Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 85.


__ADS_3

Menangkap.


"HAHH!!!"


"Tsk... Tsk... Seharusnya anda memperhatikan jalan lebih teliti."


"Siapa!!!." Tera ternganga melihat pria berkacamata hitam tiba-tiba saja muncul di pintu balkon menagkap tubuh Asiah yang hampir saja jatuh kedepan.


Diam.


"...."


DEGDEGDEG....


Asiah tidak bisa merespon apapun, pikiranya kelabu saat merasakan dorongan dipunggungnya. Keringat dingin mulai berjatuhan dari kening dan leher, dia menyentuh perutnya yang di lingkari tangan kekar seseorang yang menahannya supaya tidak terjatuh.


Merinding.


Ya Tuhan.... Air matanya menetes. Jika tidak ada orang ini maka bayiku akan dalam bahaya.


"TERAAA!!!." Samar-samar Asiah mendengar suara jeritan dari depannya, itu adalah suara Laura yang terdengar marah.


"DASAR WANITA JAHAT!."


Plak.


Laura menampar pipi Tera. "APA KAU INGIN ASIAH KEGUGURAN!!!." Rambutnya di tarik kuat hingga Tera menjerit.


"KYAAA-! HENTIKAN LAURAAA."


"Ada apa disana?."


Orang-orang mulai mengalihkan perhatiannya kearah balkon.


"Sayangku Laura apa yang kamu lakukan," pengantin pria datang tergesa-gesa untuk memisahkan istrinya yang mengamuk.


".... T-terima kasih." Asiah melepaskan tanganya dari tangan orang yang menolongnya sambil gemetaran.


"Ini." Pria itu 5idak menjawab perkataan Asiah tapi malah memberikan bunga pengantin yang Asiah kenal lalu pergi menjauh, sekilas Asiah dapat melihat wajah di balik kacamata itu yang tersenyum hangat. Dia!!!.


"Apa dia orang gila?," Kata Asiah keheranan sambil melihat bunga mawar Ungu yang ditata indah, pria random yang muncul seperti pahlawan kesiangan dan pergi begitu saja setelah mendapat perhatian.


"Tung-."


"AAAAARG- TOLONG LEPASKAN AKU...." Suara yang sempat dia lupakan terdengar keras, pendengarannya kembali seperti semula. Asiah berbalik dan melihat kehebohan yang terjadi di belakang punggungnya.


"J-LANG INI MENCOBA MEMBUNUH ASIAH...." Tarikan tangan Laura semakin kuat, dia ingin mencabut rambut sepupunya yang telah lancang menodrong Asiah dari belakang.

__ADS_1


"Sayang tolong lepaskan tanganmu Laura! Itu sepupumu jadi!-."


"PAMAN ROBERT!!!." Laura berteriak sangat keras. "PAMANN...!!!"


"Ada Apa Ini!." Ayah dan Ibu Laura datang bersamaan dengan Roberto dan teman-temannya. "Ada Apa Ini?!."


Roberto berjalan cepat kearah Asiah lalu menyentuh tangan Asiah dan melihat wajahnya, Roberto mengutamakan Asiah terlebih dahulu dari pada menangapi jeritan Laura. "Kenapa?." Dia memeriksa wajah putrinya duluan lalu melihat Laura yang telah dipisahkan dari Tera.


"LAURA ROSEN!." Sosok pria yang mirip Roberto muncul bersama anteknya di belakang. "Apa Kau Sudah Gila!, Kenapa Kau Melukai Putriku!." Ayah kandung Tera terlihat marah, dia menyentuh wajah putrinya yang berlinang air mata dan pipinya memerah.


"KALIAN AKAN MENERIMA KONSEKUENSI DARI PERBUATAN PUTRI-."


Laura langsung menyela. "Paman Robert! Aku Melihat Tera Mendorong Asiah Dari Belakang!." Laura melepas tangan orang lain yang memegangnya lalu berbicara lantang.


"Dia Mendorong Asiah paman! Aku Melihatnya Sendiri!."


"...."


"Apa! Aku tidak percaya, kenapa putriku mau mendorong saudarinya sendiri-."


"Asiah apa benar itu?." Roberto melihat Asiah dan seketika semuanya hening. 


Mengangguk. Seketika mata Asiah berlinang air mata. "Ahh...." Roberto mengangkat kepalanya keatas. "Tidak perlu bicara lagi, aku akan menemukannya sendiri."


Asiah melihat Ayahnya memanggil petugas keamanan kemudian setelah itu sesuatu menarik perhatiannya. Di belakang salah satu teman Ayahnya pria berjanggut sosok tak asing terlihat sambil mengedipkan sebelah matanya.


Bukankah itu Ayahnya Ervin?. Asiah mengedipkan matanya beberapa kali lalu melihat lagi kearah yang sama tapi sosok itu sudah menghilang.


Saudara laki-laki yang lebih muda dua tahun dari Roberto mengutarakan kekesalanya. "Saudara, apa kau percaya ucapan anak it-."


