
"Asiah kamu...." Tera ingin menangkap Asiah namun Ema menghalangi.
"Apa kamu baik-baik saja? Kamu bilang pinganggmu terasa sakit sekali?!!."
"Aku tidak apa-apa Ma, sakitnya sudah hilang."
"Tidak apa bagaimana? Keringatmu sudah seperti batu." Ema mengerutu sambil menghapus keringat dari dahi putrinya. "Mama sudah bilang kalau mau kemana-mana bilang dulu."
"Mama terlalu sibuk dengan teman mama makanya aku tidak mau ganggu."
"Haiss... Biar bagaimanapun kamu akan tetap jadi prioritas utama Mama, jangan sungkan untuk meminta tolong! Dasar anak ini ...." Ema dan Asiah berjalan pelan keluar dari kamar mandi, meninggalkan dia orang wanita yang diam membisu.
Di Hall Pesta.
"Sayang dari mana saja?," Roberto bertanya dengan wajah cemas.
"Nahh... Putrimu baru saja dari toilet."
"Ada apa sayang?." Roberto memperhatikan wajah Asiah yang berkeringat lalu menyekanya pelan. "Apa kamu lelah? Perlukan kita pulang sekarang?."
"Tidak perlu... Sudah lama aku tidak kepesta jadi aku masih mau disini sebentar."
"Ya sudah tapi kalau sudah tidak tahan langsung bilang." Roberto yang cemas mengenggam tangan putrinya lalu mengajaknya duduk di sebelahnya. "Ema kamu pergilah menyapa kerabat lainnya aku akan disini bersama Asiah sebentar."
"Oke, jaga Asiah sayang."
"Iya." Ema mengangguk lalu pergi meninggalkan keduanya.
Roberto bertanya. "Apa kamu memang baik-baik saja?."
"Aku baik-baik saja btw ayah aku mendengar sesuatu yang menarik di toilet tadi."
"Benarkah?." Roberto memetik buah anggur lalu memasukan kedalam mulut Asiah. "Itu-."
"KYAAAA! Bungaya jatuh keluar!!!."
"Yahh...."
"AHahaha... Nampaknya ini bukan hari keberuntungan kalian." Wanita-wanita muda di Hall menjerit karena mereka tidak mendapat bunga yang di leparkan oleh pengantin.
"Nampaknya tidak akan ada yang menikah lagi dengan keluarga Rosen tahun ini." Ema datang membawa stik yang merupakan hidangan paling mencolok di acara ini.
"Memangnya kenapa?," Asiah bertanya.
"Bunganya terlempar ke luar, sepertinya Laura Rosen memiliki tenaga yang terlalu kuat."
"Ahaha... Kalau begitu memang bukan nasib wanita yang berkumpul." Asiah kembali memakan buah anggur yang di berikan Ayahnya.
__ADS_1
"Ngomong-ngoming apa yang akan kamu katakan tadi nak."
"Itu-."
"Roberto Rosen! Kemarilah ada sesuatu yang ingin kutujukan padamu." Seorang teman lama yang belum pernah bertemu lagi dengan Roberto setelah menikah tiba-tiba muncul. "Bajingan Gila!." Roberto terlihat senang saat melihat wajah teman lamanya.
"Sayang aku pergi kesana sebentar!."
"Baiklah." Ema menganggukan kepalanya lalu bergantian menjaga Asiah. "Apa kamu lapar?." Stok daging yang di potong kecil masuk kedalam mulut Asiah.
"Eem... Rasanya enak."
"Tidak seenak masakan Ayahmukan?. " Ema tertawa pelan lalu menyuapi putrinya sekali lagi.
"Ema." Datang lagi wanita yang tampak seumuran dengan ibunya Asiah.
"Dabin!." Ema meletakan piring lalu berdiri menatap wanita didepannya.
"Ya ampun... Sudah lama sekali!!!." Ema memeluk wanita itu.
"Yah... Sudah lama sekali ... Apa dia putrimu?."
"Benar! Asiah perkenalkan ini teman sekolah Mama di Jerman dulu, namanya Dabin."
Asiah menundukan kepalanya sopan dan membalas sapaan. "Halo... Saya Asiah Rosen salam kenal bibi Dabin."
Senyuman di wajah Asiah seketika pudar. "Aku tidak-."
"Ah Ya ampun Dabin... Kita sudah lama tidak bertemu jadi mari kita berbicara disana." Setelah melihat wajah tidak nyaman Asiah, Ema langsung membawa temannya menjauh dari Asiah.
