Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 68.


__ADS_3

Mencengkram.


STAK.


Roberto menarik kera baju Ervin sekuat mungkin. "Ahh... Bedebah ini."


"Hahaha... Apa anda marah?, Apakah sesulit itu untuk mengakuiku?."


"Tinggalkan putriku selagi aku masih berbicara baik-baik."


"Aku tidak bisa."


"Kenapa?."


"Karena putrimu sedang mengandung anak-anakku."


"Aku bisa mengeluarkan mereka dengan paksa jika itu bisa mengusirmu dari putriku." dari perkataan yang dikeluarkan Roberto tidak ada merupakan kebohongan.


"Hoo... Kalau begitu coba lakukan." Ervin melepaskan cengkraman Roberto pada kera bajunya. "Kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada mereka sedikit saja maka habislah hidupmu saat itu juga."


"Bocah, kamu pikir aku takut dengan ancaman remeh seperti itu?."


"...."


"...."


Mereka berdua saling bertatapan.


Ahh... Ini akan sulit, pria ini tidak memiliki keinginan untuk menyerahkan putrinya padaku. Walau di luar terlihat tenang, nyatanya Ervin sangat kesal di dalam karena tidak bisa melakukan apapun pada Roberto. Kalau aku membunuhnya bisa-bisa Asiah akan membenciku seumur hidup.


"Kamu lucu sekali."


"Hem?."


"Kamu pasti sedang berfikir untuk membunuhkukan?."


"Tentu saja tidak."


"Karena inilah kamu masih anak-anak. Enyalah dari kehidupan Asiah, dan juga kamu bisa mengunjungi cucuku kalau ada waktu itupun harus dengan persetujuanku."


"Kenapa aku harus?."


"Karena memang seperti itulah seharusnya, putriku terlalu lembut untuk bajingan sepertimu."


"Tidakkah anda terlalu keras?."


"Aku tidak keras, aku hanya melakukan ini khusus pada orang-orang sepertimu."


"Haha... Sepertinya anda sama saja dengan saya."


"Karena aku orang yang sama sepertimu makanya aku menjauhkan putriku dari orang sepertiku, Putriku yang cantik begitu sempurna dari atas sampai kebawah, begitu juga dengan kepribadiannya yang menawan seperti bunga mawar sehingga banyak menarik lebah mendekat.


"Tetapi, karena semua itu pula banyak bajingan nakal mendekatinya tanpa tahu malu kalau mereka itu hanyalah serangga."


"Oh begitu, tapi sayangnya putrimu yang sangat kamu cintai itu, secara tidak sengaja lewat di depanku sehingga membuat serangga sepertiku tidak bisa berpaling darinya....


"Dan juga putrimu yang manis mencari masalah dengan sendirinya padaku...." Ervin tersenyum mengejek pada Roberto.


Perang kata-kata terus berlanjut di depan jembatan kayu yang mereka lewati, pertanyaan sinis dan jawaban sinis saling menyinggung satu sama lain seolah-olah mereka tidak ingin kalah dalam perang kata tersebut.

__ADS_1


"Tsk, kita lihat saja kedepannya. Pria arogan sepertimu tidak akan pernah mendapatkan hati putriku walau hanya sebentar."


"Hoo... Sayang sekali anda tidak mengenalku." Lagi-lagi Ervin tersenyum mengejek, membuat Roberto hanya semakin kesal dan membencinya tanpa ampun. "Aku adalah tipe pria yang akan selalu di cintai oleh wanita manapun walau sedang duduk diam."


"Wah-wah... Bajingan ini!." Roberto hampir kehilangan kesabarannya, dan memukul Ervin hanya saja kalau ponselnya tidak menganggu.


BEZZZBEZZZ....


Ponsel Ervin berbunyi.


[ Istriku ]


"Ya?."


[ "Ada dimana kalian berdua?, Ibu sudah hampir selesai menyiapkan makan malam, kapan kalian akan kembali?." ]


"Tidak lama lagi."


[ "Kalau begitu cepatlah kembali dan... Apa pembicaraan kalian berjalan lancar?." ]


Ervin melihat kebelakang punggungnya, dimana Roberto sedang berjalan juga sambil menggerutu. "Sangat lancar..., Ayahmu sungguh orang yang mudah di tebak."


[ "Benarkah? Kalau begitu pulanglah, masih banyak hal yang perlu di bahas-." ]


"Upss... Aku lupa, Asiah...." Ervin membuat suaranya terdengar sangat manja. [ "Yah." ] Ervin sengaja membuat suaranya cukup kuat sampai batas bisa di dengar oleh Roberto di belakangnya yang sekarang sedang menatap tajam dirinya setelah dia mendengar nama Asiah.


Dia mengeluarkan godaan-godaan manisnya hanya untuk mempermainkan Roberto di belakangnya. "Kita sudah cukup lama bersama akhir-akhir inikan, jadi tidakkah kau ingin bermanja-manja malam ini?."


