Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 43.


__ADS_3

"Bukan itu Ayah!, Coba lihat baik-baik. Tidakkah Ayah sedikit heran melihat semua ini?," Kata Angela yang membongkar lagi kotak-kota kecil. Setiap kali dia membuka kotak paket dia akan melihat baju-baju bayi dan peralatan-peralatan bayi dan semakin terkejut.


Jefry menghela nafas. "Hahh... Kamu ini, sebentar lagikan Jeremi akan segera memiliki adik, jadi dia mungkin memesan ini untukmu."


Mendengar itu Angela mulai berteriak tidak setuju. "HAH...??? ITU TIDAK MUNGKIN!."


"Bagimana ini sayang?."


"Yah mau bagaimana lagi, aku sendiri tidak tahu apa yang di pikirkan anak it-." Jefry berhenti berbicara ketika pandangan mata Jefry tertuju pada sebuah paket tipis di bawah kakinya. Pekat itu terlihat lebih kecil dari semua paket yang sedang di buka oleh Angela dan Istrinya. Jefry yang juga penasaran dengan isi-isi paket yang di pesan Ervin mengambil paket kecil itu dan membukanya.


Ada-ada saja, sejak dulu anak-anakku mengunakan uang mereka untuk hal-hal tidak berguna seperti ini. Jefry membuka sampul paket yang cukup mudah untuk di buka dan mendapati sebuah buku berwarna biru.


"Mari kita lihat. 'Tutorial menjadi Ayah yang Baik- ' ."


SLUP.


Mata Jefry terbuka lebar, dia segera memasukan buku ditangannya kedalam bajunya. "EHEMM!." Dia pura-pura terbatuk dan berbalik dari Istri dan Putrinya. "Hem? Ada apa sayang? Apa kamu sakit?," Tanya Janet.


"Ah tidak. Tenggorokanku hanya sedikit gatal dan- Ehem. Aku akan seger kekamar mandi." Jefry berjalan cepat menuju kamarnya, sesampainya disana dia langsung mengunci pintu dan memastikan kalau jendela tertutup sepenuhnya dan kemudian dia mengeluarkan buku biru dari dalam bajunya.


"Apa-apaan bajingan kecil itu, dia membuatku hampir terkena serangan jantung!." Jefry membolak-balik halaman buku dan tetap saja isinya sama dengan apa yang dia baca pertama kali. Jefry menghusap kasar wajahnya setelah membaca beberapa lembar halaman buku, kepalanya menjadi pusing. "Aiss... Aku pikir aku salah lihat tadi!. Ervinn... Anak sialan itu...." Jefry merosot kelantai, dia mencium buku biru di tangannya.


"Sniff-sniff... Putraku akhirnya dewasa. Hikss.. putraku yang bodoh akhirnya dewasa," Air matanya tidak bisa berhenti turun dari matanya ketika melihat buku di tangannya itu.


Sedangkan di ruangan keluarga. "GILA! IBU LIHATLAH! DIA JUGA MEMBELIKAN PAKAIAN DALAM UNTUKKU!,"teriak Angela.


***


Di Rumah Sakit.


"Jadi ... Apa kalian sudah tenang sekarang?," Tanya Asiah pada tiga orang di depannya.


"Santai sekali kamu mengatakannya."

__ADS_1


"Benar! Apa kau tidak khwatir sama sekali Asiah?," Tanya Mery yang menyilangkan tangannya di dada.


"Hahh... Aku bukannya santai hanya saja hal seperti ini memang sering terjadi pa-."


"Sudah diamlah, dokter bilang kau harus banyak istirahat dan sebentar lagi mereka akan memeriksa keadaan kandunganmu."


"...."


Asiah melihat Ervin. Sudah hampir 2 jam lamanya Ervin, Mery, dan Julius menemani pemeriksaannya. Mereka sangat legah ketika dokter yang memeriksa Asiah mengatakan bahwa kondisinya baik-baik saja namun, dokter menyarankan Asiah untuk melakukan pemeriksaan kandungan secepatnya.


Awalnya Asiah menolak untuk di periksa karena tak lama lagi dia juga akan melakukan pemeriksaan di rumah sakit tempat salah satu keluarganya bekerja sebagai dokter disana. Akan tetapi Ervin dan Julius benar-benar membuatnya kewalahan untuk menolak tawaran dari dokter, Ervin bahkan mengatakan kalau dia akan mengurus segala sesuatu yang di butuhkan oleh Asiah hingga akhirnya Asiah menerima saran dari dokter untuk segera melakukan pemeriksaan.


