
[ 'Rumah sakit Lionrea. Rumah sakit yang sangat terkenal karena banyaknya orang-orang elit yang pergi untuk menjalani pemeriksaan kesehatan disana. Mereka yang cukup beruntung akan mendapat perawatan terbaik dari dokter ternama kelas duni- ' ]
Tuk.
Asiah mematikan tv karena bosan dengan iklan di layar. "Rumah sakit ini narsis sekali." Asiah duduk di atas kasur dan sejak tadi terlihat sibuk dengan berbagai barang-barang hiburan yang di berikan Julius padanya, ada tv, android, buku, bahkan mainan anak-anak.
"Aaihhh... Di sini sangat membosankan...," gerutu Asiah. Tidak ada yang bisa di lihat disini, sangat membosankan.... Asiah sudah berbaring cukup lama di ranjang pasien yang cukup mewah setelah dia terbangun.
Ketika dia akan turun dari ranjangnya tiba-tiba Julius datang memberi perintah padanya supayah tidak bergerak dari ranjang. "Demi kenyamanan kita bersama, jangan keluar dari kamar dan turun dari tempat tidurmu sampai Tuan Muda kembali. Kalaupun ingin ke toilet setidaknya panggil perawat atau dokter dari tombol di sampingmu," kata Julius berulang-ulang.
"Aahh... Bo...sa....n."
"Tsk... Tsk... Tsk, Bagaimana bisa kau bosan padahal aku sudah memberikan semua barang-barang yang bisa menghiburmu."
Julius datang dari pintu membawa sebuah nampan putih yang cukup besar. "Ini aku bawakan makanan untukmu, aku sengaja memesannya dari luar jadi makan saja semuanya. Jangan khwatir aku belum meludahi atau mencicipinya." Julius meletakan nampan besar di atas meja makan kecil dan meletakkannya di depan Asiah.
"Padahal aku belum menuduhmu."
"Hump. Jadi kau berniat menuduhku rupanya, cepat habiskan. Setelah Tuan Muda kembali kamu akan segera melakukan pemeriksaan."
"...."
Asiah memandang Julius yang duduk di kursi tunggal di sebelah ranjangnya, mengambil buku di atas meja dan duduk dengan tenang sambil membaca. "Apa liat-liat?, Aku tidak akan meminta makananmu," kata Julius.
"Hahaha, kamu lucu sekali. Tadi siapa coba yang mengatakan kalau aku tidak bisa mengunakan tanganku untuk sementara."
"..., Lalu apa?, Kau mau menyuapimu?."
"Iya."
"..., Cik menyusahkan saja." Julius mengeritu namun tetap melakukan apa yang di katakan Asiah. Dia duduk di sebalah kasur Asiah dan mengambil sendok makan. Perlahan dia mengambil bubur dari mangkuk dan menyuapi Asiah perlahan. "Hahh... Apa kau juga melakukan ini dengan Iblis itu?."
"COOF!. UHUK-UHUK."
"Hei makanlah perlahan, kau bahkan tidak perlu mengunyah, bisa-bisanya kau tersedak." Julius menuangkan air dalam gelas dan memberikannya pada Asiah. Asiah ingin mengambil gelas namun tangannya di tepis oleh Julius. "Kau ini bodoh atau apa? Sudah dibilangi untuk tidak mengunakan tangan tapi masih sa-"
"Kalau begitu bagaimana aku akan minum?."
"Kaukan tinggal membuka mulutmu! Tidakkah kau melihat aku sudah menyodorkan gelas di depan mulutmu?."
"...."
"Haisss... Aku tidak tahu apa yang membuat Tuan Muda iblisku menyukai wanita sepertimu."
__ADS_1
"Hei jangan mengatakannya seperti itu, bagaimana kalau dia dengar nanti?."
"Nahh... Dia saat ini sedang berada di tempat lain jadi aku bisa melakukan apapun yang aku mau," kata Julius dengan bangga. "Kemana dia pergi?," Tanya Asiah.
"Tidak tahu, tapi sepertinya aku tahu dia kemana setelah mendengar ceritamu tadi.
"Bisa-bisanya kau berkelahi padahal sedang dalam kondisi mengandung. Apa kau mau bayimu dalam bahaya kalau wanita yang menganggumu itu memukul perutmu?, Sebenarnya kau ini wanita macam apasih?. Kaukan bisa bilang pada Tuan Muda kalau ada yang menganggumu."
"Nahh... Aku tidak mau berhutang lagi padanya."
"Berhutang?"
