
Sejak dulu Asiah tahu bahwa lingkungan keluarganya sejak awal tidak seperti lingkungan keluarga baik pada umumnya. Meski keluarganya harmonis dan tidak terlihat punya musuh nyatanya Asiah selalu di buntuti 24 jam setiap harinya untuk mengawasi dan melindunginya oleh seseorang yang dia anggap sebagai suruhan Ayahnya sejak kecil.
Hal yang sama juga berlangsung untuk pihak keluarga ibunya, setiap kali Asiah mengunjungi rumah kakeknya di jepang Asiah akan selalu di suguhkan pemandangan kelompok Yakuza atau organisasi milik keluarga pihak ibunya yang berkeliaran di sekelilingnya.
Hal semacam itulah yang menjadi salah satu alasan Asiah memilih untuk pindah kewarga negaraan untuk mengganti lingkungan hidupnya yaitu jauh dari Mafia atau Yakuza.
Ditambah mantan kekasihnya yang dia ingat menjadi pemimpin salah satu organisasi besar di Jerman menambah niat Asiah untuk segera pindah negara dan segera menjalani hidup damai walau kenyataanya dia bertemu terlibat masalah dengan Ervin yang juga dia anggap memiliki jenis yang sama dengan mantan kekasihnya dulu.
Kembali ke topik utama. Asiah tidak tahu akan semarah apa kakeknya yang ada di jepang. Asiah Rosen adalah satu-satunya cucu perempuan di keluarga ibunya, dia telah mendapat cinta dan kasih sayang yang berlebihan dari kakeknya sejak masih balita sehingga Asiah bisa menebak apa yang akan terjadi pada sepupunya jika berita ini sampai ke pihak kakeknya.
Haiss... Ini akan jadi masalah besar. Asiah memang marah pada Tera yang mendorongnya namun tetap saja dia tidak ingin semua kelurga pihak pamanya menghilang dalam semalam, ketika hanya satu orang yang berbuat buruk padanya.
"Ma kita pulang saja, aku sudah lelah." Asiah mengunakan alasan lelah untuk menyudahi pertengkaran itu dan memang benar saat ini dia sudah kelelahan, untungnya Ayah dan Ibunya tidak mengabaikan permintaan Asiah sehingga ayahnya memutuskan untuk menyudahi masalah ini dan melanjutkannya lagi nanti.
"Terima kasih pada putriku nyawamu tidak melayang untuk saat ini." Suara Roberto terdengar tenang namun nada mengancamnya masih sama.
"Laura aku duluan, maaf telah menganggu acara bahagiamu Laura."
"Hikss... Tidak masalah paman, aku-aku baik-baik saja." Laura yang merupakan tokoh utama hari itu memaklumi permintaan maaf Roberto.
"Asiah terima kasih." Laura mengucapkan kalimat itu setulus hatinya. "Jika tidak ada kamu aku tidak akan tahu hal ini." Air mata Laura masih membasahi pipinya.
"Aku tidak melakukan apapun, kalau begitu kami pergi dulu." Asiah sengaja menggandeng tangan Ayah dan Ibunya lalu berjalan menuju pintu keluar. Dia melakukan itu supaya perkelahian tidak berlanjut.
"Ya ampun... Sekarang kehidupan tera tampaknya akan segera hancur." Mereka yang menyaksikan kejadian itu mulai berbisik. Kenyataan bahwa perselisihan tidak akan bisa dihindari membuat Asiah sedikit cemas karena dia secara tidak sengaja telah menciptakan kekacawan ini.
"Ma... Aku sangat lelah."
"Iya kita akan segera pu- tidak!, Kita akan kerumah sakit sebentar untuk melakukan pemeriksaan.
"Robert! Kamu lihat sendirikan kalau j-lang itu mendorong putrimu!." Dendam dan amarah masih berkobar di wajah Ema yang tidak bisa diam.
"Aku tahu, kita akan periksa dulu... Ngomong-ngomong Asiah." Roberto menyalakan mesin mobilnya sambil berbicara. "Siapa yang menolongmu tadi, Ayah melihatnya di rekaman Cctv tapi tidak bisa melihat wajahnya."
Asiah terdiam sejenak.
"Nak?."
"Ahh... Itu ... Aku juga tidak tahu siapa dia ." Asiah bohong, jelas-jelas Asiah melihat wajah yang tersenyum hangat di balik kacamata itu tapi tidak berani mengatakan kepada Ayahnya.
"Hahh...."