"Kita lihat saja." Roberto melepaskan kacamatanya, Melonggarkan dasinya dana menatap Tera dengan tatapan kejam seakan-akan Roberto akan membelah tubuhnya kecil-kecil.


"Roberto ini-."


"Apa petugas keamanan sudah selesai? , aku ingin segera melihat rekaman Cctv."


Saat mendengar kata cctv Tera panggung memucat. "A-Ayah...."


"Tenanglah, tidak ada yang perlu kamu takutkan, jika kamu terbukti tidak bersalah maka Laura akan menerima akibatnya." Dia melihat pengantin wanita itu seperti akan menerkamnya.


"Robert, jika semuanya tidak seperti yang dikatakan anak itu maka kamu sebaiknya kamu tidak perlu ikut campur dengan apa yang akan terja-."


"Tutup mulutmu," Roberto menarik kerah baju adik laki-lakinya. "Aku percaya pada ucapan Laura lebih dari ucapanmu, jika apa yang dikatakan Laura benar maka aku akan melenyapkan mu dan seluruh organisasimu dan juga putrimu itu."


"Ppffft-." Teman di belakang Roberto tertawa pelan saat melihat mantan pemimpin mereka mengancam lagi.


"Well... Kuharap dia benar."

__ADS_1


"Aku juga, sudah lama aku tidak melihat darah."


Tak lama setelah itu petugas Cctv datang. Membawa hasil rekaman, petugas terlihat takut saat jari-jarunya menekan pemutar video.


Rekaman dimulai dari saat acara dimulai, letak Cctv yang menangkap seluruh sudut ruangan terlihat jerni sehingga wajah siapapun mudah dikenal disana.


"A-Ayah." Tera mulai takut, dia menggenggam tangan Ayanya yang juga berkeringat.


"Ini rekamanya."


File rekaman di area balkon mulai berputar, di menit ke 22 terlihat Asiah yang datang sendirian dan duduk di kursi dengan damai, lalu menit ke 25 Tera dan temannya datang.


"Apa perlu saya putar audionya Tuan?." Tanya petugas keamanan.


"Lakukan."


"Baik."


Audio di pasang, kini semua orang bisa mendengar suara Tera yang berteriak mengancam Asiah yang duduk tenang dan santai membalas semua perkataanya sampai satu kalimat membut Laura tercengang.


[ "Fakta bahwa kamu menyukai suami Laura dan berusaha untuk memisahkan mereka Dimasadepan." ]


[ "Diam!!!." ]


"A-Apa???." Laura hampir pingsan saat mendengar itu. "Tera kamu-." James melihat Tera dengan pandangan jijik.


"Semuanya diam." Salah satu teman Roberto menenangkan kerumunan untuk melanjutkan video.


Menit berikutnya mereka selesai bertengkar dan akan segera berpisah, Asiah yang berjalan lambat tiba-tiba didorong dari belakang.


"YA AMPUN!!!." Semua orang terkejut.


"****** INI..!!!" Ema yang sedari tadi menahan emosinya tidak tahan lagi dan menyerang Tera. "KAU INGIN MEMBUNUH PUTRI DAN CUCUKU!!!."


"Ema Tahan!."


"EMA! Hentikan!.


"Aku Tidak Bisa Berhenti, Aku Kuhancurkan Pembunuh Itu!!!." Ema yang result emosi tidak perduli dengan keadaan disekitarnya lagi. Ibu mana yang tahan melihat seseorang yang masih memiliki ikatan darah dengan putrinya mencoba menyakiti putri dan calon cucunya yang akan segera lahir.


"ROBERTO!, Jika ini tidak diselesaikan secara hukum ... AKU AKAN MEMANGGIL KELUARGAKU UNTUK MENGURUSNYA SENDIRI!."


"Ma! Hentikan, aku baik-baik saja tidak baik jika di lihat orang!." Asiah berusaha untuk menenangkan ibunya yang lepas kendali.


"LEPASKAN ASIAH!." Asiah juga tak luput dari amarah Ema. "KAMU HAMPIR CELAKA DAN INGIN MEMBELANYA?!."


"Bukan begitu, kita selesaikan ini nanti saja." Asiah mulai berbisik ditelinga ibunya sepelan mungkin. "Jika Dia mati sekarang maka keluarga kita akan jadi tersangka utama karena dia artis besar, paman pasti tidak melewatkan kesempatan itu untuk menghina Ayah."

__ADS_1


Mendengar kalimat putrinya amarah Ema sedikit meredah. Memang benar kata Asiah, bajingan itu pasti akan mengunakan cara yang tersisa untuk membalas saat Kemi menghabisinya tapi itu bukan masalah kami jika Ayah yang ikut campur.


Ema menyeka keringat dari putrinya dan memeriksa dari wajah hingga kaki. "Sayang kamu tidak perlu khawatir akan hal itu, kakekmu di jepang akan mengurusnya untuk kita." katanya Ibunya tegas.


__ADS_2