Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 017.


__ADS_3

Wajah Asiah yang memegangi perutnya terlintas di benak Ervin. Ervin melihat bagaimana cara Asiah menyentuh perutnya dan berbicara kasar hanya untuk membantah semua asumsinya. "Sebenarnya apa yang aku inginkan darinya?." Ervin menyentuh keningnya lagi dan mengusap wajahnya, kemudian dia kembali membaca kertas di hadapannya.


...🌸🌸🌸...


25 Juli 2024.


Pukul 05:06, Pagi.


Membuka Mata.


Asiah terbangun setelah mendapat mimpi buruk, dia bermimpi kalau pria yang sangat dia hindari itu menunjukan dirinya di depan pintu rumahnya sembari menunjukan kertas aneh. "Ugh, mimpi itu terlihat sangat nyata." Asiah turun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi, dia menyentuh pingganya dan berjalan pelan menuju cermin.


"Hahh... Pagi yang di awali dengan sakit pinggang ham." Di depan cermin dia melihat matanya yang masih membengkak karena menangis semalaman. "Aku pikir hari ini tidak usah masuk saja." Asiah membuka bajunya, menyalakan air dan membilas dengan lembut tubuhnya. "Uug!!," Asia merasakan mual.


"Huk— Hueek!"


Dia muntah sebanyak tiga kali dan tubuhnya merasakan panas. "Apa aku demam?." Asiah mematikan air dan bergegas kekamarnya, dia mengambil Termometer untuk mengecek suhu tubuhnya. "TIGA PULUH SEMBILAN!!!"


Asiah panik dan segera memakai bajunya, dia mengambil tas dan dompet yang berserakan di atas meja. "Pantas saja tubuhku tidak seperti biasa pagi tadi." Dia menyentuh perutnya ketika bayinya memberikan pergerakan.


"Ugh. Maafkan ibu!"


Asiah mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada salah satu guru yang kebetulan sedang piket pagi ini. Dia mengetik pesan dengan gugup, dahinya mulai mengeluarkan keringat dingin,tangannya gemetar.


"Ya Tuhan, Aku Sangat Ceroboh Karena Tidak Memerhatikan Kesehatanku." Asiah menjadi panik dan menangis, dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada bayinya karena kondisi tubuhnya. Sedangkan di tempat lain tak jauh dari rumah Asiah, mobil BMW E36 berwarna hitam legam terparkir di pinggiran jalan.


Pemilik mobil tidak lain adalah Ervin Kyros Alvaro, dia datang dan memarkirkan mobilnya sembarangan tepat di depan rumah Asiah. Ervin langsung datang ke lingkungan rumah Asiah setelah selesai membaca tumpukan kertas yang berisi informasi tentang Asiah.


Tatapan Ervin terlihat lelah dan raut wajahnya cemberut, rambutnya yang acak-acakan terlihat tidak terurus. "Katanya dia selalu pergi bekerja di lebih awal di hari Senin dan Kamis setidaknya aku datang hanya untuk memastika kalau tempat ini benar-benar rumahnya." Ervin terus menatap pintu rumah bergaya minimalis berwarna Putih dan Hitam.


"...!"

__ADS_1


Ervin menyaksikan lampu yang tiba-tiba menyala dan pintu yang terbuka. Sosok wanita yang dia tunggu-tunggu semalaman akhirnya keluar dari dalam rumah namun dalam kondisi yang aneh. "Ada apa dengannya?." Ervin melihat Asiah yang berjalan terburu-buru dan membuka pintu gerbang. Dia melihat Asiah berjalan terhuyung dengan terlihat pucat dan nafasnya tidak teratur.


"Huuff... Huhhf... Ungh-."


Asiah kelur dari rumah dengan yang berkeringat dingin, dia berjalan menuju pintu gerbang dengan pandangan yang berkunang-kunang.


Asiah memilih untuk tidak mengendarai mobilnya untuk keamanan bayinya, dia tidak tahu apa yang akan terjadi kalau dia berkendara dengan kondisi tubuh yang sedang sakit.


Setelah menutup pintu gerbang, dia berjalan melalui trotoar sembari menyentuh dinding-dinding pagar dengan perlahan. Udara yang masih sejuk menembus kulitnya.


