
"Sudalah, ini bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan." Asiah melepaskan tangan ibunya lalu berjalan sendiri dibelakang. "Ayah dan Mama duluan saja."
"Bagaimana denganmu?."
"Aku akan menemui Laura sebentar."
"Oke tapi cepat kembali yah."
"Baiklah." Asiah memilih jalan terpisah menuju ruangan pengantin yang sedang bersiap.
Totok...
"Masuk?," Kata suara dari dalam.
Asiah masuk kedalam setelah mendapatkan izin, dia melihat ada empat orang pengiring wanita dan dua laki-laki yang berdiri disebelah Laura. Dia mengenal keenamnya sebagai kerabat jauh Ayahnya.
"Siapa?," Tanya pengantin.
Tersenyum.
"Sepertinya kamu sudah melupakanku."
"OMG!." Pengantin yang mengenali suara Asiah menjerit terkejut. Dia bergegas mengangkat gaun putihnya lalu berlari kearah Asiah. "Laura jangan-."
"ASIAHHH...." Dia datang lalu melompat-lompat sambil memegang tangan Asiah. "INI BENAR-BENAR KAMU!, YA TUHAN... ASIAHH...." Laura yang senang melihat sepupunya setelah sekian lama tidak bertemu tidak bisa tidak berteriak.
"INI SEPERTI MIMPI!."
"Hahaha...." Asiah tertawa lalu menghentikan Laura yang bersemangat.
"Sudah cukup, nanti kamu jatuh!."
"Kamu ini...." Laura mencubit pipi Asiah yang mengenakan riasan tipis.
"Kamu sudah berubah banyak!, Kenapa kemarin tidak datang saat aku bertunangan?."Laura yang berhenti melompat melihat Asiah dengan senyum yang masih belum hilang.
Asiah menjawab. "Kemarin aku kelelahan... Sampai harus masuk rumah sakit jadi tidak bisa hadir, tapi Mamaku hadir untuk mengantikanku."
"Hem Hem... Aku kecewa... Tapi sudah tidak lagi!." Ekspresinya berubah-ubah saat menatap mata Asiah. "Sekarang kamu hadir sudah cukup untukku... Sekarang kamu bisa melihat calon mempelai yang sudah payah kudapatkan itu!."
"Hoho... Aku tak sabar melihatnya." Asiah masih mengingat bagaimana sepupunya bercerita mengenai bagaimana dia mendapat pria yang telah dia incar sejak lama.
"Tapi Asiah bagaimana kamu bisa hamil?," Laura bertanya pertanyaan yang selalu ditanyakan kerabatnya setiap kali bertemu Asiah.
"Well... Aku berhubungan intim dengan orang lain dan... Walah... Aku hamil."
.... Kamu benar-benar tidak serius."
"Aku serius! Lagi pula mengapa kalian selalu bertanya pertanyaan yang sama setiap kali bertemu?." Asiah menyentuh dagunya seolah dia lelah dengan pertanyaan itu.
__ADS_1
"Memangnya apa yang kamu harapkan orang bertanya?, Kamu telah meninggalkan Jerman dan pindah ke Prancis untuk bekerja tapi pulang-pulang sudah-."
"Laura! Ini sudah waktunya acara dimulai." Kerabat Asiah yang merupakan salah satu pengiring mendekat lalu menarik tangan Asiah menjauh dari Laura. "Kamu bisa berbicara dengannya lagi nanti sekarang ayo bersiaplah."
"Oh oke." Tak lupa Laura mengalihkan pandanganya pada Asiah lagi. "Sampai jumpa di Hall sayang." Sebelum pergi Laura memberikan isyarat ciuman lalu kembali bersiap.
"Kamu kembalilah ke Hall... Kamu akan segera bersiap." Tatapan sinisnya masih melihat Asiah dari atas sampai bawah terutama bagian perut. "Tsk... Dasar tidak punya etika."
Asiah mendengar itu namun tidak ambil pusing, sejak awal hubungannya dengan beberapa kerabat Ayahnya tidak pernah baik jadi dia sudah memakluminya. "Aku keluar duluan."
"Sampai jumpa Asiah!." Laura melambaikan tanganya sambil tersenyum manis.
***
"Dimana anak itu?." Ema melihat sekeliling untuk mencari keberadaan putrinya.
"Robert! Apa kamu sudah menemukan Asiah?."
"Belum, aku masih menca- Ah itu dia." Roberto bergegas mendekati putrinya. "Kenapa lama sekali?."
"Urusan wanita."
"Tsk." Ayahnya mendecakan ludah lalu menuntun Asiah duduk disebalah Ema yang melotot padanya.
"Kamu ini...."
