Bayi Kembarku Dari Boss Kejam

Bayi Kembarku Dari Boss Kejam
Chapter 61.


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


Di kediaman Alvaro tepatnya di sebuah ruang makan terjadi tontonan yang tidak biasa.


"Ervin apa kau sedang ngidam?," Tanya Angel.


"Hem??? Kau ini bicara apa?."


"Itu—"


"Sayang apa kamu tidak merasa asam?!," Tanya Janet.


"Kenapa kalian ini?, Akukan hanya memakan buah mangga biasa, kenapa wajah kalian jadi heboh seperti itu." Ervin menggelengkan kepalanya, lalu kembali memakan mangga muda yang telah di bersihkan oleh pelayan sambil melihat layar ponselnya, mengamati pergerakan Asiah dari kamera tersembunyi.


"Ervinn... Akhir-akhir ini kamu jadi angkat aneh, Sungguh! Ini membuatku seram!, Kamu bukan hanya membelikanku pakaian dalam dan box bayi tapi ngidam juga!!!."


Ervin berhenti mengunyah mangga, lalu menatap kakaknya. "..., Apa kau menyentuh kotak paketku?."


"Hug— itu...," Angela melihat ibunya bersamaan.


Pembulu darah mulai mencuat. ".... Buang semua barang-barang yang ada di kamarku!," Kecam Ervin.


"AP— SAYANG!."


Ervin berdiri dari kursinya, terlihat jelas wajah kesal sekaligus marah di sana. "AKU SUDAH BILANG JANGAN PERNAH MENYENTUH BARANG-BARANGKU...!"


"Ervin bukan begi—."


"Ahh... Ini membuatku darah tinggi."


"Ervin bernafaslah perlahan, ibu dan kakakmu tidak sengaja membuka kotak paketmu. Yah, ibu akui kesalahan ibu tapi jangan langsung emosian seperti itu na—."


"Alasan ibu saj— Huhhfff.... Intinya aku ingin semua barang-barang itu di buang. Jangan sampai aku melihat satupun barang itu ada di kamarku ketika aku kembali kema—"


BEZZZZZT....


Ervin berhenti berbicara ketika ponselnya bergetar di dalam saku celananya. "Tsk, siapa lagi seka—."


[My Wife memanggil....]


"Erv—."


"Diam."


"...."


"...."


"Kalian tidak makan?," tanya Jefry sambil mengunyah makanan.


"Ehem... Ehem...."


Mengangkat Telefon.


"Yah?."


"PFFFTT—."


"???."


"Barusan—."


"Ada apa?."


[ "Hei! Siang ini ayo kita berkencan!." ]

__ADS_1


"Huh??? Berken...can?."


[ "Iya! Ayo berkencan siang ini! Ada tempat yang ingin aku kunjungi! Kapan kamu akan kembali? Apa kamu masih sibuk? Kalau tidak bisa mungkin—." ]


"Aku tidak sibuk."


[ "Oh..., kalau begitu cepatlah! Aku akan menunggumu di rumah." ]


"I-iya, aku akan segera kesana."


[ "Kalau begitu sudahyah, aku tutup dulu telefonnya." ]


"Iya."


TUTTT....


"...."


[Pangilan di akhiri....]


"Ervin kamu baik-baik saja?, Siapa yang menghubungi kamu barusan? Apa yang kalian bicarakan? Ibu dengar kamu akan berkencan dengan seseo—."


"Bukan urusan ibu."


"Apa?."


"Ibu banyak pertanyaan. Aku pergi dulu," ketus Ervin. Dia segera berlari keluar dari ruang makan menuju garasi mobilnya. Sedangkan di ruang makan Janet terdiam sebentar sedangkan Angela tidak bisa menutupi mulutnya.


"Kenapa kalian diam? Cepat habiskan makanannya, jika sudah dingin rasanya akan berkurang," kata Jefry.


"Jefry...."


"Ya sayang?."


"Tidak Ratuku, aku tidak menyembunyikan apapun darimu," kata Jefry bersungguh-sungguh.


"Lalu bagaimana dengan putra—."


"Kamu tidak perlu khwatir."


"Kawatir apa?, Sebenarnya apa yang Ayah sembunyikan selama ini? Ayah sepertinya tahu sesuatu mengenai perubahan sikap Ervin dan AKU! .... AKU INGIN TAHU ALASAN ITU SEKARANG JUGA."


"Tsk tsk tsk.... Kalian para wanita tidak sabaran, kenapa tidak bertanya langsung pada Ervin?."


"Ayah pikir dia akan memberitahu kami dengan suka rela? Ayah tolonglah! Beritahu kami apa yang terjadi padanya, aku mohon... Ayah," sujud Angela.


"Angela! Kamu tidak boleh seperti itu sayang! Bagaimana jika Jeremi melihatnya nanti?!."