"My God..., kenapa hari ini begitu dingin?." Meski sudah mengunakan pakaian yang cukup tebal nyatanya itu saja belum cukup untuk melindunginya dari udara dingin di tambah suhu tubuhnya yang terus meningkat membuat dia merasa tidak nyaman.


"Huhff... Huhff... SSTT!!!"


Asiah menutup matanya dan menyentuh kepalanya yang berdenyut. Asiah berhenti berjalan dan berjongkok di trotoar akibat denyutan di kepanya, tangannya menyentuh wajahnya yang basah karena air mata.


"HAHH... HAHA... Rasanya sakit sekali!!!."


"Hei! Apa yang kau lakukan di sini?."


"Hem?." Asiah melirik seseorang yang berbicara padanya.


Ervin menarik lengan Asiah yang menyentuh wajahnya, dia menarik Asiah ke atas memaksa Asiah untuk berdiri. "Kamu—!!!" Ervin terdiam saat melihat wajah Asiah yang sedang menangis.


"... Kamu? Apa yang kamu lakukan disini? Snif...."


Asiah bertanya pada Ervin yang entah bagaimana tiba-tiba muncul di hadapannya pagi-pagi buta.


"...."


Ervin yang melihat reaksi Asiah mengerutkan kening dan memeriksa kening Asiah dengan punggung tangannya. "Kau sedang sakit!, Kau ini benar-benar—"

__ADS_1


"Jika kau ingin- hikss.. berdebat denganku sniff... Lakukan nanti saja. HUgh... Aku sedang tidak enak badan sekarang." Asiah melepaskan tangan Ervin dari lengannya.


"Tsk."


Ervin tidak mau melepaskan tangan Asiah melahan dia membawanya menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari trotoar. "Hei? Aku sudah bilang—" Asiah tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Ervin yang memarahinya.


"Tutup Mulutmu, Tidak Bisakah Kau Melihat Aku Mencoba Membantumu? ... Tsk tsk tsk... Apa yang akan terjadi kalau aku tidak ada disini tadi," gerutu Ervin.


Ervin mendudukan Asiah di kursi depan dan memasangkan sabuk pengaman padanya tak lupa Ervin membuka jaket tebalnya dan meletakkannya di tubuh Asiah.


"Aku tidak membutuhkan—"


"Diam dan duduk manis saja."


Ervin mengambil saputangan dari kantung celananya dan menghapus air mata Asiah dengan lembut.


Ervin meringis menatap mata Asiah yang memerah. "Kau seperti orang bodoh ketika menangis, jika sedang sakit seharusnya kau menghubungi seseorang untuk membantumu," Ervin menggerutu namun tetap menyapu air mata Asiah dengan saputangannya.


Setelah Ervin menghapus air matanya dia berbalik dan menuju kursi pengemudi. Sebelum mehidupkan mesin mobil dia memperbaiki jaket tebal yang turun dari tubuh Asiah. "Kau ini seperti anak kecil, apakah kau tidak bisa memegangnya dengan baik," kata ervin yang memperbaiki jaket di tubuh Asiah.


"Sniff."


Asiah tidak menjawab, dia hanya melihat Ervin melakukan apapun yang ingin dia lakukan. Asiah bahkan tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan karena kepalanya saja sudah sangat sakit di tambah perutnya yang semakin mual, untungnya Asiah masih bisa menahan diri supaya tidak muntah di dalam mobil mewah Ervin.


"..., Duduk saja dengan tenang. Aku akan menghubungi temanku sebentar." Ervin mengambil ponselnya dan menghubungi temannya di tempat lain sebelum melajukan mobilnya. Namun, setelah menghubungi beberapa kali masih belum ada tanggapan.


"Cik."


Ervin memutuskan untuk segera pergi dari lingkungan rumah Asiah menuju rumah sakit terdekat tetapi dia mengalami sedikit masalah ketika Asiah mulai menangis. "Hikss... Uaaah... Sakit Sekali!— hikss... Kepalaku sakit sekali... Hwaaa...." Asiah menyentuh wajahnya lagi dan memepuk-nepuk di sana.


"Hei! Apa Yang Kau Lakukan?!, Jangan Menepuk Wajahmu!." Ervin menepis telapak tangan Asiah yang menepuk wajahnya. "Tapi rasanya sakit sekalii... Hikks... Uugh...," Asiah semakin menitihkan banyak air mata dan menjauhkan wajah Ervin dengan telapak tangannya.

__ADS_1


__ADS_2