"...."
Berdiri.
Asiah berdiri dari bangkunya dan berjalan meninggalkan kerumunan yang mulai menatapnya. Rasa tidak nyaman ini. Sejak membuat keputusan 9 bulan yang lalu Asiah telah menebak pandangan orang-orang akan terlihat seperti itu padanya tapi tetap saja Asiah masih belum terbiasa dan merasa kesal setiap kali orang-orang bertanya prihal pertanyaan yang sama.
Jika itu anak-anak aku masih maklum namun... Karena sudah dewasa rasanya jadi menjengkelkan. Asiah keluar dari ruangan, duduk di bangku balkon berpemandangan pohon musim gurgur sambil menyentuh daun orange yang jatuh disebalahnya.
Mengelus.
Dia mengelus perutnya lembut, merasakan hangat dan pergerakan bayi dalam rahimnya yang sebentar lagi akan bertemu dengannya. Semuanya berjalan damai sampai Tera dan temannya datang menghampiri Asiah.
"Asiah Rosen mari kita berbicara sebentar." Sambil melihat keadaan sekeliling Tera berbicara pelan. "Apa kamu mendengar apa yang kami katakan di toilet tadi?!."
"... Aku dengar."
"H-hei.... Kami hanya bercanda tahu! Tolong jangan salah sangka yah!."
__ADS_1
Asiah melirik Tera lalu menjawab. "Aku tidak perduli, setiap orang punya masalahnya masing-masing."
"Hei... Jangan begitu, kamu hanya bercanda tadi!." Tera melihat kearah temannya yang mengangguk cepat.
"Kami takut kau mengatakan sesuatu yang tidak pantas pada Laura jadi aku kemari hanya untuk memeperje-."
"Kupikir kamu salah sangka Tera Rosen.... Kita tidak sedekat itu untuk membut aku membeberkan kisah cintamu yang bertepuk sebelah tangan dengan suami orang."
"DIA BUKAN SUAMI ORANG-!." Tera langsung menutup mulutnya dan menunduk ketika ada yang melirik kearah mereka. "Tera...." Teman yang dibawanya mulai risih.
"Sejak awal dia miliku dan akan tetap seperti itu selamanya."
Mendengar kata miliku Asiah tersenyum kesan familiar dari seseorang yang dulu terobsesi mengatakan hal itu membuat Asiah berkesan seperti mengejek Tera yang marah. "Apa yang lucu?."
"Tidak ada, aku hanya ingat seseorang." Asiah menganggukan kepalanya.
Ditempat lain.
"AHAHAHA.... Jadi begitu, putramu telah menjadi atlet yang berbakat sejak muda." Roberto Rosen saat ini sedang berkumpul bersama teman-temannya di depan bar kecil yang disediakan oleh penyelenggara.
Segelas anggur merah mahal mulai dituangkan kecangkir teman-temanya sambil bercanda tawa.
"Ngomong-ngomong Roberto... Putrimu masih secantik dulu, dia tidak berubah bahkan setelah hamil besar!." Teman Roberto yang memiliki jangut merah panjang menunjuk kearah tiga orang di depan balkon.
"Hehehe.... Putriku memang yang paling cantik turunanku."
"Kupikir dia meniru wajah Asia Ibunya."
"Hempp... Dimana-mana orang selalu bilang dia mirip aku."
"HAHAHAHA." Mereka kembali tertawa sambil meminum anggur dan Bir. "Ngomong-ngomong Robert, siapa Ayah dari anakmu?."
"Tidak ada." Roberto langsung menjawab.
"Wtf- mana mungkin tidak ada, aku tahu banyak anak gadis sekarang yang hamil tanpa harus menikah tapi tetap saja kamu pasti tahu siapa Ayah dari anak yang dia kan-."
"Tidak ada."
"Tapikan-."
"Tidak ada."
"Hah???."
"Benar-benar tidak ada!."
"Kalau begitu bagaiman menikahkan Putrimu dengan Putraku?." Sahabat lama Roberto menyela yang lain dan berjalan mendekat. "Kalau tidak salah anak laki-lakiku masih saja bertanya sampai sekarang perihal Asiah, bagaimana kalau kita menikahkan mereka Roberto."
__ADS_1
Tatapan mata Roberto menjadi dingin. "Memangnya putramu sudah menjadi apa sekarang?." Kalimat tajamnya telah mengisyaratkan supaya temanya tidak melanjutkan lebih jauh.