Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 99.


__ADS_3

***


"Siapa yang melakukan ini padamu Robert." Dikamar sebelah Ema bertanya dengan nada kejam terhadap suaminya.


"Kayu dan batu."


"Apa kau pikir aku akan percaya begitu saja."


"Memang benar."


"...."


"Hahh... Anak itu-" sejenak Roberto ragu untuk berbicara saat melihat Asiah di sebelah istrinya juga ikut mendengarkan. "Anak itu? Siapa?."


"Bocah yang berhubungan dengan Asiah."


"Maksudmu Alvaro itu?."


"Benar."


"Ayah coba ceritakan semuanya." Asiah bertanya serius.


"Tidak, ini permasalahan antara pria, wanita tidak perlu ikut campur-."


"Ini akan jadi masalahku jika dia berusaha melukai keluarga kita." Ema mulai tersulut emosinya.


"Tidak ini masalah kami Ema." Roberto menyentuh tangan istrinya dan berkata bahwa dia tidak apa-apa dan melarangnya untuk ikut campur dalam masalah antar pria.


"Aku tidak terima... Awalnya semuanya baik sampai mereka datang dan sekarang kamu terluka aku tidak bisa tinggal diam lagi."


"Ma-."


"Asiah diamlah... Aku akan tangani ini." Ema berdiri dari bangkunya lalu berjalan keluar. "Ma-." Disaat Asiah akan menghentikan ibunya Roberto menarik tangannya dari belakang.


"Biarkan saja ibumu melakukan apapun yang dia suka."


"Tapi Ayah!."


Mengeleng.


"Jika kamu ingin ini segera berakhir maka duduk dan lihat saja seperti biasa."


Melihat itu Asiah menundukan kepalanya. "Ini semua salahku." Asiah menyalahkan dirinya atas segala sesuatu yang terjadi pada keluarganya. "Seandainya saja aku tidak egois dan menuruti perkataan Mama waktu itu maka semua masalah ini tidak akan menimpa keluarga kita."


"Husss... Itu perkataan sial Asiah." Roberto menyentuh wajah putrinya lembut, menghapus air mata yang belum jatuh dikelopak mata perlahan.


"Jika saat itu kamu memilih untuk menuruti perkataan Mamamu maka Ayah yakin kalau kamu tidak akan pernah bahagia."


"Tapi-."


"Jangan menyalahkan dirimu, apa yang terjadi sekarang memang sudah terjadi dan tidak ada yang terluka parah kali ini " Roberto tersenyum lembut untuk menghilangkan rasa bersalah pada putrinya.


"Tidak perlu terlalu memikirkannya tidak baik untuk bayimu nanti."

__ADS_1


Asiah menganggukan kepalanya pelan lalu menghapus air matanya.


Ditempat lain.


Ema berdiri didepan pintu yang dijaga oleh 8 BodyGuard berseragam lengkap.


"Aku ingin berbicara dengan pemilik kamar ini bisa sampaikan pesanku, sampaikan kalau istri Roberto Rosen datang untuk berbicara."


Penjaga yang diajak Ema berbicara melirik satu sama lain dan salah satunya masuk kedalam untuk menyampaikan pesan. Tak berapa lama kemudian seseorang keluar dari kamar itu adalah Jefry.


"... Apa ada yang perlu anda sampaikan kepadaku?," Tanya Jefry.


"Bukan anda tapi anak laki-laki anda."


Jefry memperhatikan bahwa tidak ada ekspresi ramah di wajah Ema saat ini sehingga dia langsung mengerti dan masuk kedalam untukĀ  memanggil istri dan putrinya keluar.


Didepan pintu Ema melihat Janed tersenyum sekilas saat keluar dari kamar lalu berlalu menuju ruang tunggu bersama istri dan suaminya.


"Anda bisa masuk sekarang," kata salah satu bodyguard.


Ema masuk kedalam dan melihat kondisi Ervin saat ini, dia melihat Ervin yang duduk ditempat tidur dengan keadaan terluka, luka yang lebih berat dari luka suaminya.


Ema langsung berntanya. "Apa kau dan suamiku berkelahi?."


"Tidak Nyonya."


"Tidak perlu sopan denganku."


"Aku minta maaf memotongmu tapi... Kupikir aku sudah tidak bisa menahannya lagi."


"...."


Ervin diam untuk mendengarkan suara Ema.


"Tolong jauhi keluargaku, tidak ada hal baik yang akan datang pada kedua keluarga ini jika terus bersama." Perkataan serius yang keluar dari mulut Ema membuat Ervin membelalakkan matanya.


"Tapi saya telah menang."


