
"Kamu hanya berbicara sesuatu yang tidak penting. Tunggu, kamu tidak akan memukul atau melukainnyakan?."
"..., Aku tidak jamin."
"Tsk tsk tsk, seharusnya kamu harus lebih baik lagi dengannya, dia memberikanku banyak tips supaya punggungku tidak sakit saat tidur."
"Apa hanya itu saja?, Kalau itu aku juga bisa."
Asiah melihat Ervin mengerutu mulai bertanya-tanya tentang kebebasan yang dimiliki seorang pengusaha ternama ini. "Ngomong-ngomong apa kamu tidak sibuk?, Ini sudah dua hari kamu menemaniku di rumah sakit, tidakkah kamu memiliki banyak urusan yang harus kamu lakukan?."
"Nahh... Aku Pemiliki perusahaan jadi aku bisa melakukan apapun yang aku lakukan, aku bisa mengatur jadwalku sesuka hati. Dengan kata lain aku bisa tidak menyibukkan diriku kapanpun aku mau."
"..., Orang kaya hidupnya menyenangkan rupanya."
"Kau tahu juga, kalau kau mau hidup enak kenapa tidak tinggal denganku saja."
"Tidak... Terima kasih, aku sudah punya rumah dan pekerjaan, lagi pula aku ini suka di repotkan."
"Tsk, apa bagusnya mengajar anak-anak yang suka berteriak."
"Kamu tidak akan tahu itu karena kamu tidak menyukai anak-anak."
".... Tahu darimana kau kalau aku tidak suka anak-anak?."
"Itu—"
"Apa dari Julius?."
"Ehem...." Asiah memalingkan wajahnya ke luar jendela, dia menghindari kontak mata langsung dengan Ervin. "Sudah kuduga, dia melakukan sesuatu yang tidak penting."
Tak lama kemudian mereka akhirnya tiba di depan pintu gerbang rumah Asiah. "Terima kasih karena sudah mengantar—"
"Tunggu sebentar." Ervin keluar duluan dari dalam mobil, dia berjalan memutar untuk membuka pintu keluar bagi Asiah. Dia memeganggi tangan Asiah untuk membantunya keluar dari dalam mobil.
"Turun perlahan, hati-hati dengan kepalamu." Asiah melihat wajah Ervin sebentar lalu menunduk kebawah. Apa-apaan dia ini, kenapa begitu perhatian seperti ini.
Asiah menurunkan kakinya perlahan lalu keluar dari dalam mobil. "Terima kasih," kata Asiah. "Tentu." Ervin menyeka rambut Asiah yang sedikit menutupi wajahnya kebelakang telinganya. "Sekarang jadi lebih baik."
"Apasih yang kamu lakukan."
"Tidak ad—"
"Eh? WAAAA~ APA INI PACARNYA NONA ASIAH?," Ucap kagum seseorang dari belakang mereka.
Melihat wanita muda didepannya Ervin sedikit menaikan alisnya keatas, bertanya-tanya siapa wanita muda didepannya itu, dan berfikir kalau wajah wanita didepannya cukup familiar. Siapa dia ini, kalau tidak salah aku pernah melihatnya disuatu tempat.
"Nona Carolin, selamat pagi. Sudah lama tidak bertemu, anda semakin cantik saja setiap harinya," kata Asiah seramah mungkin.
"Ahahaha... Kamu bisa saja," kata wanita itu sambil melihat wajah Ervin. Saat melihat wajah pria didepannya wanita itu langsung terpesona dengan ketampanan maut yang dimilikinya. Siapa pria tampan ini, dia benar-benar tipeku, aku tidak pernah melihat pria setampan ini sebelumnya dan.... Carolin melihat Asiah. Aku belum pernah melihat Asiah membawa pria yang tampan sebelumnya, apa aku kurang memperhatikan akhir-akhir ini. Carolin tersenyum malu saat melirik Ervin sekali lagi.
__ADS_1
"...."
Ah... Aku ingat wanita ini sekarang, dia lacur yang menyusun satu buku penuh tentang informasi mengenai teman kencan Asiah. Adrian juga mendapat informasi dari wanita ini. Ervin tersenyum pada wanita yang sedang melirikmya itu, dia ingin mengucapkan terima kasih pada wanita yang sudah berjasa menolongnya di saat Ervin sedang stres karena memikirkan anak siapa yang berada di kandungan Asiah saat itu.
"Senang bertemu denganmu nona carolin."
Mendengar suara berat Ervin Carolin menelan ludahnya kasar sambil tergugup. "Glup... Ahaha... Senang bertemu dengan anda tuan...."
