Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 94.


__ADS_3

......🌸🌸🌸......


Di sore hari adalah saat dimana pekerjaan mulai terasa lebih ringan bagi sebagian orang dan sebagian lainnya sore hari terasa seperti neraka yang penuh sesak akan tumpukan pekerjaan.


Restoran keluarga Rosen yang terkenal karena elit dan penuh ketenangan tiba-tiba saja menjadi kacau. Restoran yang sejak tadi mulai dipenuhi orang-orang dari kalangan atas nampaknya masih tidak akan berhenti sampai malam hari.


"Ayo kalian semua bekerja dengan baik... Antarkan hidangan penutup."


Roberto yang bekerja membantu koki utama juga merasa kerepotan, sejak tadi pelanggan yang membooking restorannya semakin bertambah dari pagi hingga saat ini. Bahkan istrinya yang terlihat ramah mulai menunjukan senyuman kesal pasalnya, sosok pria yang menjadi tamu istimewah restoran mereka tidak lain adalah keluarga Alvaro.


"Keparat sialan itu pasti sengaja melakukan ini." Ema dan Roberto melihat sinis kearah meja yang di penuhi oleh Jefry dan teman-temanya yang tertawa riah.


Ema dan Roberto tidak masalah jika restoran merek ramai tapi jika itu keluarga Alvaro yang mereka kenal maka lain cerita. Roberto sendiri bahkan telah bersusah payah untuk tidak menaruh racun di makanan yang dibuatnya untuk Jefry dan keluarganya yang lain.


Jika bukan karena wanita hamil disebalah mereka. Mereka melihat wanita itu sama seperti Asiah sehingga mengurungkan niat untuk berbuat jahat.


"Hahh... Aku ingin segera pergi dari tempat ini." Sejak Asiah terkena serangan panik dan skandal Ervin yang merajalela Ema telah menghapus sisi baik untuk keluarga Alvaro dan melihat mereka sebagai keberadaan yang menganggu.


"Sayang kamu bisa pulang duluan jika diperlukan."


"Tidak terima kasih, kalian kekurangan pegawai jadi aku akan membantu semampuku."


"Kalau begitu lakukan secukupnya." Roberto kembali menyiapkan hidangan mewah cantik di atas piring lalu menyusun satu persatu di atas nampan yang langsung di bawa oleh pelayan.


Menatap sinis.


Pandangan mata Roberto dan Jefry bertemu.


Tersenyum.


Jefry tersenyum.


"Tsk... Bajingan itu-."


"Boss apa ada yang salah." Koki di sebelah Roberto bertanya menghawatirkannya yang mulai memotong daging menjadi kotak-kotak.


"Lanjutkan pekerjaanmu."


"... Baik."


"Ema."


"Ya sayang?."


"Sudah menghubungi Asiah?."


"Ah! Aku lupa aku akan hubungi dia sebentar."


Mengangguk.


Ema perginketemlat istirahat pegawai, mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi nomor putrinya.


[ Memanggil.... ]


[ Menjawab.... ]


[ "Halo Ma." ]

__ADS_1


"Sayang apakah kamu baik-baik saja."


[ "Tentu saja." ]


"Aku baik-baik saja." Saat ini Asiah sedang duduk di pangkuan Ervin di kursi penumpang. Ervin yang saat ini sibuk menciumi pipinya tidak mengangguk percakapan Asiah saat menghubungi ibunya.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?."


[ "Tidak ada, Mama hanya khawatir akan sesuatu... Kamu tahu! keluarga Alvaro ada di restoran kita sekarang." ]


"Benarkah?." Asiah melihat Ervin yang bibirnya mengejar bibir Asiah yang sedang berbicara. Menahan. Di saat Ervin akan mencium bibir Aisah dia memblokirnya mengunakan tangan kanan.


[ "Jangan keluar rumah dulu." ]


"Kenapa?."


[ "Bajingan Gila itu tidak ada bersama mereka jadi Mama khawatir dia ada disekitar rumah kita." ]


Asiah terdiam. Maafkan aku Ma... Bajingan Gila itu saat ini sudahberada bersamaku. Asiah menjauhkan ponsel dari telinganya lalu membalas ciuman Ervin singkat.


Ahh... Aku merasa sangat durhaka saat ini. Asiah melepaskan bibirnya lalu menarik kembali ponsel ketelinganya.


[ "Apa masih ada yang ingin Mama sampaikan? Pasti disana sangat sibuk." ]


"Yah begitulah." Ema duduk di kursi lalu melonggarkan pakiannya. "Mama akan akhir panggilanya, ingat! jangan keluar dari rumah sampai kami datang."


