
"...."
Ervin mengalihkan pandangannya dari wajah Asiah dan melihat perut Asiah yang besar. Julius bilang dia sakit karena ini, .... Haruskah aku menyingkirkan mereka?. Ervin melihat tajam ke arah perut Asiah tatapannya menjadi dingin dan penuh hasrat membunuh.
"Uugh-!." Merasa tidak nyaman Asiah menggeliat lagi kemudian dia menutupi perutnya dengan selimut yang dia tarik seolah-olah dia menyadari apa yang dipikirkan olah Ervin. Mungkin itu adalah nalurinya untuk melindungi bayi dalam kandungannya.
"...."
"Ugh... Bajingan gila itu-!!!"
Asiah bergumam dalam tidurnya.
"...."
Ervin yang mendengar gumaman Asiah tersenyum kecil. "Lucu rasanya mendengar umpatan kasar dari mulut kecil itu," Ervin membelai wajah Asiah sekali lagi namun tangannya berhenti membelai ketika sebuah pesan terdengar dari ponselnya.
"...."
[Ayah.
Ervin kau tidak lupa dengan hari inikan? Pulang kerumah sekarang juga. Sepertinya kau lupa jadi ku ingatkan lagi. 'Hari ini adalah Hari Ulang Tahun Ibumu. ' jika kau tidak datang lagi hari ini maka aku akan memyeretmu hari ini juga. ]
"Tsk. Pria tua yang menjengkelkan."
Ervin memasukan ponselnya kedalam kantung celana, dia berbalik kearah Julius yang juga berdiri. "Hei kau." Ervin memanggil Julius. "Iya Tuan Muda?."
"Jangan tinggalkan tempat ini sampai dia bangun, pantau terus dia dan beritahu aku perkembangannya setelah dia terbangun."
Tubuh Julius gemetar dan mulutnya keluh untuk berbicara tetapi masih berusaha untuk tetap berbicara. "Tapi Tuan Muda!, Tuan Besar meminta saya untuk datang ke acara ulang tahun Nyonya hari ini."
"Apa aku terlihat perduli?. Kau mati jika melangkahkan kakimu keluar dari kamar ini."
Dengan santainya Ervin berjalan keluar dari kamar meninggalkan Julius yang tidak bergerak. Sebelum Ervin keluar dan mengatakan sesuatu lagi. "Ah, aku harap kau tidak memuntahkan omong kosong pada ayahku tentang 'Ini' nantinya dan juga, .... Tutup mulut Dokter dan Perawat yang melihat kekacawan yang aku buat hari ini, kau mengerti?."
"...." Julius menutup matanya dan menunduk pada Ervin. "Baik Tuan Muda, saya akan lakukan seperti yang anda perintahkan." Julius mengakat kepanya lagi ketika dia memastikan Ervin telah pergi dari kamar.
"Hahhh... Iblis yang satu itu sangat sulit di tangani." Julius mengusap wajahnya yang berkeringat. "Kau benar, dia bajingan gila."
"Tsk tsk tsk. Kenapa Tuhan menciptakan pisikopat dengan wajah tampan seperti—" Julius berhenti berbicara dan segera membalik tubuhnya. Dia melihat Asiah yang sudah duduk di ranjang pasien. "ANDA SUDAH BANGUN!!!" Julius bergegas merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel namun Asiah menghentikan Julius.
"Jangan hubungi dia."
"Permisi?."
__ADS_1
"Kamu akan menghubungi pisikopat itukan? Tolong jangan hubungi dia, aku tidak nyaman saat berada di sekitarnya."
"...."
Julius melihat wajah khawatir Asiah dan tiba-tiba wajah wanita yang dulu dia lihat tumpang tindi dengan raut wajahnya. "Huhh.... Apakah ini adalah karma karena melayani keluarga Alvaro?." Julius tidak jadi menghubungi Ervin dan berjalan menuju Asiah dia melihat Asiah dari atas sampai bawah lalu memeriksa kondisi Asiah.
"Dia akan marah kalau tahu akan hal ini."
"Kalau begitu jangan memberitahunya."
"Kapan anda bangun?."
"Tepat setelah dia pergi."
"Apa anda tidak takut pada pria itu?."
"Tidak."
"Kenapa?."
"Karena aku akan segera menjadi ibu... Aku bisa melawan rasa takutku jika itu untuk melindungi bayi-bayiku," tatapan Asiah penuh dengan tekat. Lagi pula ini bukan pertama kalinya aku terlibat dengan pria sakit jiwa seprrti itu.
"Anda— apakah bayi itu milik Tuan Muda?."
"...."
"Aku akan menganggap diammu sebagai tanda kebenaran. Lalu, apakah Tuan Muda tahu akan hal ini?."