__ADS_1
Itu tidak mungkin dia, perjanjian sudah berakhir dan sebulan sudah sejak aku mengahiri komunikasi dengan mereka.
"Sayang apa kamu masih sangat lelah?." Sepanjang perjalanan Ema tidak bisa berhenti khawatir dengan kondisi putrinya. "Mama minta maaf." Suara Ema terdengar bergetar.
"Jika saja Mama ada disana maka-."
"Tidak perlu bersedih, kalau aku memang sedang sial hari ini maka walaupun Mama di sekitarku kejadian ini akan tetap terjadi."
"Ya kamu benar, tapi setidaknya Ayah bisa langsung menembak wajah perempuan sial itu ketika dia mendorongmu.
"Terima kasih pada orang yang menangkapmu, Ayah berhutang nyawa padanya."
"Kamu benar, Mama ingin bertemu dengan dia yang menolong kamu, Mama harap bisa bertemu dengan dia suatu saat nanti."
Kalimat terakhir Ema mengahiri percakapan digantikan keheningan sampai rumah sakit, bahkan setelah Asiah melakukan pemeriksaan.
"Ibu dan Bayi dalam kandungannya baik-baik saja, perhatikan keadaanya setiap saat."
"Kami mengerti."
Setalah pemeriksaan berakhir mereka kembali kerumah. "Ayah akan pergi sebentar, Ema jaga Asiah aku akan pulang dua hari lagi." Roberto mencium kening istri dan putrinya lalu berjalan masuk keruang bawah tanah.
Mengambil tas besar berwarna hitam lalu berjalan keluar dari pintu sambil menenteng tas besar itu dipundaknya.
"Bekerja."
Menutup pintu.
"Apa yang akan Ayah lakukan?."
"Nahh... Palingan Ayahmu akan mengila malam ini." Jawab Ema singkat.
"Apa Mama Akan Membiarkannya Begitu Saja?!."
"Tentu, mereka layak mendapatkan itu." Ema tersenyum padanya yang Asiah anggap sebagai senyum cantik paling mengerikan yang pernah di tunjukan oleh Ibunya.
"Mama-."
"Sudah cukup, kamu harus beristirahat seperti yang dokter anjurkan." Ema tidak mau lagi mendengarkan keluhan putrinya sehingga dia langsung menarik Asiah masuk kedalam kamar, menganti pakiannya lalu menyelimutinya di atas kasur empuk.
"Tidurlah malam ini dan semuanya akan baik-baik besok." Asiah senang mendapat perhatian berlebihan dari ibunya tapi rasa tidak nyaman karena diperlakukan seperti anak kecil yang belum dewasa terkadang membuat Asiah tidak nyaman dan ingin memberontak.
__ADS_1
"Ma-."
"Diamlah dan tidur."
"Aku mengerti."
"Mama harap kamu mengerti mengapa Ayah dan Mama melakukan ini padamu."
"...."
"Selamat malam." Setelah menemani putrinya beberapa saat Ema keluar dari kamar.
[ Menghubungi.... ]
[ "Nani O ne-san?" ]
"Juro ga watashi o chichi ni tsunaide kuremasu" (*Juro hubungkan aku pada Ayah.)
[ "Nannotameni?" ] (*Untuk apa?.)
"Tada setsuzoku suru dake." (*Sambungkan saja.)
[ "Wakatta ... Papa! Onisan ga anata to hanashitai sodesu." ] ( Papa! Kakak ingin berbicara denganmu.)
"...."
Sambungan yang dihubungkan dengan adik laki-lakinya di berikan kepada Ayahnya.
[ "...." ]
"Papa, oidashitai hito ga iru no." (*Papa ada orang yang ingin aku lenyapkan.)
[ "Jibun de yare" ] (*Lakukan Sendiri.)
"Anata no magomusume wa korosa re-sO ni natta." (*Cucu perempuanmu hampir dibunuh.)
[ "AAAARG-." ]
Ema mengakhiri panggilan setelah mendengar Ayahnya berteriak. Ini bagus, siapapun yang macam-macam dengan keluargaku maka akan berakhir mengerikan. Setelah itu Ema kembali ke kamarnya untuk melakukan beberapa hal yang harus dia lakukan selama suaminya pergi.
Didalam kamar.
__ADS_1
"Huhh... Ini buruk... Sangat buruk, mereka semua sudah kehilangan kendali." Asiah merasa frustasi, masalah yang seharusnya bisa di selesaikan damai kini akan terlihat seperti perang saudara.