
"Ervin Tenanglah!."
Angela berdiri di tengah-tengah antara Ervin dan Olivia. Jefry juga menarik tubuh Olivia kebelakang dan menyembunyikannya di balik tubuh besarnya kemudian, Janet menghampiri Ervin dan memeluknya dari belakang ketika Ervin mengusap bibirnya kasar.
Tangan kanan Ervin menyentuh lehernya yang menengang dan menekan jari-jarinya di sana sampai terlihat sedikit darah keluar dari bekas kukunya. "Hahaha...." Ervin mulai tertawa, pandanganya melihat Olivia seperti predator yang lapar akan mangsanya.
"Pesta ini sudah selesai. Yuko," Jefry memanggil salah satu pengawalnya dia masih tidak melindungi Olivia di balik badannya.
"Ya Tuhan Besar."
"Segera perintahkan pada pengisi acara untuk membubarkan tamu. Pesta ini sudah selesai dan bawa Nona Olivia pergi dari kediaman ini. Perintahkan beberapa bawahanmu untuk menjaganya selama beberapa Minggu."
"Siap Tuan." Yuko berjalan menjauh dari kerumunan. Dia berbisik pada pengisi acara yang langsung segera membubarkan kerumunan tamu. Banyak tamu yang tidak senang dengan acara yang tiba-tiba di hentikan namun mereka tidak punya pilihan dan pergi dari kediaman Alvaro dengan tentram.
"Ugh- Tuan Alvaro apakah semuanya baik-baik saja?," Tanya Olivia dari balik punggung Jefry. Jefry yang melihat raut wajah cemas Olivia tersenyum lembut.
"Tidak ada masalah, nampaknya kami hanya akan melakukan sedikit tindakan pencegahan."
"Heh?."
"Kamu tidak perlu tahu, cepat pergi dengan Yuko yang ada di sana," Jefry menunjuk kearah Yuko yang berdiri sambil menganggukkan kepalanya kehadapannya.
"Kamu akan baik-baik saja untuk sementara."
"A-apa aku malakukan suatu yang salah?."
"Tidak... Cepatlah pulang, Maaf karena sifat putraku yang keterlaluan, sebagai Ayahnya aku merasa malu padamu karena itu aku akan meminta maaf mengantikan putraku," Jefry membungkuk sedikit pada Olivia yang masih binggung dengan situasi.
Pada akhirnya Olivia di bawa pergi oleh Yuko mereka pergi dengan pengawal lain yang mengikuti Yuko dari belakang. Setelah memastikan bahwa semua orang pergi dari kediaman, Jefry kembali menghampiri istri dan anak-anaknya.
"Ervin tenangkan dirimu."
"Tutup mulutmu pak tua. Jika kau masih ingin hidup lebih lama."
"Tsk. Bajingan ini...."
"Ervin tenanglah, Ibu memohon padamu,"Janet masih tidak melepaskan pelukannya pada tubuh Ervin. "Hahh... Ibu, apakah ini semua ide ibu?."
"Ervin ini semua tidak terduga!." Angela juga panik.
Ervin memiringkanya kepalanya kesamping dan menatap tajam Angela. "Tidak terduga? Apa kalian merencanakan sesuatu yang tidak aku ketahui?." Ervin melepaskan tangan Janet yang memeluknya.
"Hahaha.... Jangan khawatir aku tidak akan membunuhnya sekarang." Ervin melihat kearah Ayahnya. "Aku tidak sebodoh itu untuk melukai j-Lang menjijikan itu sekarang."
Ervin menegakan tubuhnya kemudian dia melonggarkan dasinya mengambil saputangan dari sakunya lalu menekan saputangan pada luka di lehernya. Aku akan membiarkannya hidup untuk sementara, setelah itu aku akan menyiksanya sampai mati. Setelah menyeka darah dari lehernya Ervin menepis tangan Angela yang khawatir dan hampir menyentuh kulitnya.
__ADS_1
"Jangan menyentuhku!."
"Aku hanya ingin membantu."
"Tidak di butuhkan."
"Apa kamu akan segera pergi Ervin?."
"Kemana kau akan pergi."
Keluarnya menatap Ervin. Mereka cemas akan apa yang akan di lakukan oleh Ervin setelah kejadian barusan. "Aku akan pergi ke klub Adrian untuk menenangkan diri. Jangan khawatir aku tidak akan membunuh wanita itu sekarang.
"Setidaknya lakukan sesuatu pada media sosial artis itu dan hapus semua berita tentangku hari ini."