"Jeremi sudah masuk kedalam kamarnya jadi tidak ada yang perlu ibu khwatirkan. SEKARANG!." Angela menatap tajam Ayahnya yang bertatapan langsung dengan dia. "Aku ingin tahu apa yang membuat bajingan sial itu menjadi aneh A-Y-A-H."


"Huhh...." Jefry meletakan kedua sendoknya di atas piring. "Ibu dan anak sama saja."


"Apakah Ayah akan berbica—."


"Ervin .... Ervin, anak itu.... Dia sudah—."


"Sudah apa?."


"Dia sudah...."


"AYAH CEPATLAH!." Jefry menutup matanya, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Anak itu sudah punya orang yang dia cintai sekarang."


Sunyi.


Keheningan singkat.

__ADS_1


Kemudian keduanya berteriak histeris.


"APA?!!!!."


"APAAA— AYAH TIDAK SALAH BIL—."


"Aku tidak salah. Aku juga awalnya sama seperti kalian ini tapi percayalah, kalian akan lebih terkejut saat melihat Ervin dengan gadis itu ... Tidak, lebih tepatnya calon menantuku itu," senyuman tebal terukir di bibir Jefry.


"Ini ... Ini... Ini tidak benar! Anak itu—."


"Kamu pasti salah Jefry. Kamu sepertinya sudah lupa dengan apa yang telah terjadi akhir-akhir ini, selama ini Ervin hanya bermain-main saja!, Mana mungkin dia tiba-tiba saja menyukai—."


"Itu mungkin kalau yang dia sukai adalah seorang Dewi.... Kamu tahu, setelah melihat putramu akhirnya aku berhasil mendapatkan kalimat ini. ' Orang Jahat Sekalipun Akan Berubah Menjadi Baik Jika Bertemu Dengan Orang Yang Benar. ' kalau tidak salah seperti itulah yang dikatakan," gumam Jefry.


"Aku Masih Tidak Percaya!."


"Kalau begitu apakah kamu mau melihatnya secara langsung?."


"Iya, aku mau melihatnya secara langsung!."


"Aku juga... Aku ingin melihatnya secara langsung."


"Baiklah."


Jefry mengambil ponselnya dan membuka GPS. Di bisa melihat dua titik merah yang sedang bergerak dan titik hitam yang diam di tempatnya. "Kalian siap-siaplah. Kita akan pergi ingalah jangan sampai kalian melakukan sesuatu yang tidak di sukai Ervin.


"Asal kalian tahu saja, untuk yang satu ini Ervin cukup sensitif dan sangat Overprotektif."


Putri dan Istrinya mengangukan kepala mereka bersamaan. Mereka setuju dengan persyaratan yang di katakan oleh Jefry. Jefry mengunakan telunjuknya untuk memanggil pelayan. "Panggil Zaki dan suruh dia untuk menyiapkan kendaraan."


"Apa perlu sampai seperti itu Ayah?."


"Iya, terakhir kali Ayah mengikuti mereka dengan mobil yang sama dua kali, Ayah hampir saja jatuh kedalam jurang."


"Wau... Benar-benar ciri khas Ervin."


"Karena itu, kalian diam saja dan ikuti aku mengerti."


"Yap.... Kami mengerti."


"Kami mengerti!."


Entah kenapa aku merasa kami sedang bermain permainan detektif, batin Angela.


***


Di perjalanan menuju rumah Asiah, jantung Ervin terus berdebar-debar. Ini pertama kalinya dia mengajakku berkencan duluan. Senyuman tak henti lepas dari bibirnya setiap kali mengingat ucapan Asiah beberapa waktu yang lalu. Ervin melirik keluar jendela mobilnya, hujan yang tadinya turun cukup deras kini hanya tersisa rintikan hujan saja.


"Nampaknya hujan memihak pada kami," gumamnya. Ervin membayangkan kencan seperti apa yang akan dia lalui bersama wanita yang sedang mengandung anaknya itu. Pasti menyenangkan.


Sesampainya di depan rumah. Ervin bergegas turun dari kendaraannya dan masuk kedalam rumah. "HEI! ASIAH APA KAU SUNGGUH AKAN BERKENCAN DENGAN—." Ervin terdiam. Di lihatnya sosok wanita cantik sedang mengikat rambut panjangnya di depan cermin besar.


"Oh, kamu sudah sampai rupanya." Asiah membalikan badannya menghadap Ervin di belakangnya. "Lama sekali, aku sudah menunggumu sejak tadi," gerutu Asiah.


"Ap-apa yang kau inginkan."


"Tidak banyak. Ayo jalan-jalan, aku sangat bosan dirumah.... Ada tempat yang ingin aku kunjungi!," kata Asiah penuh semangat.


"K-kalau begitu biarkan aku menganti pakaian terlebih dahulu, baru setelah itu kita per—."


"Tidak mau. Aku maunya sekarang!."


"Tapi aku belum—."


"Kamu sudah sudah tampan walau hanya mengenakan pakaian rumah, apa lagi yang perlu di permak?."

__ADS_1


__ADS_2