
"...."
Dokter yang melihat itu juga ikut terkejut keheranan. Apa dia tuan muda yang selama ini aku tahu? Ini pertama kalinya aku melihat dia menangis. Dokter menyentuh lengannya yang merinding.
"Hei... Apa kau baik-baik saja?, Cepat cuci wajahmu dulu," kata Asiah.
"Nhgm... Aku akan ketoilet sebentar."
Ervin segera keluar secepat mungkin, dia berlari seperti di kejar oleh hantu. Setibanya di toilet dia langsung mencuci wajahnya. "Sniff..., Telingaku tidak salah dengarkan—"
Ervin berjongkok di lantai, dia masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Apa suara detak jantung selalu semerdu itu."
Sedangkan di kamar tempat Asiah melakukan USG. "Kenapa dia keluar?, Bukankah toilet ada di dalam ruangan?."
"..., Mungkin dia hanya terlalu bahagia saja. Ngomong-ngomong sudah berapa lama anda dan tuan muda berhubu—"
"Kami tidak berhubungan."
"Maksud saya—"
"Kami tidak berhubungan."
"Tapi—"
"Kami tidak memiliki hubungan apapun dengan dia!!!," Tegas Asiah.
"Oh, baiklah.... Aku mengerti."
Jika mereka berdua tidak memiliki hubungan apapun lalu kenapa Tuan Muda Ervin berperilaku seperti itu?. Sejenak dokter terdiam lalu menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri secepat mungkin. Seperti yang dikatakan dokter Julius, lebih baik aku tidak perlu banyak tahu tentang urusan Tuan Muda Ervin.
Pintu Terbuka.
"Apa kamu sudah selesai mencuci wajahmu?."
"Iya sudah, tadi ada debu yang masuk kemataku." Ervin berjalan menuju Asiah yang masih berbaring, dia menurunkan baju Asiah perlahan lalu membantu Asiah untuk duduk.
"..., Kenapa kamu berlari keluar ketika ada toilet di dalam ruangan ini."
"Memangnya kenapa kalau aku memilih toilet yang jauh?."
"Lupakan apa yang aku katakan tadi."
"Ehem... Baiklah, karena kita sudah memastikan keadaan janin yang sehat bagaimana kalau kita melakukan tahap selanjutnya. "Untuk nona Asiah kita akan melakukan pengecekan pada kesehatan tubuh anda beserta hal-hal lain yang dibutuhkan untuk memastikan keamanan bayi anda."
"Tapi aku sudah melakukan semua itu sebelumnya."
"Benar, tapi tidak ada salahnya untuk melakukannya sekali lagi. Lagi pula saya masih punya banyak waktu untuk memeriksa anda sebelum kembali kenegaraku," kata dokter.
"Um—"
"Sudah lakukan saja, soal biaya aku yang akan tanggung," kata Ervin.
".... Apa kau berfikir aku memperdulikan hal-hal mengenai biaya ketika membahas tentang bayi-bayiku?." Asiah menunjuk jarinya kewah Ervin. "Kamu selalu saja mengatakan sesuatu yang membuatku kesal."
"...."
"Lebih baik kamu diam saja atau keluar dari kamar ini," kata Asiah.
__ADS_1
"Beraninya kau mengatakan itu pada—"
"Aku tidak perduli siapa kamu jadi diam atau keluar?, Kamu pilih yang mana?."
"...."
"Pilihan yang bagus." Ervin memutuskan untuk memilih 'Diam' dari pada 'Keluar' dari kamar dan melewatkan banyak prosedur pemeriksaan.
...🌸🌸🌸...
Berlin.
Pukul 05:45, sore.
"Hem.... Ini sudah dua Minggu sejak terakhir kali putriku menghubungiku...."
"Hem? Lagi-lagi kau mengatakan hal itu terus, mungkin putrimu sedang sibuk."
"TAPI TIDAK MUNGKIN SELAMA INI..... SNIF... AKHIR-AKHIR INI DIA BAHKAN TIDAK MENJAWAB PANGGILAN TELEFONKU~," tangis Roberto.
"SEBELUMNYA ASIAHKU TIDAK PERNAH TIDAK MENJAWAB PANGGILAN AYAHNYA...."
"Hahh... Dia pasti akan membalas telefonmu kalau sedang tidak sibuk."
"TAPI KAPAN...!"
"Entalah, mungkin beberapa minggu lagi, ayolah... Ini bukan pertama kalinya dia tidak menjawab pangilan teleponmu."
"Tapi sekarang berbeda... Putriku sedang mengandung cucuku bagaimana mungkin aku tidak khwatir dengan keadaannya!!!." Roberto marengek di bawah lantai.