"Tidak."
"Cepat atau lambat dia akan mengetahuinya."
"Dia tidak akan pernah tahu."
"Mau sampai kapan anda akan menyembunyikannya? Apakah anda tahu sedang berurusan dengan siapa?.
"Saya akan memberitahu anda. Setahun yang lalu saya telah membunuh seorang wanita yang telah mengandung darah daging iblis itu.
"Dia bahkan tega membakar mayat mereka dan bersenang-senang dengan wanita lain setelahnya." Julius duduk sambil menceritakan pengalamannya pada Asiah, dia tidak tahu mengapa dirinya menceritakan semuanya pada Asiah, jari-jarinya gemetar dan air matanya hampir keluar.
"Aku mengerti."
"Apa?."
__ADS_1
"Kamu telah berusaha keras."
"Hah???."
"Aku bisa melihat matamu bergetar karena ketakutan, tapi aku tidak seperti wanita yang dia bunuh itu."
"Maksudmu?."
"Seperti yang kamu katakan, wanita yang dia bunuh adalah wanita yang memeras bajingan itu dengan mengunakan bayi yang dia kandung, siapa coba yang tidak kesal mendapat berita yang tidak dia sukai.
"Tapi aku berbeda. Aku tidak menginginkan apapun dari Tuan Mudamu. Sejak awal yang kuinginkan hanyalah bayi saja, aku memilih banyak pria dan baji— maksudku Tuan Mudamu yang duluan menghampiriku."
"Dia melakukannya?."
"Yah, dia yang menarik dan menciumku secara paksa duluan. Sejak awal aku sudah tidak tertarik dengan aura Tuan Mudamu karena dia mengingatkanku pada 'Seseorang' yang sangat aku benci.
"Mereka terlihat sangat mirip namun berbeda dari beberapa sisi." Asiah menyentuh dagunya. "APA? ADA YANG SEJENIS DENGAN TUAN MUDA?!," Julius mendekatkan kursinya ke ranjang dan mendengarkan dengan penuh minat cerita Asiah selema beberapa menit sampai Asiah selesai bercerita.
"Gila! Sekarang aku mengerti kenapa kamu sangat nekat untuk bercinta dengan Tuan Muda."
"Begitulah, dan aku memantapkan tekatku saat temanku mengatakan kalau Tuan Muda Ervinmu itu tidak perduli dengan siapapun yang dia tiduri.
"Asalkan aku tidak melakukan yang aneh-aneh seperti muncul dan melakukan pemerasan, temanku mengatakan kalau aku akan baik-baik saja."
"Kalau itu aku tidak tahu karena yang aku tahu selama ini mereka yang datang pada Tuan Muda biasanya akan menuntut sesuatu pada akhirnya." Julius juga menyentuh dagunya.
Pada akhirnya Asiah dan Julius berbicara seperti teman dekat saat mejelek-jelekan Ervin dari belakang. Mereka melakukan persetujuan di berbagai sisi mengenai kepribadian dan tindakan yang di lakukan Ervin selama ini, melupakan bahwa mereka baru bertemu hanya dalam beberapa menit.
"Maaf kalau aku bertanya seperti ini, tapi... Apakah Tuan Mudamu memiliki—" Asiah mengunakan bahasa isyarat untuk menyampaikan maksudnya pada Julius.
"Tidak. Tuan Muda tidak memiliki itu, dia memang sudah brutal sejak awal karena Tuan Besar dan Nyonya terlalu memanjakannya dengan menutupi semua kejahatan yang dia lakukan," kata Julius.
"Jadi lingkunganlah yang membuatnya seperti itu," Asiah menganggukkan kepalanya.
"Yah, terkadang terlalu memanjakan anakmu akan memberi dampak negatif pada pergaulan dan tubuh kembangnya.
"Bahkan di usianya yang sangat muda, dia telah membunuh guru yang menasehatinya."
"Benar-benar bajingan yang sudah tidak tertolong lagi, biasanya tipe seperti itu akan marah jika dinasehati."
Asiah dan Ervin mengangguk setuju dengan apa yang mereka bicarakan. "Lalu, apa yang akan kau lakukan jika Tuan Muda mengetahui bahwa itu adalah bayinya?.
"Aku bertanya seperti ini bukan tampa sebab! Kamu terlihat seperti orang yang begitu penting bagi Tuan Muda setelah mendengar bagaimana dia berlarian panik karena tidak menemukanmu di manapun."
__ADS_1
"Hem? Dia melakukan itu?."
"Kamu tidak tahu?, Perawat dan Dokter membicarakan itu sepanjang hari. Itulah sebabnya Baji— Maksudku Tuan Muda memaksaku untuk menutup mulut orang-orang yang melihatnya tadi pagi."