[ "Aku tidak jamin." ]


"Kenapa?."


"Tsk... Intinya jika kamu melihat bajingan itu segera hubungi Ayahmu atau paman Pablo untuk menembak mati dia."


[ "Pffft-." ]


"Baiklah aku mengerti." Setelah mengatakan itu sesi panggilan berkahir. "Apa yang dikatakan ibumu."


Asiah melihat Ervin lalu melepaskan tangannya yang berada di buah dada kanannya. "Mama bilang untuk segera menghubungi Ayah atau temanya Ayahku ketika melihatmu."


"Melihatku?."


"Yah... Mama bilang menghubungi mereka untuk menembakmu."


"Kupikir restu bulan lalu sudah kadaluarsa."


"Itu salahmu." Asiah berusaha untuk keluar dari tangan Ervin yang melingkar dipingganya namun semakin dia berusaha tengan Ervin semakin kuat melingkari pinggangnya. "Mau kemana kau?."


"Bergeser, kakiku mati rasa." Asiah mencoba sekali lagi tapi Ervin tidak mau melepaskannya. "Tangan...mu!."


"Tidak mau... Aku sudah tidak menyentumu lama."


"Hanya sebulan."


"Tidak menyentuhmu sehari saja sudah membuatku kepanasan."


Asiah membuka mulutnya lalu menutup lagi. Dia kehabisan kata-kata. Dasar bajingan gila ini.


Ervin yang melihat ekspresi kesal Asiah mengambil segenggam rambut lalu menciumnya. "Kamu baru saja menerima lamaran dariku tapi ingin segera berpisah... Apa kamu punya hati?."

__ADS_1


"Meski aku menerima lamaranmu." Asiah menarik rambut Ervin yang sudah tumbuh sedikit panjang. "Bukan berarti keluargaku menerimamu, biar bagaimanapun skandalmu telah mencoreng habis kepercayaan mereka terhadapmu."


"Tsk."


"Jangan mendecakan lidah, itu semua salahmu."


"Akukan tidak tidur dengan wanita itu."


"Ayahku mana tahu kamu tidur atau tidak dengan model itu yang pasti kalian kedapatan berciuman di depan umum hingga viral itu sudah menjadi aib besar bagi keluarga."


"Keluargamu sensitif sekali."


"Mau bagaimana lagi, semua yang mereka lakukan itu demi kebaikanku."


"Kamu benar-benar anak emas mereka." Ervin bergumam kesal.


Asiah bertanya lagi. "Berbicara tentang model itu, apa yang terjadi padanya setelah kejadian itu."


"Tentu saja di singkirkan."


Asiah terdiam mendengar jawaban Ervin yang terdengar sepele. "Apa sangat mudah bagi kalian menghilangkan nyawa seseorang?."


"Bukan dibunuh, kami hanya melakukan beberapa rekayasa fakta untuk menyingkirkannya. ... Ayahku cukup hebat melakukan itu."


Asiah tersenyum. "Meski kamu terlihat dewasa nyatanya kamu masih merengek kepada Ayahmu rupanya."


"Aku tidak merengek... Dia yang membantuku suka rela dengan imbalan yang dia inginkan sebagai gantinya."


"Apa itu?."


Ervin melihat Asiah cukup lama.


"Apa?."


"Tidak ada." Ervin mengangkat Asiah lalu mendudukkannya di sebelah kursinya, memasang sabuk pengaman lalu keluar dari pintu kanan menuju kemudi.


"Aku akan mengantarmu pulang."


"Lalu kemana kamu akan pergi?."


"Kembali ke hotel tempat kamu menginap."


"Kalian menginap di hotel?."


"Tentu... Ayahku mengatakan kalau Roberto Rosen adalah pria yang mengerikan saat marah jadi kami tidak punya waktu untuk membeli menssion disini takutnya tempat itu nantinya di bakar dan akan terbuang sia-sia."


"Ayahku tidak sejahat itu."


"Hanya pada mereka yang di akuinya... Bagi orang seperti kami tentu saja tidak terutama diriku." Ervin menyeringai saat memundurkan mobilnya perlahan keluar dari lahan parkiran.


"Aku tidak tahu akan segila apa dia saat mengetahui aku telah melamar putrinya dan bahkan...." Ervin melihat wajah Asiah. "Diterima langsung tanpa penolakan."


"Dasar orang gila."


.........Tamatnya Boong.........


......Wkwkwkw... (β Β β κˆβ α΄—β κˆβ )......

__ADS_1


__ADS_2