"Miss Mery apakah anda tidak bekerja?."


"Aku akan ke sekolah setelah memastikan keadaanmu baik-baik saj-"


Ervin menyela. "Aku pikir lebih baik anda kembali saja kesekolah anda Miss Mery. Saya meninggalkan keponakan saya di sana, saya harap anda bisa menjaganya sebentar sampai saya menjemputnya nanti."


Mery sedikit ragu untuk meninggalkan Asiah tapi setelah melihat siapa yang mengangguk padanya akhirnya dia mau untuk segara kembali ke sekolah. "Kalau ada masalah hubungi aku. Jangan kawatir soal Debora aku akan-" Mery tidak bisa melanjutkan kalimatnya saat Ervin menyelanya lagi.


"!!!"


Mery berkeringat dingin setelah mendengar ucapan kasar Ervin. Dia segera mengambil tasnya dan memeluk Asiah sejenak. "Jika dia melakukan sesuatu yang berbahaya katakan saja padaku," bisik Mery.


"Iya, aku mengerti."


Setelah itu Asiah menyaksikan Mery keluar dari dalam kamar tergesa-gesa dan meninggalkan mereka bertiga di sana. "Julius kau keluar sana."


"Tapi dia masi-"


"Keluar."


"Baiklah Tuan Muda."

__ADS_1


Julius mendengarkan perkataan Ervin dan segera keluar dari kamar tapi sebelum itu dia melirik Asiah yang kebetulan melihatnya juga.


"Apa lihat-lihat. Cepat keluar sana."


Ervin terlihat sangat kesal dengan tatapan yang diberikan Julius pada Asiah. "Ba-baik Tuan Muda," kata Julius sambil menutup pintu dan tinggalah hanya Asiah dan Ervin.


"Jadi-"


"...."


SRUK.


"Hei?!." Tiba-tiba saja Ervin naik keranjang pasien Asiah dan tidur memeluk pinggang Asiah. "APA YANG KAU LAKUKAN?!," Teriak Asiah. Sekujur tubuhnya merinding melihat aksi yang dilakukan oleh Ervin. Dia berusaha untuk mendorong dan melepaskan tangan Ervin yang memeluk pingganya sekaligus membenamkan wajahnya di perut buncit Asiah. Ya Tuhan..., Nyawaku hampir saja lepas dari tubuhku karena bajingan ini.


"Hei? Lepas-"


"Aku minta maaf."


"Hah?."


"Aku minta maaf karena tidak bisa melakukan apa-apa saat rambutmu ditarik oleh j-lang itu." Ervin mengambil sedikit rambut panjang Asiah dan mengelusnya di tangannya tetapi posisinya masih berbaring di atas ranjang.


"Aku minta maaf." Suaranya terdengar serak dan penuh penyesalan. "Hahh... Ini bukan salahmu." Asiah mulai mengaruk wajahnya. Dia meletakan tangannya pada pundak Ervin yang memeluk pingganya walau merasa tidak nyaman.


"SSK-..." Ervin mengeram. "Akan kubuat dia menyesal... Akan kubuat dia membayar setiap helai rambut yang lepas dari kepalamu!."


"Iya... Iya kau bisa lakukan apapun yang ingin kau lakukan."


"...."


Ervin semakin membenamkan wajahnya di perut Asiah, merasakan pergerakan kecil disana dan kemudian perlahan menutup matanya. "Hei?, Apa kau sudah bisa melepaskan tanganmu?," Tanya Asiah.


Tidak ada tanggapan dari Ervin, Asiah menyeka rambutnya yang menutupi wajah Ervin. Dia melihat kalau Ervin sudah tertidur setelah mengatakan kalimat yang cukup kejam.

__ADS_1


Asiah bergumam pelan. "Hahh... Ini semakin sulit saja, sekarang dia bahkan sudah bertingkah seperti ini."Asiah menghusap wajahnya dan melihat lagi Ervin yang masih tertidur pulas.


"Aku tidak mengerti dengan semua tindakannya." Asiah memutuskan untuk mengabaikan masalahnya sejenak. "Untuk sekarang kita abaikan saja dulu." Seiring berjalannya waktu perlahan-lahan matanya mulai memberat, lelah akan pertengkaran dan kurangnya waktu tidur akhirnya membawanya lelap dalam mimpi tanpa sadar Asiah berbaring di sebelah Ervin dan tertidur bersamanya.


__ADS_2