Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 98


__ADS_3

......🌸🌸🌸......


[Pukul 01.03.04.] Sore hari.


Dua mobil hitam berjalan lamban menunju rumah sakit terdekat.


Stap... Stap...


Hentakan kaki dari masing-masing sepatu terdengar keras hingga menarik perhatian beberapa pasien yang lewat.


Dua wanita parubaya dan dua wanita muda yang sedang hamil secara bersamaan menghampiri perawat.


"Kamar 0455!."


"Kamar 0456!."


Mereka berbicara bersamaan sehingga perawat yang mendengarnya keheranan.


Asiah mengenali kedua disebelahnya tapi tidak berani untuk menyapa dan hanya mengikuti apa yang ibunya lakukan.


"Antarkan saja aku kekamar 0455."


"Tidak! Antarkan aku duluan." Dia wanita parubaya itu saling bertatapan sinis.


"Aku tiba duluan."


"Apa yang kamu maksud tentu saja aku yang duluan tiba."


Cekrass...


Seperti ada guntur ditataoan tajam merek.


"Ma... Kita harus cepat!." Asiah tidak ingin menunda waktu sehingga dia sudah lebih dulu berbicara pada perawat yang menunjukan arah kamar pasien.


Dia mengangguk sopan kearah Angela yang juga melihatnya dengan tatapan sayu. "Ayo Ma." Asiah menarik tangan ibunya untuk segera berjalan cepat dan tibalah mereka di dua kamar yang berbeda.


Kamar disebalah mereka terlihat 8 penjaga berbadan besar mengawasi pintu sedangkan kamar yang sebelahnya lagi terlihat sepih. Perasaanku tidak enak. Asiah menyeka lehernya yang berkeringat lalu masuk kedalam kamar 0455.


Sebelumnya sebuah telepon darurat datang kepada mereka, panggilan telepon dari sahabat lama Roberto yang menghubungi mendadak mengatakan bahwa saat ini Roberto sedang sekarat tapi nyatanya.


Ketika mereka masuk kedalam kamar Roberto hanya duduk disisi tempat tidur dengan perban di area pinggang dan luka memar kecil di bagian siku.


"Ayah...." Saat mengatakan itu Asiah hampir menangis, dia dan ibunya langsung memeluk pria yang tampak tenang itu. "Apa yang terjadi pada Ayah." Saat melihat luka yang tak seberapa itu hati Asiah terasa tersayat. Ini pertama kali baginya melihat Ayah yang tidak pernah terluka tiba-tiba mendapat luka dan dikatakan sedang sekarat.


"Ayah... Membuatku khwatir!."


"Hiks... Sayang ... Apa yang terjadi?!!." Ema yang juga ikut bersedih menyentuh wajah suaminya dan mengelus luka ditangannya. "Aku dengar kamu sekarat... Snif... Aku hampir terkena serangan jantung hiks... Sayangku...." Ema menyentuh wajah Roberto seolah tidak ingin melepasnya.


"Aku tidak sekarat, ini hanya luka kecil jadi jangan menangis." Saat mengatakan itu Roberto tersenyum cerah pada keduanya membuat Asiah menjadi kesal lalu menyentuh luka dipinggang dan menekannya kuat.


"AAARG-!!! Asiah!." Roberto yang terkejut meringis saat Asiah menekan lukanya tiba-tiba. "Apanya yang baik-baik saja, Ayah terluka parah!."


"Ayah baik-baik saja putriku... Ratuku... Cintaku... Ini hanya luka ringan."


"Tapi Tetap Saja!-." Asiah tidak ingin melanjutkan amarahnya dia langsung memeluk Ayahnya dan menangis pilih dalam kehangatan pelukan Ayahnya.


Ditempat lain.


"...."


Menunduk.


Jefry menundukan kepalanya kebawah saat tatapan tajam Janed terasa menembus kulit wajahnya.


Ditempat tidur pasien Ervin terbaring lemah sambil membuka matanya. Dia melihat sekitar lembut. Untuk pertama kalinya dia merasakan bagaimana menjadi pasien rumah sakit yang sesungguhnya.


"Katakan padaku... Apa yang membuat dia sampai jadi seperti ini."

__ADS_1


"Itu hanya penyelesaian masalah antar pria."


"Penyelesaian masalah antar pria? Sampai seperti ini?." Janed menunjuk wajah putranya yang babak belur dan sekujur tubuhnya yang terluka.


"Itulah yang terjadi jika lawannya adalah 'Oni' masih untung bisa hidup," Jefry bergumam kesal, mengutuk putrinya yang menjadi penyebab dirinya ditatap tajam oleh istrinya.


Angela yang sejak tadi bertatapan mata dengan Ervin membuka mulutnya. "Kupikir kali ini akan langsung mati... Katakan apa hasilnya."


Ervin menjawab. "Aku menang."


"Bagaimana?."


"Hanya beruntung... Aku mengikuti saran Ayah dan berhasil menang."


"Kalian berdua keluarlah sebentar, aku ingin berbicara pada putraku."


Angela dan Jefry saling melirik lalu dengan patuh keluar dari dalam ruangan.


Tanganya yang lembut menyentuh wajah Ervin. "Hari ibu rasanya seperti tercabik saat melihatmu seperti ini."


"Aku baik-baik saja Ibu."


"Bagaimana kamu bisa baik-baik saja dengan kondisi tubuh seperti ini?!."