[ "....Apa kamu sudah gila?." ]


"Ya aku gila, aku tergila-gila padamu."


"Hallo?."


[ "Cepat kembali." ]


"Baiklah."


Sebelum mengakhiri panggilan, Ervin memberikan kecupan perpisahan di ponselnya.


"...."


"Ada apa Asiah?," Tanya Ema. "Wajahmu memerah, apa kamu terkena demam?."


"Nahh... Bukan apa-apa." Asiah memasukan ponselnya kedalam saku, mangambil lobak lalu memotongnya tipis.


"Itu ketipisan sayang."


"Ahh... Maaf, aku akan potong yang baru."


Asiah berjalan menuju kamar mandi lalu mencuci wajahnya. Terasa panas disini.


......🌸🌸🌸......


"Kalian sudah kembali."


"Ya... Bajingan ini menghabiskan kesabaranku," bentak Roberto kesal.


"Dimana Asiah?."

__ADS_1


"Sedang ada di dapur."


"Bagus, aku ingin berbicara dengannya, Asiah! Asiah? Ada yang ingin Ayah tanyakan padamu."


"Hem?." Asiah mengintip dari balik pintu kulkas.


"Ikut Ayah." Roberto menarik tangan Asiah lalu membawanya ke dalam kamar untuk berbicara empat mata tetapi Ervin langsung menghalanginya. "Epss... Bisa tidak anda tidak menyentuhnya seperti itu "


"Huh??? Apa-apaan bajingan ini, dia ini putriku, terserahku ingin melakukan pada putriku."


"Tapi sayangnya aku tidak menyukai idemu."


"Ahh.... Anak anjing ini-."


"Sepertinya pembicaraan kalian berdua berjalan lancar."


"TIDAK;" kata mereka serentak.


"Buktinyaa...."


"Lupakan itu dan menyingkir, aku ingin berbicara pada putriku." Dominasi besar terpancar dari diri Roberto yang mengklaim hak atas putrinya.


"Tsk."


"Ervin kamu duduk saja bersama ibu, aku akan berbicara pada Ayahku sebentar."


"Tapi-."


"Tidak perlu meminta izin darinya."


Roberto menarik tangan Asiah masuk kedalam kamar.


Di dalam kamar, Roberto langsung memeluk Asiah, air matanya mengalir membasahi pundak putrinya itu. "Ayah... Ada apa?."


"Uungh- tidak... Kenapa harus bajingan itu, kamu bisa memilih pria lain tapi kenapa harus dia...." Roberto menangis seperti anak kecil, dia menuangkan semua kekesalan yang dia lalui sepanjang perjalanan bersama Ervin beberapa waktu yang lalu.


Asiah yang melihat itu tertawa kecil, dia mengatakan kepada Ayahnya bahwa dia tidak perlu menghawatirkan dirinya. "Ervin memang terkadang seperti itu... Bagaimana bilangnya yah...." Asiah menggaruk kepalanya pelan dia bingung bagaimana menjelaskan Ervin melalui sudut pandangnya.


"Hahh.... Intinya Ayah tidak perlu khwatir. Aku bisa menjaga diriku baik-baik dan juga... Akukan punya Ayah, jika sesuatu terjadi padaku Ayah bisa melakukan apapun yang Ayah inginkan padanya." Asiah memeluk Ayahnya erat, dia mengusap tangannya di punggung Roberto untuk memberikan ketenangan disana.


"Snif... Putriku...." Roberto membalas pelukan Asiah dia terus mengatakan untuk menyingkirkan Ervin sesegera mungkin dari kehidupannya. Roberto merasa sangat jijik setiap kali dia mengingat godaan-godaan yang keluar dari mulut Ervin di jalan ketika pulang dari supermarket.


"Sudah-sudah... Sekarang kita keluar dulu, masakan Mama pasti sudah matang."


"Tapi-."


"Ayah."


Dengan berat hati Roberto mengikuti kemauan putrinya, mereka keluar dari dalam kamar walaupun suasana hati Roberto masih bermasalah. Dia hanya semakin kesal ketika melihat Ervin yang terlihat bersahabat dengan istrinya di dapur, sambil menata piring di meja mata Ervin melihat Roberto lalu tersenyum mengejek disana. "Ahh... Brengsek itu-."


"Hem? Apa Ayah mengatakan sesuatu?."


"Tidak, tidak ada," kata Roberto mengepalkan tangannya.


"Kalian sudah selesai berbicara." Ervin menghampiri Asiah, dia menarik kursi didepan meja lalu membimbing Asiah untuk duduk disana. "Apa yang kalian bicarakan?," Bisik Ervin.


"Penasaran?."


"Iya."

__ADS_1


"Huhh...," Asiah menghembuskan nafasnya kasar, dia juga mulai berfikir bagaimana bisa Ervin selalu menjawabnya terus terang seperti yang selalu dia lakukan selama ini.


__ADS_2