"Itu antara kamu dan suamiku, aku tidak tahu taruhan apa itu tapi yang pasti Tolong!." Ema menautkan kedua tangannya, kemudian melihat Ervin diatas ranjang dan menunduk untuk meminta maaf.


"Tidak Nyonya!." Ervin terkejut melihat tindakan Ema yang tak terduga.


"Aku-" Ema menarik nafasnya. "Aku selaku ibu Asiah Rosen minta maaf atas perbuatan putriku terhadapmu, menipu dan memanfaatkanmu supaya dia tidak menikah." Ema mengatakan itu sambil membungkuk di depan Ervin. "Putriku terpaksa melakukan itu untuk menghindari paksaan menikah dariku makanya dia...." Ema menutup matanya. "Makanya dia sampai melakukan hal rendah seperti itu padamu oleh sebab itu aku akan menggantikannya untuk meminta maaf dan akan menganti rugi atas segalanya."


Setelah mengatakan itu Ema mengangkat kepalanya keatas untuk melihat Ervin. "Tolong tinggalkan putriku dan mulai hidupmu ditempat yang lebih baik Ervin Kyros Alvaro."


Ervin memalingkan wajahnya kearah lain dengan rasa kesal dan kecewa yang dia tahan. Kupikir dia datang untuk memakiku atau berusaha untuk melukaiku seperti Roberto tapi....


Ervin mulai berbicara tapi tidak melihat lawan bicaranya. "Aku minta maaf, aku tidak bisa melakukan apa yang anda katakan."


"Kenapa!!!." Ema melangkah satu langkah untuk meminta penjelasan. "Mau dilihat dari manapun kamu yang dirugikan disini...! Putriku memanfaatkanmu, merebut kebebasanmu, suamiku bahkan ingin membunuhmu, tubuhmu terluka setiap kali berada disekitar kami! Apa yang membuatmu tidak bisa???." Wajah Ema dipenuhi tanda tanya.


Ervin membuka bibirnya untuk berbicara tapi tidak jadi lalu tersenyum sayu.

__ADS_1


"Hah ...." Ema menyeka dahinya lalu pergi meninggalkan ruangan.


Crak...


Ketika pintu dibuka penjaga di luar melihat Ema lalu memberi jalan.


"...."


Sejenak Ema melihat kamar Ervin dan kamar suaminya yang bersebelahan lalu pergi kearah taman rumah sakit untuk menenangkan dirinya.


Didalam kamar 0446.


"...."


Ervin menatap kosong kearah nakas yang tidak terpakai di ujung dan menghela nafas berat.


Clak.


Pintu dibuka pelan lalu melihat siapa yang masuk.


"Ibu masuk."


Janed datang sambil membawa keranjang buah yang dia beli beberapa waktu lalu. "Bagaimana percakapan kalian."


"Tidak berjalan baik."


"Apa yang dikatakannya."


"Dia bilang untuk menjauh dari putrinya, ...." Ervin menunjukan wajah kesal, dan sedih. "Kenapa... Kenapa harus sekarang ketika aku sudah bekerja sangat keras."


Janed menyentuh pipi putranya lalu berkata. "Tidak ada hal mudah didunia ini apa lagi jika itu menyangkut perasaan."


"Ibu."


"Yah."


Dihadapan Ema Ervin mulai berbicara seperti anak kecil. "Ibunya Asiah mengatakan padaku untuk menjauh dari putrinya karena tidak mau aku terluka lebih banyak, dia juga bilang berada didekat keluarganya hanya akan membuat hidupku sulit."


Janed diam tapuli tangannya turun kebahu dan memijat disana pelan.


"Ibu."


Untuk pertama kalinya Janed melihat wajah memelas di wajah putranya. Ervin mengambil tangan ibunya lalu memandang matanya. "Tolong bujuk ibunya Asiah untuk tidak menjauhkan ku dari putrinya." Saat mengatakan itu suara Ervin bergetar.


"Aku benar-benar menyukai Asiah dan tidak bisa hidup tanpanya lagi." Wajah Ervin mulai memerah seolah dia akan segera menangis seperti anak kecil.


"...."


"Kumohon... Katakan padanya untuk mempertimbangkanku lagi!" Ervin menarik telapak tangan ibunya dan menciumnya.


"Aku akan benar-benar berubah sumpah!." Dimata Janed saat ini Ervin yang biasanya dewasa terlihat seperti anak-anak yang merengek kepada ibunya.


"Aku mumohon ibu bicaralah padanya... Aku tidak tahu apa yang wanita pikirkan karena tidak pernah sama sekali terpikirkan olehku akan menjadi seperti ini." Tanganya yang memegang tangan Janed bergetar.

__ADS_1


__ADS_2