"Panggil saja aku Adrian."
"Hem?."
"!!!."
Mendengar nama Adrian mata Carolin seketika melotot, bulu kuduknya mulai merinding setelah nama itu disebutkan. "Ah—ah... Aku- ... Aku pikir aku akan- ... Aku akan pulang duluan hahaha...." tubuh Carlos mulai gemetar, dia segera membalikan tubuhnya dan berjalan lurus kedepan.
"Hem?." Asiah penasaran dan berbicara. "Tumben sekali, biasanya anda akan bertanya banyak hal?."
"Ahaha .... Apa yang kamu katakan Asiah, aku sedang ada urusan jadi aku pulang dulu yah, selamat pagi dadahhhh...." Carolin berlari secepatnya dari depan rumah Asiah tanpa ada niat untuk menengok kebelakang. "Dia terlihat aneh sekali."
"Apa kalian berdua dekat?."
"Aku? Dekat dengan dia?, Itu sebuah kemustahilan, kamu tahu! Dia itu ratu gosip di area perumahan ini, aku hanya berbicara dengannya beberapa kali.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu menyebutkan nama temanmu?."
"Hem???."
"Sudah cukup cepat masuk sama dan beritiraha, kalau aku menghubungimu segera angkat atau kau menerima akibatnya." Ervin mendorong punggung Asiah pelan, menuju pintu gerbang yang sudah terbuka.
"Tunggu!." Asiah memegang tangan Ervin.
"...."
Ervin melihat tangan Asiah yang memegang tangannya lalu melihat wajah Asiah bergantian. Apa ini mimpi?. Ervin masih tidak percaya kalau Asiah memegang tangannya duluan.
"Apa lagi?."
"Soal itu... Bisakah kamu melakukan sesuatu untukku?."
"Melakukan apa?."
"..., Bagaimana kalau kita masuk kerumahku dulu."
"Ap-apa? Masuk kerumahmu!." Ervin tidak bisa menahan ekspresi terkejutnya setelah mendengar tawaran Asiah. "Apa kamu tidak mau masuk kerumahku?."
"TENTU AKU MAU!."
"... Kalau begitu ayo masuk, jangan hanya berdiri di sana," Asiah menuntun Ervin dari gerbang rumah kedepan pintu. "Rumahku memang tidak mewah akan tetapi tolong lepaskan sepatumu dan kenakan sendal yang ada di depan pintu."
__ADS_1
"Kenapa aku harus melepaskan sepatuku?."
"Suapaya kotoran yang ada di sepatu tidak masuk kedalam rumah tentunya."
Membuka pintu.
"Aku pulang."
"...?"
"Apa ada orang lain yang tinggal bersamamu?!."
"Tengu saja tidak, aku hanya mengatakan itu karena terbiasa dengan ibuku yang juga sering mengatakannya saat pulang dari manapun."
"Apa ibumu orang Jepang?."
"Yap. Bagitulah."
"..., Jadi, apa yang harus aku bantu?."
"Itu."
Asiah membawa Ervin menuju kamarnya, Ervin cukup terkejut dengan struktur ruangan rumah Asiah, dia melihat banyak barang-barang berbahan keramik di setiap sudut rumahnya, foto beserta lukisa-lukisan anak-anak di pajang di dinding rumah seperti sebuah hiasan.
"Apa ini hasil kinerja murid-muridmu?."
"Ya, bukankah mereka semua terlihat imut."
"...."
Ervin melihat salah satu gambar dari anak murid Asiah dengan tema anjing berwarna hijau bersama orang-orangan sawa di sebelahnya. "Kau punya selera yang buruk dalam hal seni," kata Ervin yang terlihat jijik melihat gambar di dinding.
"Itu hanya gambar anak-anak, memangnya gambar seperti apa yang kamu harapkan dari anak berusia Lima tahun."
CREEKK...
Pintu kamar terbuka.
"...?"
"Itu, tolong ambilkan ponsel yang ada di bawah lantai," tunjuk Asiah pada sebuah ponsel yang hancur di sebelah dinding.
"Jadi ini alasanmu tidak mengangkat pangilan telefonku akhir-akhir ini." Ervin berjalan masuk kedalam kamar yang didominasi warnah putih. Dia melirik tempat tidur yang masih berantakan dan lemari yang tidak terkunci.
"Tempat tidur yang cukup besar untuk ukuran dirimu yang kecil."
"Apa?."
"Tidak ada." Ervin mengambil ponsel di lantai, dia melihat layar ponsel yang telah terbelah dan kaca yang hancur di bawahnya. "Jangan datang kemari, ada pecahan kaca di sini."
__ADS_1