"Sudalah perhatikan acaranya." Roberto duduk disebalah istrinya di meja yang telah disediakan khusus untuk keluarga Rosen bersama yang lainnya.
Musik mulai berbunyi dan pengantin wanita masuk kedalam bersama Ayahnya yang mengantarkannya.
Berdiri.
Semua hadirin berdiri satu persatu, hanya Asiah yang tidak berdiri dari kursi karena larangan Ema sehingga dia hanya menyaksikan Laura masuk kedalam dari sana.
Asiah menyaksikan semuanya dalam diam. Seakan suara disekitar telah meredup, hanya pandangan kedepan melihat kedua mempelai yang begitu sempurna mulai saling menggenggam di hadapan Tuhan.
"Hiks...." Telinganya masih bisa menangkap suara seseorang yang menangis bahagia di acara itu.
Pendeta mulai berbicara di ikuti dengan syaduh oleh hadirin, pengantin yang berada di pelaminan saling bertatapan dan tersenyum haru.
"Dihadapan Tuhan...."
Terlihat bagus.... Asiah mengabaikan suara yang lain termasuk suara pendeta yang meresmikan kdua mempelai. Tatapannya hanya tertuju pada Laura dan suaminya. Mereka terlihat akan bahagia selamanya.
Sang mempelai pria mulai mengambil cincin berwarna emas dengan berlian cantik pink kecil sebagai hiasan, dimasukannya perlahan Kejari manis mempelai wanita lalu menatapnya lembut. Kemudian giliran mempelai wanita untuk memasangkan cincin emas elegan di jari manis sang suami.
"Sekarang kalian telah resmi menjadi sepasang Suami-Istri."
Bertepuk Tangan.
__ADS_1
Hadirin bertepuk tangan untuk merayakan peresmian pengantin baru yang ditutup dengan ciuman singkat kedua mempelai di ikuti sorakan meriah dari hadirin yang hadir. Asiah juga ikut bahagia, dia mulai bertepuk tangan antusias merayakan peresmian sepupunya itu.
.
.
.
"Apa Kalian Siap!."
"SIAP!!!."
Ayah mempelai wanita mengocok sebotol bir di tengah hall yang diikuti suara riuh para hadirin yang menikmati acara setelah resepsi.
Ema dan Roberto kini telah berpisah dengan Asiah untuk menyapa teman atau saudara yang mereka kenal di acara itu. Meninggalkan Asiah sendirian yang sedang menikmati makanan yang disediakan.
Nyut...
"Ngu-!." Asiah mengigit sendok kecil di mulutnya saat pinggangnya kembali nyeri. "Sial." Asiah menepuk pinggangnya dan berdiri untuk meluruskan punggung. Dia mulai berjalan pelan kearah toilet wanita tapi sayangnya stelah berada di toilet duduk dia mendengar sesuatu yang tidak seharusnya dia dengar.
"J-lang itu...! Dia merebut pria yang paling aku cintai.... Hiks... Aku sumpahi dia berakhir di selingkuhi."
"Huss... Jangan begitu Tera."
"Ah." Asiah mendengar nama yang familiar, Tera adalah nama sepupunya yang lain, sepupu yang dia berprilaku kasar padanya tadi. Jadi...
"Hiks... Hikss... Lihat saja, aku akan merebut James darinya suatu hari nanti."
"...."
Asiah mendengar semua umpatan dan kalimat kasar yang diarahkan sepupunya pada Laura selama 10 menit. Tidak heran dia terlihat sinis denganku ternyata dia suka pada suaminya Laura tapi apa urusannya itu denganku sampai pandangan matanya seperti itu???.
Asiah ingin keluar, dia tidak mau mendengar banyak ocehan sepupunya karena itu bukan urusan yang perlu dia repotkan. Tanpa pikir panjang dia menghubungi Ibunya untuk segera menjemputnya di toilet.
Tak berselang lama.
"ASIAH!." Ema muncul di kamar mandi dengan raut wajah khawatir. Membuat kedua gadis yang ada di dalam terkejut.
"B-bibi Ema!."
"Tera? Kenapa kamu menangis tidak, apa kalian melihat putriku?."
"Aku tidak-."
Tiktok....
"Aku disini Ma." Asiah mengetuk pintu toilet yang berada di depan cermin besar. "A-Asiah kamu ada disana?!!." Tera terkejut hingga wajahnya hampir berubah putih.
"S-sudah berapa lama???," Katanya tergagap.
__ADS_1
"Sejak tadi, saat kamu mulai menangis." Asiah menghampiri ibunya sambil bertolak pinggang. Dia berjalan pelan, sangat pelan karena nyeri yang masih menjalar.