"Apa itu termasuk soal dirimu yang berlari gila di dalam rumah sakit?,"tanya Jefry.
"Lakukan saja apa yang di perlukan, aku tidak ingin gambar wajahku menjadi pembicaraan orang-orang konyol." Ervin keluar dari pintu rumah, dia melewati pelayan yang menunduk padanya dan berjalan menuju parkiran.
"...."
Ervin mengambil ponselnya ketika masuk kedalam mobil, dia menghubungi Adrian.
[ Adrian.
"Tutup mulutmu, aku akan segera kesana."
[ 'HAUAHHA... BA-BAIKLAH AHAHAHA.... ' ]
"...."
Ervin melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, pandangan sudah terlihat sangat dingin dan tidak ada ekspresi di sana. Aku akan kerumah sakit nanti saja setelah aku meluapkan kekesalan ini nanti.
***
Pukul 11:17. Malam.
BUMBUMBUM....
NANANNNAN....
Suara musik terdengar sangat keras dari dalam ruang bawah tanah sebuah bar yang terletak tak jauh dari ikon kota Paris. Di ruang bawah tanah terdapat sebuah klub malama mewah yang begitu luas. Rata-rata orang yang hadir di tempat itu adalah artis dan orang-orang terkenal lainnya.
Dan di antara itu semua seorang Ervin pria tampan, tinggi, yang terlihat sempurna dari segala sisi terlihat sedang meneguk sebotol minuman whiskey seorang diri.
"Huhhff...." Ervin melepaskan semua kekesalannya dengan meminum berbagai minuman keras di atas meja. "Tak tsk tsk. Lihatlah dirimu, Ervin pulanglah atau tidak beristirahat sana, kau sudah minum banyak whiskey dan alkohol.
__ADS_1
"Aku tidak bisa melakukan apapun nanti kalau kau memutuskan untuk membunuh seseorang," Adrian duduk tepat di depan kuris Ervin.
"Kau sangat berisik."
"Hahh... Pfftt- ah, maaf aku tidak bermaksud untuk menertawakanmu tapi, ini lucu karena seorang wanita yang lebih muda darimu Tujuh Tahun melamarnya di acara Ulang Tahun Ibumu.
"Aku hampir memuntahkan air di mulutku saat melihat video itu." Bahkan sampai sekarangpun aku masih berusaha untuk menahan tawaku. Adrian mengambil botol kosong yang ada di depan meja.
"Ervin, tadi pagi... Apakah berita tentang kamu yang berlari liar di rumah sakit itu benar?."
"Hah...! Sepertinya Julius masih belum mengurus masalah itu," Ervin tersenyum ketus sambil meneguk alkohol lagi.
"Julius?, Dokter jenius itu?."
"Aku dengar dia sedang tidak ada di negara ini beberapa hari yang lalu, aku dapat kabar kalau dia baru pulang ke Prancis beberapa jam yang lalu.
"Tapi anehnya aku tidak menemukan dia acara ulang tahun ibumu. Apa kamu melakukan sesuatu padanya?."
"Nahh... Aku hanya menyuruhnya untuk merawat Asiah yang sedang sakit."
".... Apa?."
"Apa kupingnya bermasalah?!."
"...."
Ervin menepuk daun telinganya berulang-ulang, untuk memastikan pendengarannya berkerja dengan baik. Apa aku salah dengar?. Adrian merinding di sekujur tubuhnya.
"Ehem."
Bagaimana bajingan ini bisah tahu kalau gadis itu sedang— Ah~ jadi itu alasan dia berlari liar di rumah sakit di pagi hari!.
Adrian melihat Ervin yang masih meminum alkohol, dia telah tahu bahwa Ervin adalah seseorang yang hebat dalam hal minum, mau berapa gelaspun dia akan menghabiskan asalkan suasana hatinya membaik.
"Hei!."
"Yah?."
"Bawakan aku wanita secepatnya."
".... Kau serius?."
"Yah, cepat bawakan aku wanita yang memiliki rambut hitam legam dan tubuh mungil kira-kira setinggi seratus lima puluh enam centi meter."
"..., Bukankah wanitamu saat ini sedang ada di rumah sakit katamu barusan?." Adrian melihat Ervin dengan tatapan yang aneh, ciri-ciri yang di katakan oleh Ervin barusan adalah ciri-ciri Asiah, wanita yang telah membuat temannya menjadi orang yang sangat berbeda.
__ADS_1