Mereka bayiku-"
"ASIAH?!." Ervin panik ketika melihat Asiah menangis, dia menguncang tubuh Asiah yang masih menutup matanya. "HEI?! HEI?!." Ervin terus menguncang bahu Asiah dan membuka paksa mata Asiah dengan jari-jarinya. "ASIAH!!!."
"HHHHPP!-"
Asiah membuka matanya, tubuhnya refleks mencengkram tangan Ervin begitu kencang, kuku jarinya menusuk kulit Ervin hingga mengeluarkan darah. "HAHH... HAHH... BAYIKU! BAYIKU-" Asiah panik.
"Bayimu?." Ervin melepaskan cengkraman tangan Asiah dari tangannya dia melihat tubuh Asiah yang bergetar dan matanya tidak fokus serta mengeluarkan banyak keringat dingin. "Bayimu masih ada di perutmukan?." Ervin mengalihkan tangan Asiah keperutnya.
"Tidakkah kau merasakannya?." Ervin menatap mata Asiah yang masih bergetar. Sepertinya dia mengalami mimpi buruk, tapi kenapa sampai seperti ini?. Ervin memegang wajah Asiah.
"Hei?."
"Hahh.... Bajingan Gila Itu!!!."
"Asiah?."
"Huhhf... Huhhff... Aku akan membunuhnya!."
"Asiah?."
"Sniff... Dia Mengambil Bayiku!!!."
"...?"
"Tidak akan ada yang mengambil bayimu."
"DI-DIA MENGAMBILNYA!."
"Tidak ada yang mengambil bayimu."
Ervin menatap mata Asiah dengan lembut. Kemudian tangan Ervin menyentuh perut Asiah. "Lihatlah sendiri. Bukankah mereka masih ada di sini?," Kata Ervin yang menyentuh perut Asiah, dia sedikit mengerutkan keningnya saat merasakan pergerakan kecil disana.
__ADS_1