"Tsk, baiklah-baiklah. Kita akan mengunjunginya Minggu depan kalau kau seperti ini terus."
Ema menghela nafasnya, dia lelah dengan sikap kekanak-kanankan suaminya. "Hahh...."
***
Prancis.
Pukul 08:02. Malam.
"Huhh... Huhhh."
"...."
Mengelus.
Ervin mengelus wajah Asiah yang sedang tertidur. Sudah 20 menit lamanya dia memperhatikan wajah Asiah setelah dia memastikan Asiah menyelesaikan makan malamnya dan memutuskan untuk tinggal lebih lama di rumah sakit.
Creek...
Pintu di buka.
"Tuan Muda."
"Yah."
"Ini hasil laporan kesehatan yang anda minta." Julius menunjukan 4 lembat kertas yang di atasnya terdapat banyak tulisan hasil pemeriksaan. "Apa ini sudah semuanya?."
__ADS_1
"Ya Tuan muda.'
"Kau boleh pergi sekarang."
Julius mengangukan kepalanya lalu segera meninggalkan kamar pasien. "Data kesehatannya sempurna, tidak ada cidera fatal karena ulah wanita sial itu." Ervin membalik lebar kertas bahkan dia melihat laporan tentang perkembangan bayi-bayinya.
"Hahh ...."
BEZZZZT—
"Hem?."
Ervin mengambil ponselnya dari saku. "Kenapa orang-orang idiot ini menghubungiku terus." Ervin mengangkat pangilan masuk di ponselnya. "Apa?."
[ Tidak penting 1.
' ERVIN! Kemana saja aku?! Kenapa tidak mengangkat telefon dariku? ' ]
"Kenapa aku harus mengangkat panggilan darimu?."
[ Tidak penting 1.
' Anak ini!... HEI! CEPAT PULANG SEKARANG JUGA! KAU BERADA DALAM MASALAH BESAR BAJINGAN KEC— ' ]
Tuttt...
"HALO? HALLOOOO? ERVIII?!," Teriak Angela.
"Apa yang dia katakan?."
"Dia memutuskan pangilan dariku. ... AAARG— KALAU DI PIKIR-PIKIR LAGI JADI SEMAKIN KESAL! ANAK ITU MEMBELI SESUATU SEPERTI INI PASTI ADA MAKSUD DAN TUJUANNYA."
"Sudahlah sayang. Kita bisa bertanya lagi setelah Ervin kembali, tidak baik bagi ibu hamil untuk berteriak-teriak seperti itu."
"Hahh... Kalian berdua lebih baik jangan mengganggu Ervin untuk masalah sepele seperti ini," kata Jefry dari belakang.
"Tapi sayang anakmu—"
"Sudalah Janet, Ervin pasti punya alasan bagus untuk barang-barang ini. Yah... Terkadang anak itu memang melakukan sesuatu yang tidak terduga...."
Aku ingin melihat wanita mana yang berhasil membuat bajingan kami bertekuk lutut seperti ini. Jefry memutuskan untuk tidak ikut campur dalam urusan putranya, walaupun dia sangat penasaran dengan wanita yang sedang mengandung anak dari putranya itu. Huhu... Ini jadi menarik, aku tidak sabar melihat anak itu membawa wanitanya kehadapanku.
***
Malam akhirnya berlalu di gantikan pagi hari yang cerah. Tak terasa setelah dia hari lamanya Asiah berada di rumah sakit dan hari ini juga dia sudah di izinkan untuk kembali kerumahnya.
"Uuung— akhirnya aku bisa pulang juga...!"
"Oi, tunggu sebentar."
Ervin muncul dari belakang Asiah sambil membawa tas ukuran sedang. Dia membawa tas yang berisi baju-baju yang di pakai Asiah selama dia tinggal di rumah sakit. "Oh, aku lupa dengan itu berikan padaku."
"Tidak." Ervin tidak membiarkan Asiah mengambil tas dari tangannya. "Jalan saja perlahan di sampingku jangan dan banyak bertingkah, ingat apa yang dikatakan dokter padamu."
"Hump. Kamu terlalu memikirkan apa yang dikatakan dokter itu, kalau tidak bergerak bagaimana aku bisa sehat."
"Jangan melawan perkataanku."
__ADS_1
Ervin mengengam tangan Asiah dan berjalan bersama menuju mobilnya.
"Ngomong-ngomong apa yang kau bicarakan dengan Julius tadi pagi. Kalian terlihat sangat akrab, aku tidak pernah melihat Julius berbicara sebanyak itu dengan seseorang sebelumnya." Ervin membukakan pintu untuk Asiah lalu memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya, setelah itu dia juga masuk kedalam mobil lalu melajukan mobilnya di jalan raya.