"Tidak lupakan saja."
"Dasar bodoh."
"..., Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan."
"...."
Julius menyendokkan suapan besar dan memberikannya pada Asiah. "Lupakan saja pemikiranmu barusan. Aku saja yang sudah sangat lama berada disisinya tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan." Julius menyuapkan bubur sekali lagi kemulut Asiah. Setelah selesai menyuapi Asiah makan Julius memotong buah dan memberikannya pada Asiah.
"Dokter Julius, apakah anda tidak punya pekerjaan setelah ini?."
"Huh??? Lancang sekali mulutmu mengatakan itu," kata Julius kesal. "Biarku berita-"
"Aku belum selesai berbicara."
"Iya aku tahu."
"Hahh... Dasar anak kecil."
"Sendirinya anak kecil."
"Apa?, Bilang apa barusan? Anak kecil? Hei! Aku ini lebih tua darimu j-lang kecil sialan."
"Iya-iya, kita hanya beda empat tahun saja."
"TETAP SAJA AKU LEBIH TUA DARIMU!."
...🌸🌸🌸...
Membuka Matam
__ADS_1
"HAHH...! HAHH... HAHH... DIMANA AKU? DIMANA AKU?!, SIAPA SAJA TOLONG AKU!."
"Dia terlalu berisik. Siram air untuk membuatnya diam," kata Ervin pada bawahanya.
Saat ini Ervin berada di sebuah dermaga pelabuhan pribadinya bersama bawahan yang sudah bekerja bersamanya selama 15 tahun.
Menyiram Air.
"KYAAAAA-"
"Ah... Dia sangat berisik."
"Perlukah saya membungkam mulutnya Bos?,"tanya seorang pria berbaju hitam dengan masker di wajahnya.
"Yah-yah. Lakukan sesukamu."
Bawahan Ervin menarik rambut wanita itu dan menamparnya berulang-ulang sambil berteriak supayah wanita itu berhenti berteriak. "Tutup mulutmu, Bos kami ingin berbicara sebentar." Pria itu menekan kepala wanita itu kebawah.
"Hikss... Kenapa kalian melakukan ini padaku, sniff... Hikss- apa- sniff... Apa salahku pada kalia-an hikss...," Kata Debora sambil menangis histeris.
"Puffft..., Apa kau berpura-pura tidak tahu?."
"Aku-Hikss... Sungguh tidak tahuu... Kamu melakukan hal keji seperti ini padaku padahal, ... Sniff- aku tidak melakukan apapun padamuu...."
"...."
Ah~ wanita ini benar-benar memuaskan. Sudah jam berapa ini? Apakah dia sudah dan tidur lagi? Apa pemeriksaannya berjalan dengan lancar?. Ervin melihat jam tangannya, sudah lebih dari 4 Jam dia berada di dermaga. Waktuku berlalu begitu saja. Ervin melihat perempuan di depannya dan semakin kesal.
"Hei, lepaskan dia."
"Baik bos."
Ervin melihat Debora yang masih meringis kesakitan. Bibirnya berdarah dan rambutnya sudah acak-acakan, tentu saja Ervin tidak memiliki simpat padanya sedikitpun. Dia malahan menarik rambut Debora dan membuat mata mereka saling bertemu. "Aku akan memberimu kesempatan untuk hidup, aku tidak akan membunuhmu asalkan kau melakukan apa yang aku inginkan.
"Aku melakukan ini bukan karena aku memiliki hati nurani jadi jangan berfikir yang aneh-aneh," kata Ervin sambil mengangukan kepalanya dengan bangga.
"Persyaratanku hanya ada dua.
Pertama. Setelah ini semua selesai, kamu harus melupakan kejadian ini seperti tidak pernah terjadi sebelumnya. Yah, terserahmu kalau mau lapor polisi atau siapapun yang pasti setelahnya kau tidak akan bernafas lagi untuk selamanya.
"Kedua. Tinggalkan negara ini dan jangan pernah kembali lagi, bahkan jika situasimu benar-benar mendesak, karena aku tidak akan perduli dengan situasimu itu.
"Hanya itu saja. Anggukan kepalamu kalau kau setuju."
__ADS_1
"Sniff...."
Debora menaggukan kepalanya secepat mungkin. Dia menyetujui persyaratan Ervin begitu saja. Untuk sekarang aku harus bertahan hidup. Semua ini terjadi karena Asiah, lihat saja aku tidak akan pernah melupakan hari ini, aku akan balas dendam suatu saat nanti, batin Debora.