"Aku melakukannya untuk mendapatkan Asiah kembali."


"Nak...." Ema mengenggam tangan Ervin erat-erat. "Apa perlu sampai seperti ini."


"Iya. Ini adalah hadiah yang harus kudapat dari tingkah kekanak-kanakanku selama ini...."


"Snif... Ibu sangat sedih."


"Tidak bisakah kamu bersama wanita lain dengan keluarga yang lebih normal?."


"Tidak!." Ervin berbicara tegas. "Aku hanya mau Asiah untuk seumur hidup."


"Tidak, dia pria yang baik... Aku saja yang bajingan."


"Sayang...."Janed tersenyum piluh.


Melihat itu perlahan Ervin membalas genggaman tangan ibunya. "Aku tidak tahu kalau Ayah ternyata begitu perhatian terhadapku."


"Huh???."


"Terima kasih pada Ayah sehingga aku masih hidup saat ini."


"Apa yang terjadi?."


"Ayah membantuku selamat saat berhadapan dengan Roberto Rosen."


Janed tersenyum lalu menghusap lembut wajah Ervin sambil berkata. "Tidak seorangpun Ayah didunia ini yang menginginkan putranya mati ditangan orang lain, Ibu yakin Ayahmu lebih suka kamu mati ditangannya dari pada ditangan Roberto."


"Apa itu pujian atau sindiran."


"Entalah...."


Janed membantu Ervin yang hendak bersandar, dia meletakan tumpukan bantal di punggung Ervin lalu kembali duduk memandanggi putranya.


"Lalu sekarang apa yang akan kamu lakukan."


"Tentu saja menikah."


"Benar tentu saja meni- TUNGGU!. Menikah?????."


"Benar, aku sudah dapat restu dari Roberto jadi apa lagi yang harus kutunggu, lebih cepat lebih baik."


Wajah Janed berubah putih. "Tidak... Tidak... Tidak... LANGSUNG MENIKAH!." Janed berteriak. Menarik perhatian Jefry dan Angela di luar.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?." Jefry masuk lagi kedalam. "Ibu aku mendengar teriakan ibu dari luar apa lagi yang dilakukan bajingan ini?."


"B-buakan seperti itu Ervin bilang kalau dia akan menikah!."


"APA? Dengan kondisi semacam ini?." Jefry melihat putranya yang menyedihkan lalu menyentuh dahinya.


"Ervin berpacaran dan menikah itu dua hal yang berbeda... Setidaknya lamar dia terlebih dahu-."


"Aku sudah melamarnya."


Kali ini mereka berteriak bersama-sama. "APA?????."


"Di-diamana??? Bukankah kalian masih belum bertemu dengan benar?."


"Ervin terlalu berhalusinasi itu tidak baik untuk mental."


"Sayang ibu tahu kamu ... Ah... Pokonya istirahat saja dulu!."


Ervin menghela nafas kasar.


"Aku melamarnya sore tadi sebelum datang ke zona merah." Jefry langsung mendatangi Ervin ditempat tidur dia melihat sekitar lalu menatap putranya seperti akan membunuhnya.


"Bajingan sial... Kenapa kau tidak bilang dari tadi huh? Jika kau bilang dari awal aku sudah turun tangan untuk menghentikan Roberto."


"Kau tidak tanya jadi tidak kuberi tahu."


Enjela menyela.


"Bukan itu yang penting sekarang, apa jawaban dari Asiah Rosen? Apa dia menolakmu atau-."


"Dia bilang iya."


Terdiam.


"Asiah menerimaku dan melupakan kejadian waktu itu."


"Kupikir dia lebih baik dari yang aku kira." Janed bergumam kagum.


"Hatinya benar-benar lembut untuk setan sepertimu Ervin."


"Diam kau."


"Haiss... Tapi bagaiman kau kepikiran untuk melamarnya sore ini."


"Dia sendiri yang memintaku untuk segera menikahinya."


"Dia sendiri?."


"Benar."


"Lalu dengan apa? Apa yang kau berikan padanya saat melamar?." Angela menyilangkan tangannya di atas perutnya.


"Kau tidak membawa apa-apa saat kita datang ke Jerman jadi apa yang kau berikan?."


Pandangan mata Angela tidak sengaja tertuju pada tangan kiri Ervin yang biasanya akan ada cincin silver disana. "Jangan bilang kau memberinya cincin yang sudah usang itu?." Sebagai seseorang yang bekerja di bidang aksesoris Angela tidak bisa tidak marah melihat adiknya yang kaya raya memberikan cincin murahan yang telah dia pakai bertahun-tahun pada calon adik iparnya dimasadepan.


"KAU-!."


Tapi sayangnya apa yang tidak dia harapkan terjadi. "Aku memberikan itu padanya, bagiku itu adalah barang paling penting yang bisa kuberikan saat it-."


"AAAARG- TIDAK AESTHETIK... APA KAU INI DARI DESA? APA OTAKMU KAU TINGGALKAN DI PRANCIS? TIDAK.... KATAKAN DIMANA KAU MELAMARNYA!." Angela menarik kerah baju Ervin.


"Didalam mobil."


"AAAAAAAARG-."


"Angela jangan berteriak! Ini rumah sakit nanti yang lain terganggu!."

__ADS_1


Melihat itu Janed bergumam kesal. "Haiss... Keluargaku tidak ada yang normal."


__ADS_2